NEW DELHI, POSNEWS.CO.ID – Konflik bersenjata di Timur Tengah yang melumpuhkan Selat Hormuz kini memicu krisis energi jilid kedua bagi masyarakat Asia. Di tengah lonjakan harga minyak mentah dan kelangkaan bahan bakar, negara-negara pengimpor energi terbesar mulai mengalihkan fokus secara agresif ke sektor bahan bakar nabati (biofuel).
Ravi Ranjan, seorang pengemudi taksi di New Delhi, merasakan langsung dampak buruk dari disrupsi pengapalan global ini. Oleh karena itu, ia harus membayar harga gas memasak cair (LPG) hingga tiga kali lipat lebih mahal di pasar gelap akibat keterlambatan pasokan. “Saya biasanya membeli tabung LPG seharga 1.000 rupee ($11), namun sekarang harganya melonjak menjadi 3.000 rupee ($31),” keluh Ranjan.
Manuver India: Larangan Ekspor Gula Demi Kompatibilitas Etanol
Guna meredam guncangan harga energi, Perdana Menteri Narendra Modi mengimbau rakyat India untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab secara nasional. Modi meminta warga menghemat bahan bakar dengan menggunakan transportasi umum, berbagi kendaraan (carpooling), dan mengurangi perjalanan luar negeri. Sebab, India mengimpor hampir $90 kebutuhan minyak mentah mereka, sehingga konflik Iran sangat memukul sektor industri dan rumah tangga.
Sebagai respons darurat, Kementerian Transportasi India mengusulkan kebijakan radikal yang mengizinkan kendaraan berjalan menggunakan campuran etanol $85, bahkan hingga $100. Selanjutnya, pemerintah menetapkan larangan ekspor gula hingga September guna memastikan ketersediaan bahan baku tebu untuk produksi etanol. Meskipun pemerintah mengeklaim program ini dapat menekan polusi, para pengendara tetap mengkhawatirkan penurunan efisiensi jarak tempuh kendaraan mereka.
Ambisi Biofuel di Asia Tenggara: B50 Indonesia dan Ekspansi Sawit
Di samping itu, Asia Tenggara juga melihat bioenergi sebagai benteng pertahanan utama untuk melindungi diri dari krisis saat ini. Presiden Indonesia Prabowo Subianto baru saja meluncurkan program ambisius untuk meningkatkan pencampuran biodiesel menjadi $50 (B50), naik dari sebelumnya B40. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia akan melangkah secara masif menuju kedaulatan energi nasional.
Sementara itu, Malaysia juga menyetujui proposal untuk meningkatkan pencampuran biodiesel secara bertahap hingga $15 (B15) dengan target jangka panjang mencapai $20. Meskipun demikian, para pengamat lingkungan memberikan peringatan keras. Ekspansi perkebunan kelapa sawit untuk mendukung program ini berisiko mempercepat laju deforestasi dan kerusakan hutan hujan tropis jika pemerintah tidak melakukan pengawasan ketat.
Dilema Pangan dan Air: Sisi Gelap Energi Hijau
Meskipun biofuel menawarkan kemandirian energi, para ahli mengingatkan adanya efek samping yang rumit terhadap ketahanan pangan dan lingkungan. Di India, sekitar $70 produksi etanol berasal dari tanaman pangan seperti tebu, jagung, dan beras. Akibatnya, pengalihan hasil panen untuk bahan bakar berisiko memicu lonjakan harga pangan dunia dan kelangkaan pakan ternak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlebih lagi, produksi satu liter etanol membutuhkan air yang sangat masif, berkisar antara 3.000 hingga 10.000 liter. Kebutuhan air yang sangat besar ini tentu akan memperparah krisis air bawah tanah di India yang sudah mengalami penurunan drastis. Maka dari itu, analis energi menyarankan pemerintah untuk lebih fokus pada kendaraan listrik (EV) atau memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku etanol generasi kedua yang lebih ramah lingkungan.
Menakar Masa Depan Tanpa Minyak Fosil
Langkah cepat Asia dalam mengadopsi bahan bakar nabati membuktikan urgensi transisi energi di tengah ancaman perang global. Singkatnya, kemandirian energi tidak boleh mengorbankan stabilitas pangan dan kelestarian hutan.
Dengan demikian, transisi ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun rantai pasok yang andal dan menguji kompatibilitas mesin. Di tahun 2026 yang penuh dengan ketidakpastian geopolitik, keseimbangan antara ketahanan energi, stabilitas pangan, dan kelestarian lingkungan akan menjadi ujian terbesar bagi para pemimpin di seluruh Asia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












