Metode Sokratik: Mengapa Bertanya Lebih Penting Daripada Memberi Jawaban?

Rabu, 1 April 2026 - 13:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Palu godam bagi kesombongan intelektual. Metode Sokratik mengajarkan bahwa kebenaran sejati tidak ditemukan melalui ceramah satu arah, melainkan melalui keberanian untuk mempertanyakan asumsi terdalam kita. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Palu godam bagi kesombongan intelektual. Metode Sokratik mengajarkan bahwa kebenaran sejati tidak ditemukan melalui ceramah satu arah, melainkan melalui keberanian untuk mempertanyakan asumsi terdalam kita. Dok: Istimewa.

ATHENA, POSNEWS.CO.ID – Di pasar-pasar kuno Athena ribuan tahun lalu, seorang pria dengan pakaian sederhana sering kali menghentikan warga untuk sekadar bertanya. Dalam konteks ini, Socrates tidak sedang mencari informasi teknis, melainkan sedang membedah jiwa lawan bicaranya.

Langkah ini menandai lahirnya berpikir kritis. Oleh karena itu, memahami metode Sokratik bukan hanya tentang belajar sejarah, melainkan tentang mengasah senjata intelektual untuk menavigasi dunia yang penuh dengan klaim kebenaran sepihak di tahun 2026.

Maieutics: Seni Membidani Pikiran

Socrates sering menyebut dirinya sebagai “bidan”. Ibunya adalah seorang bidan fisik, dan ia menerapkan prinsip yang sama pada pikiran. Secara khusus, ia percaya bahwa pengetahuan sejati tidak bisa dituangkan secara paksa ke dalam otak seseorang seperti air ke dalam botol kosong.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, kebenaran sudah ada di dalam diri manusia, namun sering kali tertimbun oleh keraguan dan kerancuan definisi. Melalui serangkaian pertanyaan yang terarah, Socrates membantu lawan bicaranya “melahirkan” pemahaman tersebut. Sebagai hasilnya, seseorang akan jauh lebih menghargai kebenaran yang mereka temukan sendiri daripada doktrin yang diberikan oleh orang lain. Metode ini menempatkan dialog sebagai proses kolaboratif, bukan ajang debat kusir untuk memenangkan ego.

Baca Juga :  Wakapolri Akui Warga Pilih Hubungi Damkar Ketimbang Polisi, Quick Response Time Polri Disorot

Ironi Sokratik: Kekuatan Mengaku “Tidak Tahu”

Salah satu kutipan paling fenomenal dari Socrates adalah: “Satu-satunya hal yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa.” Pernyataan ini dikenal sebagai Ironi Sokratik. Dalam hal ini, ia menantang para penguasa dan cendekiawan yang merasa memiliki jawaban atas segala hal.

Socrates berpendapat bahwa kesombongan intelektual adalah hambatan terbesar bagi ilmu pengetahuan. Seseorang yang merasa sudah tahu tidak akan pernah tergerak untuk belajar. Oleh sebab itu, sikap rendah hati secara intelektual (intellectual humility) menjadi pilar utama etika Sokratik. Di tahun 2026, di mana algoritma sering kali menciptakan rasa percaya diri palsu melalui echo chambers, kemampuan untuk mengakui keterbatasan pengetahuan adalah bentuk perlawanan yang sangat radikal sekaligus bijaksana.

Membongkar Asumsi dan Prasangka di Era Digital

Penerapan utama metode Sokratik adalah untuk membongkar asumsi yang kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Socrates sering mempertanyakan definisi umum tentang keadilan, keberanian, atau kebajikan. Bahkan, ia memaksa orang untuk menyadari bahwa apa yang mereka yakini sering kali hanya berdasarkan prasangka atau opini publik (doxa).

Baca Juga :  Epicureanisme: Menemukan Ketenangan Jiwa Melalui Kesenangan

Terlebih lagi, di era disinformasi saat ini, metode bertanya menjadi filter yang sangat efektif. Alih-alih langsung menelan berita, seorang praktisi Sokratik akan bertanya: “Apa bukti dari klaim ini?”, “Apakah ada sudut pandang lain?”, dan “Apa konsekuensi logis jika pernyataan ini benar?”. Dengan demikian, dialektika membantu kita membersihkan pikiran dari sampah informasi dan fokus pada esensi masalah yang sebenarnya. Secara simultan, proses ini juga melatih empati karena kita dipaksa untuk benar-benar mendengarkan dan memahami logika orang lain melalui pertanyaan yang kita ajukan.

Hidup yang Tidak Diuji Tidak Layak Dijalani

Masa depan peradaban kita bergantung pada kualitas pertanyaan yang kita ajukan, bukan hanya pada kecanggihan jawaban yang diberikan oleh mesin. Pada akhirnya, Socrates mengingatkan kita bahwa “hidup yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani”.

Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak individu yang berani berhenti sejenak dan bertanya “mengapa”. Jika kita terus membiarkan asumsi mendikte tindakan kita, maka tatanan dunia hanya akan dipenuhi oleh konflik yang bersumber dari kesalahpahaman. Kembali ke metode Sokratik berarti kembali ke jalur kebijaksanaan, di mana setiap pertanyaan adalah langkah kecil menuju pencerahan diri yang lebih besar di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen
Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang
Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran
Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru
Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad
Donald Trump Jadwalkan Pertemuan dengan Kim Jong Un
PM Israel Benjamin Netanyahu Targetkan Turki di Suriah
Andy Burnham Luncurkan Program Penanganan Tunawisma

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:59 WIB

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:35 WIB

Kanada Lolos dari Tarif 50 Persen Usai Kesepakatan Dagang

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:15 WIB

Uni Emirat Arab Putus Perdagangan dengan Iran

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:06 WIB

Ukraina Angkat Yevhenii Khmara Sebagai Menhan Baru

Jumat, 21 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Presiden AS Donald Trump Pamer Pembangunan Helipad

Berita Terbaru

Pengadilan Tinggi Hong Kong memvonis bersalah dua mantan pemimpin kelompok yang selama puluhan tahun menggelar peringatan tragedi Tiananmen 1989. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hong Kong Vonis Bersalah 2 Pemimpin Peringatan Tiananmen

Sabtu, 22 Agu 2026 - 16:59 WIB

Game Science mendadak merilis trailer gameplay berdurasi 15 menit untuk Black Myth: Zhong Kui. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Game Science Rilis Trailer Gameplay Black Myth: Zhong Kui

Sabtu, 22 Agu 2026 - 14:30 WIB