Sengketa Taiwan di KTT Washington: Jepang Bantah Adanya Pergeseran Besar Kebijakan Militer

Kamis, 19 Maret 2026 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menjaga kedaulatan demokrasi. Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan hak pertahanan negara dan mendesak persetujuan pembelian senjata baru dari AS. Dok: Britannica.

Menjaga kedaulatan demokrasi. Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan hak pertahanan negara dan mendesak persetujuan pembelian senjata baru dari AS. Dok: Britannica.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Jepang membantah penilaian Amerika Serikat terkait adanya perubahan haluan kebijakan terhadap Taiwan pada hari Kamis. Perselisihan persepsi ini muncul hanya beberapa jam sebelum Perdana Menteri Sanae Takaichi bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih.

Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menegaskan bahwa penilaian AS mengenai “pergeseran besar” tersebut tidak akurat. Tokyo bersikeras bahwa pernyataan PM Takaichi mengenai potensi respon militer terhadap krisis di Taiwan tetap selaras dengan kebijakan jangka panjang Jepang.

Laporan Intelijen AS vs Penjelasan Tokyo

Sengketa ini berawal dari laporan tahunan badan intelijen Amerika Serikat yang terbit pada Rabu lalu. Laporan tersebut menyebutkan bahwa retorika Takaichi sejak tahun lalu menandai penyimpangan tajam dari para pemimpin Jepang sebelumnya. Penilaian ini merujuk pada pernyataan Takaichi di parlemen mengenai kesiapan Tokyo merespon “krisis eksistensial” jika Tiongkok menyerang Taiwan.

Namun, Minoru Kihara menyatakan bahwa penilaian tersebut salah kaprah. Menurutnya, konsep “situasi krisis eksistensial” adalah standar hukum yang sudah ada dalam doktrin pertahanan Jepang. Takaichi dianggap hanya memperjelas penerapan standar tersebut dalam skenario Taiwan, bukan menciptakan kebijakan baru yang agresif.

Tekanan Ekonomi Tiongkok dan Dampak Regional

Pernyataan Takaichi sebelumnya telah memicu kemarahan luar biasa dari Beijing yang menganggap Taiwan sebagai wilayah kedaulatannya. Hubungan Tiongkok-Jepang kini anjlok ke titik terendah dalam satu dekade terakhir. Beijing membalas dengan melarang warganya bepergian ke Jepang serta memutus akses beberapa ekspor komoditas utama.

Laporan AS memperkirakan Tiongkok akan mengintensifkan tindakan koersif ini sepanjang tahun 2026. Beijing bertujuan menghukum Jepang sekaligus menakuti negara lain agar tidak ikut campur dalam urusan Taiwan. Meskipun demikian, laporan tersebut menyimpulkan bahwa Tiongkok belum berencana melakukan invasi fisik pada tahun 2027 dan masih mengutamakan kontrol tanpa kekerasan.

Baca Juga :  Banjir dan Longsor di Sumatera Tembus 1.053 Meninggal, BNPB: 25 Daerah Masih Darurat

Bayang-bayang di KTT Washington

Perbedaan pandangan antara Tokyo dan Washington mengenai Taiwan ini menambah kompleksitas KTT Takaichi-Trump. Trump sebelumnya sudah menuntut Jepang mengirim kapal pengawal ke Selat Hormuz yang terblokade akibat perang Iran. Keengganan Jepang untuk terlibat secara militer di Timur Tengah sudah membuat Trump menunjukkan rasa tidak senangnya.

Kini, dengan munculnya ketidakselarasan mengenai Taiwan, posisi diplomatik Takaichi di Washington semakin terjepit. Ia harus mampu meyakinkan Trump bahwa Jepang tetap menjadi sekutu setia tanpa harus terseret ke dalam komitmen militer yang melanggar konstitusi pasifisnya. Hasil dari pertemuan puncak ini akan menentukan stabilitas keamanan di Asia Timur dalam menghadapi ambisi militer Tiongkok yang diprediksi mencapai puncaknya pada seratus tahun berdirinya PLA tahun 2027.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy Desak Trump Izinkan Akses Panduan Rudal
Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot
Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen
Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran
Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar
Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran
Kerusuhan Mengguncang Nepal Tenggara: 3 Warga Meninggal
Presiden Myanmar Ungkap Peta Jalan 5 Tahun dan Wajib Militer

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Tiga Warga Meninggal dan Trump Tinjau Ulang Lisensi Patriot

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Spanyol Pulangkan 50 Ribu Migran dan Italia Bekukan Schengen

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Pemerintah Australia Bela Aturan di Tengah Pelanggaran

Minggu, 2 Agustus 2026 - 06:18 WIB

Mata Uang Yen Melesat Tajam Sentuh Level 157 Per Dolar

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Warga Galang 21 Ribu Tanda Tangan Tolak Pembongkaran

Berita Terbaru

Inovasi gawai modular dua fungsi. HoverAir merilis konsep Versa yang menggabungkan kamera gimbal genggam dan drone terbang pintar dalam satu perangkat. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

HoverAir Memperkenalkan Perangkat Modular Versa

Minggu, 2 Agu 2026 - 13:00 WIB

Peta baru industri hiburan interaktif. Krisis memori RAM global, kebijakan tarif impor, serta inflasi mengakhiri era konsol gaming murah 500 dolar AS secara permanen. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Krisis Memori dan Tarif Global Dorong Harga Gawai Gaming

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:00 WIB

Lini tayangan terlengkap bulan Agustus. Disney+ menyajikan konten bervariasi mulai dari Pokemon, tayangan spin-off Star Wars, hingga siaran langsung e-sports. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Disney+ Merilis Lini Konten Agustus 2026 Mulai Pokemon

Minggu, 2 Agu 2026 - 11:00 WIB