NAIROBI, POSNEWS.CO.ID – Dunia pada tahun 2026 sedang menghadapi guncangan ekologis yang kian hebat. Dalam konteks ini, gerakan Ekofeminisme muncul sebagai pisau analisis yang tajam untuk memahami akar masalah tersebut. Para pemikir feminis berargumen bahwa kehancuran alam merupakan cerminan langsung dari ketidakadilan gender yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Negara-negara kini mulai menyadari bahwa kebijakan lingkungan yang buta gender sering kali menemui kegagalan. Oleh karena itu, memahami keterkaitan antara kedaulatan tubuh perempuan dan kelestarian bumi menjadi syarat mutlak bagi kebijakan keamanan manusia yang inklusif.
Paralelisme: Logika Dominasi Patriarki terhadap Alam
Ekofeminisme menyoroti adanya kesamaan pola dalam cara masyarakat memperlakukan perempuan dan alam. Dalam hal ini, keduanya sering kali didefinisikan sebagai entitas yang bersifat pasif, emosional, dan perlu “dikendalikan” oleh rasionalitas manusia (sering kali dikaitkan dengan maskulinitas).
Bahasa yang kita gunakan sering kali membuktikan hal ini. Istilah seperti “menaklukkan alam” atau “mengeksploitasi sumber daya” memiliki kemiripan dengan narasi kontrol terhadap tubuh perempuan. Akibatnya, perusakan hutan dan pencemaran laut dipandang sebagai hak pemilik modal untuk memuaskan konsumsi jangka pendek. Penganut Ekofeminisme menegaskan bahwa kita tidak bisa menyelamatkan lingkungan jika kita masih memelihara sistem nilai yang membenarkan dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya.
Perempuan Pedesaan: Korban Terdepan Krisis Iklim
Krisis iklim tahun 2026 memberikan dampak yang sangat tidak proporsional bagi perempuan, terutama di daerah pedesaan. Di banyak wilayah Selatan Global, perempuan memegang tanggung jawab utama dalam menyediakan air, kayu bakar, dan pangan bagi keluarga. Oleh sebab itu, ketika terjadi kekeringan ekstrem atau kegagalan panen, perempuanlah yang harus berjalan lebih jauh dan bekerja lebih keras.
Lebih lanjut, keterbatasan akses terhadap hak milik tanah membuat perempuan sulit mendapatkan bantuan finansial pasca-bencana. Dalam hal ini, kemiskinan perempuan kian dalam seiring dengan hilangnya keanekaragaman hayati lokal. Krisis energi di tahun 2026 memperparah kondisi ini, di mana kelangkaan bahan baku membuat beban kerja domestik perempuan melonjak drastis. Fenomena ini membuktikan bahwa kerentanan lingkungan secara inheren terikat pada kerentanan posisi sosial perempuan.
Solusi Berkelanjutan: Kearifan Lokal dan Kedaulatan Pangan
Menghadapi kehancuran ekosistem, komunitas internasional mulai melirik peran perempuan dalam konservasi. Perempuan pedesaan selama ini bertindak sebagai penjaga benih tradisional dan pengelola sumber daya air yang efisien. Terlebih lagi, praktik pertanian regeneratif yang dipimpin oleh perempuan terbukti lebih tahan banting menghadapi perubahan cuaca yang tidak menentu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara simultan, kearifan lokal ini menawarkan model pembangunan yang tidak eksploitatif. Perempuan cenderung mengutamakan nilai keberlanjutan demi kesejahteraan generasi mendatang daripada keuntungan finansial sesaat. Dengan demikian, memberikan ruang bagi perempuan dalam proses pengambilan keputusan global bukan hanya masalah keadilan, melainkan keharusan strategis. Penguatan kedaulatan pangan nasional akan lebih efektif jika pemerintah melibatkan perempuan sebagai mitra sejajar dalam perumusan kebijakan lingkungan.
Menuju Tatanan Dunia yang Simbiotik
Masa depan bumi bergantung pada kemampuan kita untuk meninggalkan logika penaklukan menuju logika kemitraan. Pada akhirnya, Ekofeminisme mengingatkan bahwa pemulihan alam harus berjalan beriringan dengan pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.
Dengan demikian, dunia memerlukan paradigma baru yang menghargai keterhubungan antara semua makhluk hidup. Keadilan ekologis tidak akan pernah terwujud selama ketimpangan gender masih menghambat potensi separuh populasi dunia. Jika kita ingin menghijaukan bumi di tahun 2026, kita harus memulainya dengan menegakkan martabat dan hak asasi setiap perempuan di atas tanah mereka sendiri.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia



















