Minneapolis Lumpuh: Pemuka Agama Ditangkap

Sabtu, 24 Januari 2026 - 15:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketegangan meledak di Twin Cities. Warga mogok massal, polisi tangkapi pendeta yang berlutut di bandara, sementara perusahaan raksasa memilih bungkam seribu bahasa. Dok: The Globe Post.

Ketegangan meledak di Twin Cities. Warga mogok massal, polisi tangkapi pendeta yang berlutut di bandara, sementara perusahaan raksasa memilih bungkam seribu bahasa. Dok: The Globe Post.

MINNEAPOLIS, POSNEWS.CO.ID – Kota Minneapolis berubah menjadi medan pertempuran sipil pada hari Jumat (24/1). Polisi setempat menangkap puluhan pemuka agama (clergy members) dalam sebuah aksi dramatis menentang pengerahan ribuan petugas penegak imigrasi ke wilayah Twin Cities oleh Presiden Donald Trump.

Pemandangan di Bandara Internasional Minneapolis-Saint Paul begitu kontras. Para rohaniwan bernyanyi himne dan berdoa sambil berlutut di jalan raya, sebelum akhirnya aparat menyeret mereka pergi.

Aksi ini merupakan bagian dari hari aksi “ICE OUT!”. Penyelenggara dan peserta melaporkan bahwa sejumlah besar bisnis di seluruh negara bagian Minnesota menutup pintu mereka. Pekerja berbondong-bondong turun ke jalan dalam apa yang mereka sebut sebagai “pemogokan umum” (general strike).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, dan politisi Demokrat lainnya tidak ragu menyebut lonjakan kehadiran aparat federal ini sebagai sebuah “invasi”.

Pemicu: Penembakan Renee Good

Kemarahan publik bukan tanpa sebab. Demonstran menuntut pertanggungjawaban hukum atas kematian Renee Good, seorang warga negara AS. Seorang agen ICE menembak mati Good di dalam mobilnya bulan ini saat ia sedang memantau aktivitas badan imigrasi tersebut.

Baca Juga :  Marco Rubio dan Paus Leo XIV Berkomitmen Perbaiki Hubungan

Menjelang reli sore di pusat kota yang membeku, ratusan orang memadati bandara utama negara bagian itu. Patty O’Keefe (36), seorang pekerja nirlaba, nekat menerjang cuaca dingin demi menyuarakan frustrasinya.

“Kami terus berada di bawah pengepungan pemerintah federal,” ujarnya. “Bentuk protes dan perlawanan normal kami terbukti belum cukup untuk mengirim pesan yang cukup kuat kepada Trump.”

Target: Komunitas Somalia

Trump meluncurkan tindakan keras di Minnesota dengan target ganda: individu tidak berdokumen dan penduduk sah. Langkah ini sebagian merupakan respons terhadap tuduhan penipuan yang menyasar komunitas besar asal Somalia di negara bagian tersebut.

Retorika Presiden kian tajam. Ia menyebut imigran Somalia sebagai “sampah” dan bersumpah akan mengeluarkan mereka dari negara itu. Ambisinya jelas: mengusir lebih banyak imigran daripada pendahulunya.

Warga Minnesota merespons dengan kebisingan. Siang dan malam, jalanan dipenuhi suara peluit dan instrumen musik. Konfrontasi fisik tak terelakkan; agen federal menembakkan gas air mata dan granat flash-bang untuk membubarkan massa yang membalas dengan teriakan.

Baca Juga :  Polisi Sikat Pengedar Pil Koplo di Penjaringan, 1.100 Lebih Obat Keras Disita

Wakil Presiden JD Vance, yang berkunjung pada Kamis, mengklaim pemerintah sedang “melakukan segala yang kami bisa untuk menurunkan suhu ketegangan.” Namun, realitas di jalanan menunjukkan sebaliknya.

Kebisuan Korporasi Raksasa

Di tengah gejolak ini, sikap diam perusahaan-perusahaan besar yang berbasis di Minnesota menjadi sorotan tajam. Negara bagian ini adalah rumah bagi banyak perusahaan Fortune 500.

Raksasa ritel Target, yang berkantor pusat di Minneapolis, menolak berkomentar. Perusahaan ini sebelumnya telah menuai kritik karena mundur dari komitmen kebijakan keberagamannya. Kini, anggota parlemen negara bagian mendesak Target untuk menjelaskan panduan mereka kepada karyawan jika petugas ICE mendadak muncul di toko.

Sikap serupa ditunjukkan oleh raksasa lain seperti UnitedHealth, Medtronic, Best Buy, dan 3M. Hingga berita ini ditulis, tidak ada satu pun yang merespons permintaan komentar, memilih bersembunyi di balik tembok korporasi saat kota mereka terbakar amarah.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Reuters

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama
AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa
Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang
Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan
Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak
AS Persiapkan Pasukan Tempur Luar Angkasa
DPR AS Sahkan RUU Sanksi dan Tarif Rusia
Bank of Japan Bersiap Naikkan Suku Bunga Utama

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 14:59 WIB

Uni Eropa Wacanakan Kanada Jadi Anggota Asosiasi Pertama

Jumat, 18 September 2026 - 13:30 WIB

AS Resmi Konfirmasi Pengoperasian Senjata Luar Angkasa

Jumat, 18 September 2026 - 12:23 WIB

Runtuhnya Tambang Emas di Sudan Tewaskan 82 Orang

Jumat, 18 September 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi Kehabisan Stok Rudal Pencegat dan Minta Bantuan

Jumat, 18 September 2026 - 10:12 WIB

Uni Eropa Wacanakan Larangan Media Sosial bagi Anak

Berita Terbaru

Produksi sawit Kalimantan diproyeksi anjlok hingga 15% pada Q4 akibat kemarau panjang dan karhutla. Simak data kerusakan lahan dan estimasi GAPKI. Dok: Istimewa.

NASIONAL

Produksi Kelapa Sawit Kalimantan Diproyeksi Anjlok 15 Persen

Jumat, 18 Sep 2026 - 17:20 WIB