Trump Justifikasi Perang Iran, Jepang Merasa Dilecehkan

Minggu, 22 Maret 2026 - 06:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Luka sejarah yang terbuka kembali. Presiden Donald Trump memicu kemarahan publik Jepang setelah menggunakan narasi serangan Pearl Harbor 1941 untuk membela keputusannya menyerang Iran tanpa pemberitahuan kepada sekutu. Dok: Reuters.

Luka sejarah yang terbuka kembali. Presiden Donald Trump memicu kemarahan publik Jepang setelah menggunakan narasi serangan Pearl Harbor 1941 untuk membela keputusannya menyerang Iran tanpa pemberitahuan kepada sekutu. Dok: Reuters.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Sebuah pertemuan puncak yang seharusnya mempererat aliansi justru berubah menjadi momen yang sangat canggung bagi Jepang. Presiden Donald Trump secara terbuka menyinggung serangan Pearl Harbor 1941 untuk menangkis kritik mengenai kebijakan sepihaknya dalam perang melawan Iran.

Dalam konteks ini, Trump merespon pertanyaan wartawan mengenai alasannya tidak memberi tahu sekutu sebelum melancarkan serangan udara. “Siapa yang lebih tahu tentang serangan mendadak selain Jepang? Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor, oke?” ujar Trump pada hari Jumat. Akibatnya, atmosfer di samping Perdana Menteri Sanae Takaichi seketika berubah menjadi tegang.

Reaksi Media dan Publik Jepang

Surat kabar liberal Asahi Shimbun menyatakan dalam editorialnya bahwa komentar Trump “tidak boleh diabaikan”. Menurut mereka, menggunakan tragedi sejarah untuk membenarkan serangan mendadak saat ini adalah omong kosong yang mengabaikan pelajaran sejarah. Oleh karena itu, muncul desakan luas di media sosial agar pemerintah Jepang melayangkan protes diplomatik secara resmi.

Terlebih lagi, pakar Hubungan Internasional Tsuneo Watanabe menilai pernyataan tersebut sebagai upaya menyeret Jepang ke dalam “komplisitas” atau keterlibatan moral. Dalam hal ini, Trump dianggap tidak lagi terikat oleh standar kesantunan diplomatik Amerika yang lama. Reaksi publik berkisar dari tuduhan ketidaksopanan hingga anggapan bahwa Trump tidak melihat Jepang sebagai mitra yang setara.

Dilema Politik PM Sanae Takaichi

PM Sanae Takaichi, yang dikenal sebagai tokoh konservatif garis keras, memilih untuk tidak bereaksi secara verbal di depan kamera. Namun, gestur tubuhnya yang canggung dan lirikan mata kepada para menterinya menunjukkan ketidaknyamanan yang mendalam. Sebagai hasilnya, ia mendapat pujian sekaligus kritik di dalam negeri karena membiarkan komentar tersebut berlalu begitu saja tanpa sanggahan.

Di sisi lain, Takaichi sendiri memiliki rekam jejak yang sensitif terhadap isu sejarah Perang Dunia II. Ia baru-baru ini memberikan sinyal untuk mengunjungi Kuil Yasukuni, tempat yang sangat kontroversial bagi negara-negara tetangga. Oleh sebab itu, terseretnya perdebatan sejarah ke dalam pertemuan di Gedung Putih merupakan fenomena yang sangat mengejutkan bagi elit politik Tokyo.

Baca Juga :  Dua Kerangka Manusia Ditemukan di Kantor ACC Kwitang, Polisi Gerak Cepat Selidiki

Aliansi Strategis di Atas Luka Sejarah

Mengapa Jepang tidak memprotes dengan keras? Jawabannya terletak pada kepentingan ekonomi dan keamanan yang vital. Secara simultan, Amerika Serikat membutuhkan Jepang untuk menampung 50.000 tentaranya. Sebaliknya, Jepang sangat bergantung pada payung nuklir AS guna membendung ancaman dari Tiongkok dan Korea Utara yang kian agresif.

Selanjutnya, kedua pemimpin menyadari bahwa aliansi ini terlalu penting untuk dirusak oleh perdebatan sejarah. Dengan demikian, Takaichi lebih memilih fokus pada penguatan militer Jepang daripada berdebat mengenai masa lalu. Pada akhirnya, krisis ini membuktikan bahwa meskipun 80 tahun telah berlalu, luka sejarah tetap menjadi variabel yang volatil dalam diplomasi modern di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia
Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan
PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi
Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza
Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir
Kremlin Kecam PM Inggris Andy Burnham Terkait Disinformasi
Volodymyr Zelenskyy Desak Pemimpin Dunia Hentikan Perang
Hakim AS Menunda Putusan Kasus Larangan Media Gedung Putih

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 16:15 WIB

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 September 2026 - 14:13 WIB

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 September 2026 - 13:03 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 September 2026 - 06:12 WIB

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza

Jumat, 25 September 2026 - 15:08 WIB

Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir

Berita Terbaru

Melania Trump dan Peng Liyuan mengunjungi Museum Seni Asia Smithsonian di Washington. Simak rincian agenda diplomasi budaya AS dan China. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Melania Trump dan Peng Liyuan Kunjungi Museum Seni Asia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 16:15 WIB

Perdana Menteri Israel Benjamin PM Israel Benjamin Netanyahu bantah tuduhan genosida di PBB dan kecam aksi walkout diplomat. Simak pidato Netanyahu dan desakan Mahmoud Abbas. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Benjamin Netanyahu Sebut Tuduhan Genosida Kebohongan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 14:13 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi membela ICC di PBB tanpa mengecam sanksi AS. Simak analisis dilema diplomasi dan aliansi keamanan dengan Donald Trump. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Hadapi Dilema Diplomasi

Sabtu, 26 Sep 2026 - 13:03 WIB

LG Display merilis panel OLED 24,5 inci 720Hz dan 0,02ms untuk monitor esports. Simak spesifikasi ASUS ROG Swift OLED PG259QWS Ace. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

LG Display Rilis Panel OLED 24,5 Inci 720Hz Pertama di Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 12:05 WIB