Guncangan Global di Afrika: Menlu Afsel Peringatkan Ancaman Krisis Pangan dan Energi

Sabtu, 14 Maret 2026 - 15:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Efek domino perang Iran. Menteri Luar Negeri Afrika Selatan memperingatkan bahwa konflik AS-Israel-Iran mulai mengancam ketahanan pangan dan stabilitas energi bagi 380 juta warga di kawasan SADC. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Efek domino perang Iran. Menteri Luar Negeri Afrika Selatan memperingatkan bahwa konflik AS-Israel-Iran mulai mengancam ketahanan pangan dan stabilitas energi bagi 380 juta warga di kawasan SADC. Dok: Istimewa.

PRETORIA, POSNEWS.CO.ID – Menteri Luar Negeri Afrika Selatan, Ronald Lamola, memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik global mulai menekan pasar pangan dan energi di seluruh Afrika bagian selatan. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini menjadi sumber utama tekanan ekonomi bagi negara-negara tetangga.

Dalam konteks ini, Lamola menyampaikan pidatonya di hadapan Dewan Menteri Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC) di Pretoria. Ia menegaskan bahwa guncangan ekonomi akibat perang tersebut sudah mulai menyentuh lapisan masyarakat terbawah di kawasan tersebut.

Ancaman Harga Pupuk dan Ketahanan Pangan

Konflik di Timur Tengah yang bermula pada akhir Februari lalu telah mengganggu rantai pasok global secara sistemik. Serangan terkoordinasi AS dan Israel ke situs strategis Iran memicu aksi balasan yang meluas ke seluruh kawasan. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak dan berdampak langsung pada biaya produksi pertanian.

Lebih lanjut, Lamola menyoroti bahwa kenaikan harga pupuk akan segera mendorong harga pangan ke tingkat yang lebih tinggi. Kondisi ini tentu saja membahayakan ketahanan pangan bagi banyak negara di Afrika bagian selatan. Oleh sebab itu, krisis energi di Teluk Persia bukan lagi sekadar masalah jarak jauh, melainkan ancaman nyata bagi meja makan penduduk Afrika.

Pemulihan Pasca-Pandemi dan Beban Utang

Banyak negara anggota SADC menghadapi guncangan eksternal ini saat mereka masih berjuang memulihkan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19. Bahkan, sebagian besar negara di kawasan tersebut masih memikul beban utang yang sangat tinggi. Oleh karena itu, kenaikan biaya hidup akibat perang Iran dapat memperlambat proses pemulihan ekonomi nasional secara signifikan.

Dalam hal ini, Lamola menekankan bahwa kedaulatan pangan menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar lagi. Tekanan geopolitik ini memaksa negara-negara SADC untuk mengevaluasi kembali ketergantungan mereka pada impor energi dan bahan baku pertanian dari luar benua. Sebagai hasilnya, stabilitas politik kawasan kini bergantung pada kemampuan setiap negara dalam mengelola inflasi yang diimpor dari konflik global tersebut.

Baca Juga :  Seni Manajemen Panggung di Instagram: Mengapa Kita Selalu Ingin Terlihat Sempurna?

Solusi: Industrialisasi dan Kerja Sama Regional

Sebagai langkah mitigasi, Lamola mendesak penguatan kerja sama regional dan percepatan industrialisasi. Ia percaya bahwa membangun ekonomi yang lebih tangguh adalah satu-satunya jalan untuk melindungi lebih dari 380 juta orang di kawasan SADC. Dengan demikian, integrasi ekonomi antarnegara anggota harus segera bergerak dari sekadar wacana menuju implementasi nyata.

Pada akhirnya, krisis ini menjadi pengingat pahit bahwa anarki internasional selalu mengorbankan pihak yang paling lemah secara ekonomi. Oleh sebab itu, Afrika Selatan berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya de-eskalasi di Timur Tengah. Secara simultan, SADC akan fokus pada penguatan kemandirian energi dan pangan guna menghadapi ketidakpastian dunia yang kian meningkat di tahun 202

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis
Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:30 WIB

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Berita Terbaru

Gebrakan baru pasar monitor premium. TCL merilis monitor OLED+ Pro X3B berlayar 32 inci 4K 240Hz dengan fitur Dual Mode 480Hz. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

TCL Resmi Meluncurkan Monitor Gaming OLED+ Pro X3B

Jumat, 31 Jul 2026 - 13:37 WIB

Solusi gaming 1080p hemat energi. AMD merilis GPU Radeon RX 9050 berarsitektur RDNA yang hanya mengonsumsi daya 92 Watt. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

AMD Resmi Meluncurkan Kartu Grafis Radeon RX 9050

Jumat, 31 Jul 2026 - 10:00 WIB

Bencana dahsyat di barat daya Jepang. Gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, merenggut 14 nyawa warga dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

14 Warga Meninggal dan Ledakan Mal Picu Krisis

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:30 WIB

Bocoran unik gawai Microsoft. Seorang pengguna internet mengaku menemukan dan menguji prototipe Surface Laptop Ultra bertenaga APU NVIDIA RTX Spark N1X. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Netizen Temukan Prototipe Surface Laptop Ultra di Pinggir Jalan

Jumat, 31 Jul 2026 - 09:16 WIB