Mengapa Interseksionalitas Menjadi Kunci Keadilan Sosial

Minggu, 29 Maret 2026 - 16:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menembus batas identitas tunggal. Konsep interseksionalitas membuktikan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa menggunakan pendekatan 'satu ukuran untuk semua' guna menghapus penindasan yang berlapis. Dok: Istimewa.

Menembus batas identitas tunggal. Konsep interseksionalitas membuktikan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa menggunakan pendekatan 'satu ukuran untuk semua' guna menghapus penindasan yang berlapis. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Gerakan kesetaraan gender pada tahun 2026 kini memasuki babak yang lebih inklusif dan mendalam. Para aktivis mulai meninggalkan pendekatan “satu ukuran untuk semua” yang selama ini mendominasi diskursus global.

Dalam konteks ini, perspektif feminisme interseksional kini menjadi arus utama dalam merumuskan kebijakan hak asasi manusia. Oleh karena itu, pemahaman bahwa perempuan memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda menjadi prasyarat mutlak bagi keadilan sosial yang hakiki.

Konsep Dasar: Memahami Penindasan yang Tumpang Tindih

Kimberlé Crenshaw menciptakan istilah “interseksionalitas” untuk menggambarkan cara berbagai bentuk diskriminasi berinteraksi satu sama lain. Dalam hal ini, identitas gender tidak pernah berdiri di ruang hampa. Sebaliknya, ia selalu berkelindan dengan faktor ras, etnis, agama, dan tingkat ekonomi seseorang.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai contoh, seorang perempuan kulit berwarna dari kelas pekerja menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan perempuan kulit putih yang mapan secara finansial. Akibatnya, sistem penindasan menciptakan lapisan-lapisan kerentanan yang unik bagi setiap individu. Oleh sebab itu, kebijakan publik yang hanya fokus pada gender tanpa melihat kelas ekonomi sering kali gagal menyentuh akar masalah yang sebenarnya.

Baca Juga :  Arus Balik Nataru 2026 Padat, 51.165 Penumpang Tiba di Stasiun Daop 1 Jakarta

Kritik Feminisme Gelombang Kedua: Bias Kelas dan Ras

Teori Kritis melontarkan kritik tajam terhadap sejarah gerakan feminisme gelombang kedua. Gerakan masa lalu tersebut dianggap terlalu berfokus pada pengalaman perempuan kulit putih di negara maju. Bahkan, narasi yang pemerintah dan media bangun sering kali mengabaikan perjuangan perempuan dari kelompok minoritas atau kaum buruh.

Dalam hal ini, isu seperti hak untuk bekerja di luar rumah dipandang sangat bias kelas. Bagi banyak perempuan miskin dan perempuan kulit berwarna, mereka sudah bekerja keras sejak lama demi bertahan hidup. Oleh karena itu, tuntutan feminisme masa lalu sering kali terasa jauh dari realitas kehidupan masyarakat di bawah garis kemiskinan. Pengabaian ini menciptakan jurang pemisah yang memperlemah kekuatan gerakan perempuan secara kolektif di masa lalu.

Solidaritas Global: Inklusivitas bagi Dunia Ketiga

Membangun solidaritas global di tahun 2026 menuntut adanya pengakuan atas keberagaman konteks lokal. Perempuan di negara dunia ketiga sering kali menghadapi dampak ganda dari patriarki domestik dan struktur ekonomi global yang eksploitatif. Oleh sebab itu, agenda feminisme internasional harus memprioritaskan isu-isu seperti kedaulatan pangan dan akses terhadap layanan kesehatan dasar.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut di Daan Mogot, Anak Perempuan Tewas Terlindas Truk Kontainer

Terlebih lagi, kelompok marginal seperti perempuan adat dan penyandang disabilitas memerlukan ruang perwakilan yang setara dalam proses pengambilan keputusan. Secara simultan, gerakan transnasional kini mulai menggunakan platform digital untuk memperkuat suara perempuan yang selama ini terbungkam. Dengan demikian, solidaritas sejati hanya dapat tumbuh jika setiap lapisan identitas dihargai dan dilindungi tanpa terkecuali.

Masa depan perjuangan perempuan bergantung pada kemampuan kita untuk melihat kompleksitas kemanusiaan. Pada akhirnya, interseksionalitas bukan hanya sebuah teori akademik, melainkan panduan operasional bagi revolusi sosial.

Dengan demikian, dunia sedang bergerak menuju era di mana keadilan tidak lagi bersifat parsial. Jika kita gagal merangkul perbedaan identitas ini, maka tatanan dunia hanya akan melahirkan diskriminasi bentuk baru. Keadilan gender sejati harus mampu menjamin martabat bagi setiap perempuan, terlepas dari warna kulit atau saldo rekening bank mereka di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza
Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir
Kremlin Kecam PM Inggris Andy Burnham Terkait Disinformasi
Volodymyr Zelenskyy Desak Pemimpin Dunia Hentikan Perang
Hakim AS Menunda Putusan Kasus Larangan Media Gedung Putih
Masoud Pezeshkian Sebut Warga Iran Korban Terorisme AS
Donald Trump Sambut Langsung Presiden China Xi Jinping
Donald Trump Unjuk Kebersamaan dengan Wali Kota New York

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 06:12 WIB

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza

Jumat, 25 September 2026 - 15:08 WIB

Senat Italia Sahkan Aturan Kerangka Hukum Energi Nuklir

Jumat, 25 September 2026 - 13:04 WIB

Kremlin Kecam PM Inggris Andy Burnham Terkait Disinformasi

Jumat, 25 September 2026 - 12:01 WIB

Volodymyr Zelenskyy Desak Pemimpin Dunia Hentikan Perang

Jumat, 25 September 2026 - 11:00 WIB

Hakim AS Menunda Putusan Kasus Larangan Media Gedung Putih

Berita Terbaru

Square Enix mengoptimalkan Final Fantasy VII Revelation di PS5 Pro dengan PSSR 4K 60 FPS. Simak opsi grafis PS5 standar dan ukuran berkasnya. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Square Enix Optimalkan Final Fantasy VII Revelation di PS5 Pro

Sabtu, 26 Sep 2026 - 10:04 WIB

Microsoft merombak divisi Xbox dengan memangkas 268 karyawan dan memindahkan franchise Halo ke Activision. Simak rincian restrukturisasi studio. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Microsoft Rombak Total Divisi Xbox: PHK 268 Karyawan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 08:00 WIB

Funcom merilis Dune: Awakening di PS5 dan Xbox dengan mode PvE dan DLC Filmic Archive. Simak rincian fitur dan harga game. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Funcom Rilis Dune: Awakening di PS5 dan Xbox Lengkap

Sabtu, 26 Sep 2026 - 07:00 WIB

Guruh Soekarnoputra seniman dan budayawan Indonesia meninggal dunia di usia 73 tahun. (Posnews/Ist)

NASIONAL

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia di Usia 73 Tahun

Sabtu, 26 Sep 2026 - 06:56 WIB

Board of Peace mengajukan proposal rekonstruksi Gaza senilai $2,45 miliar. Simak rincian 66 proyek serta rencana pengerahan pasukan internasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Board of Peace Ajukan Rencana Rekonstruksi Gaza

Sabtu, 26 Sep 2026 - 06:12 WIB