TOKYO, POSNEWS.CO.ID – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara resmi meminta Badan Energi Internasional (IEA) menyiapkan pelepasan cadangan minyak tambahan. Langkah ini merupakan strategi lindung nilai Tokyo menghadapi potensi konflik Timur Tengah. Jepang mewaspadai perang yang mungkin berlangsung lama di tahun 2026.
Dalam konteks ini, Takaichi menyampaikan permintaan tersebut langsung kepada Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol. Pertemuan keduanya berlangsung di Tokyo pada hari Rabu. Jepang memandang ketidakpastian di Selat Hormuz sebagai ancaman serius. Hal ini membahayakan stabilitas ekonomi domestik maupun global.
Persiapan Menghadapi Gangguan Pasokan
Pemerintah Jepang bertindak proaktif setelah menyepakati rekor pelepasan cadangan minyak bersama IEA awal bulan ini. Selain itu, Takaichi mengumumkan pada hari Selasa bahwa Jepang akan membuka cadangan minyak bersama. Negara-negara produsen memiliki cadangan tersebut di wilayah Jepang.
“Sebagai persiapan jika situasi ini berkepanjangan, saya meminta IEA menyiapkan pelepasan koordinasi tambahan,” ujar Takaichi melalui unggahan media sosial resminya. Oleh karena itu, Jepang berkomitmen untuk bekerja sama erat dengan IEA. Kerja sama ini bertujuan menjaga keseimbangan pasar energi yang sedang volatil.
Respon IEA dan Kapasitas Cadangan Dunia
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, sedang berkonsultasi dengan berbagai pemerintahan di Asia dan Eropa mengenai langkah darurat ini. IEA menyepakati pelepasan 400 juta barel pada 11 Maret lalu. Jumlah itu baru mencakup 20 persen dari total stok minyak yang IEA koordinasikan.
Meskipun demikian, Birol menyatakan kesiapannya untuk bergerak maju jika situasi lapangan memburuk. “Kami siap melangkah lebih jauh jika kondisi memerlukan hal tersebut. Namun, saya sangat berharap situasi tidak menuntut langkah itu,” tegas Birol setelah bertemu Takaichi. Saat ini, IEA memantau secara ketat dampak perang Iran terhadap arus energi dari Timur Tengah.
Krisis Logistik: 45 Kapal Jepang Terjebak di Teluk
Di sisi operasional, penutupan Selat Hormuz memberikan dampak nyata bagi sektor maritim Jepang. Pimpinan NYK Group, Hitoshi Nagasawa, mengonfirmasi kondisi logistik yang sulit. Sebanyak 45 kapal yang berafiliasi dengan Jepang masih terdampar di wilayah Teluk.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Akibatnya, rantai pasok logistik Jepang menghadapi kendala yang sangat besar. Kapal-kapal tersebut terperangkap selama otoritas belum menyatakan jalur navigasi Selat Hormuz aman. Oleh sebab itu, stabilitas harga bahan bakar di Jepang bergantung pada keberhasilan diplomasi maritim. Efektivitas intervensi cadangan minyak internasional juga menjadi faktor penentu dalam beberapa pekan ke depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















