PARIS, POSNEWS.CO.ID – China dan Amerika Serikat bersiap menggelar perundingan ekonomi dan perdagangan tingkat tinggi di Perancis pada 14-17 Maret mendatang. Pertemuan ini menjadi langkah krusial bagi kedua raksasa ekonomi tersebut untuk memastikan kerja sama bilateral tetap berada pada jalur yang stabil di tahun 2026.
Dalam konteks ini, pertemuan tersebut menindaklanjuti keberhasilan lima putaran dialog tahun lalu. Laporan kerja pemerintah China yang terbit pada hari Kamis menegaskan bahwa konsultasi tersebut telah membuahkan hasil positif. Oleh karena itu, kedua belah pihak kini berupaya mengimplementasikan pemahaman bersama yang telah dicapai oleh kepala negara kedua negara dalam pertemuan tatap muka di Busan sebelumnya.
Perdagangan yang Saling Menguntungkan: Data dan Fakta
China secara konsisten menekankan bahwa esensi dari hubungan ekonomi kedua negara adalah kerja sama yang saling menguntungkan (win-win). Bahkan, data perdagangan tahun 2025 membuktikan besarnya interdependensi ini. Total nilai ekspor dan impor antara China dan Amerika Serikat mencapai 4,01 triliun yuan atau sekitar $574,66 miliar sepanjang tahun lalu.
Sebagai hasilnya, China tetap menjadi salah satu pasar ekspor paling penting bagi produk-produk Amerika Serikat, setelah Meksiko dan Kanada. Lebih lanjut, laporan Dewan Bisnis AS-China (USCBC) memperkirakan bahwa ekspor ke China mendukung sekitar 531.232 lapangan kerja di seluruh Amerika Serikat. Bagi konsumen Amerika, impor dari China juga membantu menekan biaya hidup dan meningkatkan daya beli rumah tangga berpenghasilan rendah hingga menengah.
Memperluas Daftar Kerja Sama di Sektor Inovatif
Pejabat China berulang kali mendesak Amerika Serikat untuk mengadopsi pendekatan konstruktif dengan memperpendek daftar masalah dan memperluas daftar kerja sama. Dalam hal ini, China ingin hubungan ekonomi berfungsi sebagai “batu penyeimbang” (ballast stone) bagi stabilitas politik global. Oleh sebab itu, langkah konkret mulai terlihat melalui rencana kunjungan delegasi bisnis China ke Amerika Serikat tahun ini untuk mempertemukan para pelaku usaha.
Selain itu, potensi kolaborasi di bidang sains dan teknologi sangat menjanjikan. Presiden USCBC, Sean Stein, menyoroti kemajuan pesat China dalam pengembangan obat molekuler baru global yang kini mencapai 37 persen. Oleh karena itu, sektor ilmu hayati (life sciences) seperti penanganan kanker dan diabetes menjadi area prioritas. Secara simultan, kedua pihak juga dapat menggali potensi di bidang energi baru, material baru, kedirgantaraan, hingga ekonomi rendah karbon.
Momentum APEC dan G20 di Akhir Tahun 2026
Tahun 2026 memberikan peluang unik bagi keterlibatan bilateral yang lebih mendalam. Pada bulan November, China akan menjadi tuan rumah Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC di Shenzhen. Selanjutnya, Amerika Serikat akan menyambut para pemimpin dunia dalam KTT G20 di Miami, Florida pada bulan Desember.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan demikian, Duta Besar China Xie Feng menyerukan agar komunitas bisnis kedua negara memperkuat dialog dan mendukung pemerintah masing-masing dalam menjaga komunikasi. Pada akhirnya, keberhasilan diplomasi dagang ini akan bergantung pada seberapa efektif kedua pihak mampu menciptakan energi positif dan meminimalkan gangguan baru. Oleh sebab itu, perundingan di Perancis pekan depan akan menjadi indikator penting bagi arah hubungan ekonomi dunia di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















