Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz atau Kehilangan Seluruh Pabrik Energi

Selasa, 31 Maret 2026 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

Peluang damai dari Buergenstock. Delegasi Amerika Serikat dan Iran menyepakati peta jalan transisi 60 hari guna mengakhiri perang dan memulihkan pasokan energi dunia. Dok: Istimewa.

WASHINGTON, POSNEWS.CO.ID – Presiden Donald Trump melontarkan ancaman paling keras sejak perang meletus pada 28 Februari lalu. Trump memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat akan melakukan “obliterasi” atau penghancuran total terhadap seluruh pembangkit energi dan sumur minyak Iran.

Ancaman ini muncul setelah Teheran menyebut proposal perdamaian Amerika Serikat sebagai rencana yang tidak realistis. Trump menetapkan tenggat waktu hingga 6 April mendatang bagi Iran untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz yang melumpuhkan seperlima pasokan energi dunia.

Rejeksi Teheran: “Tidak Logis dan Berlebihan”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa posisi Teheran tidak akan goyah di bawah tekanan militer. Iran mengaku telah menerima proposal perdamaian melalui perantara Pakistan, Turki, Mesir, dan Arab Saudi. Namun, Baghaei melabeli poin-poin dalam proposal tersebut sebagai sesuatu yang “tidak logis dan berlebihan”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sedang berada di bawah agresi militer. Oleh karena itu, seluruh kekuatan kami fokus pada pertahanan diri,” tegas Baghaei dalam konferensi pers di Teheran. Bahkan, parlemen Iran kini mulai meninjau kemungkinan untuk keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai respon atas serangan AS-Israel.

Baca Juga :  Raja Charles III Beri Penghormatan di Ground Zero dan Kunjungi Harlem

Eskalasi Multi-Front: Houthi dan Hezbollah Terlibat Aktif

Konflik ini kini telah berkembang menjadi perang regional skala penuh. Kelompok Houthi di Yaman secara resmi bergabung dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel. Akibatnya, kekhawatiran akan blokade jalur pelayaran kedua di Selat Bab el-Mandeb kini kian nyata bagi pasar logistik internasional.

Selain itu, Hezbollah di Lebanon terus menghujani Israel utara dengan roket, yang memicu serangan balasan udara Israel ke jantung kota Beirut. Insiden keamanan juga merembet ke wilayah utara, di mana sistem pertahanan udara NATO terpaksa menembak jatuh rudal balistik Iran yang nyasar ke ruang udara Turki. Kondisi ini membuktikan bahwa stabilitas perbatasan di Timur Tengah telah runtuh sepenuhnya.

Mobilisasi 82nd Airborne dan Opsi Serangan Darat

Pentagon memperkuat kehadiran fisik mereka dengan mengerahkan pasukan elit dari Divisi Airborne ke-82. Dua pejabat AS mengonfirmasi bahwa ribuan tentara mulai mendarat di lokasi strategis pada hari Senin. Langkah ini bertujuan memberikan fleksibilitas bagi Trump untuk meluncurkan operasi darat di dalam wilayah teritorial Iran jika diplomasi gagal.

Baca Juga :  Independensi Bank Sentral: Benteng Teknis atau Keputusan Politis?

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebutkan bahwa Trump masih berharap mencapai kesepakatan sebelum 6 April. Meskipun demikian, Washington mulai menekan negara-negara Arab sekutu untuk ikut membiayai beban perang yang kini telah membengkak. Administrasi Trump dilaporkan telah mengajukan tambahan anggaran perang sebesar $200 miliar ke Kongres.

Guncangan Ekonomi dan Peringatan IMF

Dunia usaha mulai bersiap menghadapi skenario terburuk seiring melonjaknya harga minyak mentah Brent yang mencatatkan kenaikan bulanan rekor. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang ini melumpuhkan ekonomi negara-negara garis depan dan merusak prospek pemulihan global pasca-krisis.

Pada akhirnya, para pemimpin keuangan G7 menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah darurat guna menstabilkan pasar energi. Namun, dengan blokade Hormuz yang masih efektif dan ancaman Trump untuk menghancurkan fasilitas air desalinasi Iran, risiko bencana kemanusiaan dan ekonomi global berada di titik paling kritis tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel
Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial
Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko
Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina
AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas
Tabrakan Maut di Inggris Utara Tewaskan Tujuh Orang
Hakim Federal AS Batalkan Kebijakan Larangan Visa
Serangan Drone Ukraina Tewaskan 10 Orang di Rusia

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:42 WIB

AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel

Selasa, 25 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial

Selasa, 25 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:10 WIB

Serangan Drone Rusia Hantam Pusat Perbelanjaan Ukraina

Minggu, 23 Agustus 2026 - 19:00 WIB

AS Berlakukan Tarif 50% ke Kanada, Ottawa Langsung Balas

Berita Terbaru

AMPB menyampaikan tuntutan RUU Perampasan Aset di depan Gedung DPR RI Jakarta.(Posnews/Ist)

NASIONAL

Rekening Botok Dibuka Lagi, Bank Mandiri Minta Maaf

Rabu, 26 Agu 2026 - 16:07 WIB