WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Sentimen konsumen Amerika Serikat merosot tajam pada bulan Maret ke level terendah sepanjang tahun ini. Rumah tangga di seluruh negeri kini mulai berjuang menghadapi dampak ekonomi dari perang yang sedang berlangsung antara AS-Israel melawan Iran.
University of Michigan merilis data awal pada hari Jumat yang menunjukkan Indeks Sentimen Konsumen jatuh ke angka 55,5. Angka ini merosot dari pembacaan akhir Februari sebesar 56,6 dan 2,6 persen lebih rendah daripada posisi Maret 2025. Akibatnya, optimisme publik yang sempat tumbuh sebelum konflik kini telah sirna sepenuhnya.
Harga Bensin Memicu Pessimisme Massal
Direktur survei Joanne Hsu mencatat bahwa wawancara awal sebenarnya menunjukkan adanya penguatan ekonomi. Namun, sentimen melemah secara drastis setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye militer pada 28 Februari lalu. Dalam hal ini, kenaikan harga bensin menjadi faktor yang memberikan dampak paling cepat bagi pengeluaran rumah tangga.
Oleh karena itu, Indeks Ekspektasi Konsumen turun lebih tajam dari 56,6 menjadi 54,1 pada bulan ini. Penurunan ini memberikan sinyal kuat mengenai tumbuhnya pesimisme terhadap masa depan ekonomi nasional. Bahkan, ekspektasi keuangan pribadi menurun secara luas sebesar 7,5 persen di seluruh tingkat pendapatan, kelompok usia, dan afiliasi politik.
Ancaman Inflasi Energi yang Menetap
Ekspektasi inflasi untuk tahun depan kini stabil di angka 3,4 persen. Kondisi ini secara otomatis menghentikan tren penurunan inflasi selama enam bulan berturut-turut. Meskipun demikian, angka tersebut tetap jauh lebih tinggi daripada rata-rata sebelum pandemi COVID-19.
Terlebih lagi, pasar energi dunia yang terus mengetat akan memberikan tekanan tambahan pada harga gas di masa depan. “Pengetatan pasar energi global kemungkinan besar mendorong ekspektasi inflasi secara keseluruhan ke tingkat yang lebih tinggi,” tegas Hsu. Dengan demikian, konflik di Timur Tengah memberikan ancaman serius terhadap daya beli masyarakat Amerika Serikat jika tidak segera mereda.
Tekanan pada Sektor Manufaktur dan Jasa
Meskipun Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini naik tipis menjadi 57,8, angka tersebut masih 9,4 persen lebih rendah daripada tahun lalu. Secara simultan, ketidakpastian pasokan energi mulai mengganggu rencana investasi perusahaan domestik. Banyak sektor jasa juga melaporkan penurunan kunjungan konsumen akibat biaya hidup yang kian membengkak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada akhirnya, pemerintah menghadapi tantangan ganda yaitu membiayai operasi militer sembari menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Sentimen konsumen yang lemah biasanya menjadi indikator awal bagi penurunan belanja publik yang dapat memicu resesi. Oleh sebab itu, administrasi Trump harus segera menangani keresahan ekonomi domestik agar dukungan terhadap kebijakan luar negerinya tidak semakin terkikis.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















