Mengapa Litium Menjadi Minyak Baru dalam Geopolitik?

Selasa, 24 Maret 2026 - 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampu hijau bagi dunia, ancaman bagi kedaulatan. Teori Ketergantungan mengungkap cara transisi energi global tahun 2026 berisiko melanggengkan eksploitasi negara Selatan oleh pusat industri manufaktur di Utara. Dok: Istimewa.

Lampu hijau bagi dunia, ancaman bagi kedaulatan. Teori Ketergantungan mengungkap cara transisi energi global tahun 2026 berisiko melanggengkan eksploitasi negara Selatan oleh pusat industri manufaktur di Utara. Dok: Istimewa.

SINGAPURA, POSNEWS.CO.ID – Peta kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2026 sedang mengalami perombakan total. Isu transisi energi telah mengubah cara negara-negara besar memandang keamanan nasional mereka. Dalam konteks ini, perspektif Ekonomi Politik Internasional (IPE) melihat fenomena ini sebagai transisi dari era Petro-politics menuju era Electro-politics.

Negara-negara menyadari bahwa penguasaan atas sumber daya alam kini menjadi penentu posisi mereka dalam rantai nilai global. Oleh karena itu, persaingan antar-negara kini tidak lagi berpusat pada ladang minyak, melainkan pada deposit mineral yang menjadi jantung teknologi hijau.

Pergeseran Kiblat: Dari Timur Tengah ke Sabuk Mineral

Selama satu abad terakhir, Timur Tengah menjadi pusat gravitasi politik dunia karena cadangan minyaknya yang melimpah. Namun, pada tahun 2026, pengaruh diplomatik negara-negara Petro-state mulai memudar secara perlahan. Sebaliknya, negara-negara pemilik cadangan mineral kritis seperti Indonesia, Chile, dan Republik Demokratik Kongo kini menjadi primadona baru.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Litium dan nikel telah bertransformasi menjadi komoditas strategis yang paling banyak diperebutkan. Bahkan, negara-negara maju berlomba-lomba mengamankan kontrak jangka panjang dengan pemilik tambang guna menjamin keberlangsungan industri otomotif listrik mereka. Akibatnya, negara berkembang kini memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat di meja perundingan internasional dibandingkan dekade sebelumnya.

Baca Juga :  Gagal Amankan Kursi DK PBB: Sikap Jerman Terhadap Ukraina dan Israel

Hegemoni Tiongkok: Dominasi dari Hulu ke Hilir

Fenomena paling menonjol dalam IPE tahun 2026 adalah dominasi mutlak Tiongkok atas rantai pasok energi bersih. Tiongkok tidak hanya mengandalkan tambang di dalam negerinya. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan Tiongkok telah mengakuisisi aset-aset mineral strategis di seluruh dunia melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan.

Lebih lanjut, Tiongkok memegang kendali atas hampir 80 persen kapasitas pemurnian litium dan nikel dunia. Oleh sebab itu, dunia Barat menghadapi kerentanan yang akut karena ketergantungan teknologi mereka pada Beijing. Dominasi ini memungkinkan Tiongkok untuk mendikte harga pasar dan menggunakan akses teknologi hijau sebagai instrumen tekanan diplomatik. Politik energi kini menjadi senjata “soft power” yang sangat efektif bagi Beijing untuk memperluas pengaruhnya di tingkat global.

Risiko “OPEC Baru” dan Nasionalisme Sumber Daya

Ketimpangan distribusi mineral memicu gagasan pembentukan kartel mineral baru yang menyerupai OPEC. Negara-negara di “Segitiga Litium” (Chile, Argentina, Bolivia) beserta Indonesia mulai mendiskusikan koordinasi produksi dan harga secara kolektif. Dalam hal ini, nasionalisme sumber daya muncul sebagai respon terhadap eksploitasi sejarah oleh korporasi global.

Baca Juga :  Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Selain itu, kebijakan hilirisasi industri di negara-negara Selatan Global memaksa investor asing untuk membangun pabrik pengolahan di negara asal mineral. Sebagai hasilnya, terjadi ketegangan perdagangan dengan negara maju yang menuntut akses bebas hambatan terhadap bahan mentah. Oleh karena itu, risiko terjadinya perang dagang sektor mineral menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi dunia di tahun 2026.

Kedaulatan dalam Arsitektur Hijau

Masa depan tata kelola ekonomi global bergantung pada seberapa adil distribusi teknologi dan keuntungan dari energi hijau. Pada akhirnya, transisi energi bukan sekadar masalah lingkungan hidup, melainkan murni masalah kekuasaan dan akumulasi kekayaan. Dengan demikian, negara yang mampu mengintegrasikan penguasaan mineral dengan inovasi teknologi akan menjadi pemenang dalam tatanan dunia baru. Keadilan ekonomi harus tetap menjadi pilar utama agar hegemoni energi hijau tidak berubah menjadi bentuk kolonialisme baru di abad ke-21.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache
Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam
Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi
Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG
BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian
Presiden Lebanon Joseph Aoun Desak Jalur Diplomasi
Polda Metro Sikat 141 Curanmor, 317 Ditangkap – Muncul Pertanyaan Efektivitas Pencegahan
Paus Leo XIV Desak Penghormatan Migran dan Hukum Internasional

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 09:48 WIB

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:48 WIB

Pesta Gay Viral di Karawang Jadi Alarm Pengawasan Tempat Hiburan Malam

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:24 WIB

Kamar Indekos Jadi Markas Sabu, Pasutri di Bekasi Diciduk Polisi

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:00 WIB

Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG

Rabu, 10 Juni 2026 - 06:53 WIB

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Berita Terbaru

Ilustrasi, Ketegangan baru di Selat Hormuz. Amerika Serikat meluncurkan serangan balasan ke Iran setelah penembakan jatuh helikopter Apache di tengah ancaman pecahnya aliansi AS-Israel. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Gempur Iran Pasca Penembakan Helikopter Apache

Rabu, 10 Jun 2026 - 09:48 WIB

Kuasa hukum tersangka Sony Sonjaya, Krisna Murti. (Posnews/Ist)

NASIONAL

Sony Sonjaya Bongkar 26 Nama dalam Kasus Korupsi MBG

Rabu, 10 Jun 2026 - 08:00 WIB

Ilustrasi, Kondisi langit berawan di kawasan Jakarta saat BMKG memprediksi seluruh wilayah Jabodetabek mengalami cuaca berawan pada Rabu, 10 Juni 2026.
(Posnews/BMKG)

JABODETABEK

BMKG Prediksi Langit Jabodetabek Diselimuti Awan Seharian

Rabu, 10 Jun 2026 - 06:53 WIB