Afrika Selatan Kerahkan Pasukan ke Cape Town Lawan Teror Geng Kriminal

Kamis, 2 April 2026 - 17:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan sedikitnya 27 orang di Wedela dan Lwandle. Simak rincian kejadian dan tanggapan pemerintah. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan sedikitnya 27 orang di Wedela dan Lwandle. Simak rincian kejadian dan tanggapan pemerintah. Dok: Istimewa.

CAPE TOWN, POSNEWS.CO.ID – Sirene kendaraan lapis baja memecah keheningan di Mitchells Plain pada Rabu pagi. Pasukan militer Afrika Selatan dengan perlengkapan tempur lengkap dan senapan serbu mulai merangsek masuk ke pemukiman-pemukiman padat yang selama ini menjadi medan tempur geng kriminal.

Dalam konteks ini, pengerahan tentara terjadi hampir 50 hari setelah Presiden Cyril Ramaphosa menandatangani perintah operasi. Langkah drastis ini diambil tepat saat dua orang tewas dalam aksi kekerasan terbaru yang melanda wilayah pesisir tersebut.

Tragedi Subuh: Dua Nyawa Melayang di Hanover Park

Kekerasan geng tidak menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun militer telah bersiaga di perbatasan kota. Pada pukul 05.00 waktu setempat, dua pria berusia 25 dan 33 tahun tewas ditembak di kawasan Hanover Park. Bahkan, beberapa jam sebelumnya, seorang pria berusia 27 tahun juga menderita luka tembak serius dalam insiden terpisah di Mitchells Plain.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini menciptakan suasana horor bagi warga setempat. Seorang nenek berusia 65 tahun mengungkapkan rasa takutnya yang mendalam. “Saya tidak bisa tidur sepanjang malam. Anak perempuan saya harus berangkat kerja pukul empat pagi, dan itu membuat saya sangat cemas,” ujarnya kepada media tanpa menyebutkan identitas demi keamanan.

Baca Juga :  Realitas Baru: Perjanjian Nuklir New START Berakhir

Operasi Prosper: 2.200 Prajurit dan Mandat Satu Tahun

Presiden Ramaphosa meluncurkan “Operasi Prosper” sebagai respon atas status Afrika Selatan sebagai salah satu negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia (di luar zona perang). Oleh karena itu, militer memiliki mandat khusus untuk mendukung polisi dalam menumpas kejahatan terorganisir dan penambangan ilegal.

Secara khusus, operasi ini mencakup:

  1. Personel: Mobilisasi lebih dari 2.200 tentara nasional.
  2. Durasi: Kontrak operasional selama satu tahun penuh.
  3. Cakupan Wilayah: Lima dari sembilan provinsi, termasuk pusat keuangan Gauteng (Johannesburg).

Malvin Gordan, seorang pensiunan berusia 69 tahun, menyambut baik kehadiran militer tersebut. Menurutnya, hanya dengan keberadaan fisik tentara di sudut-sudut jalan, para anggota geng mulai mundur dan tidak berani melakukan konfrontasi terbuka secara sembarangan.

Rekam Jejak Intervensi Militer di Afrika Selatan

Penggunaan tentara untuk urusan keamanan domestik bukanlah hal baru di Afrika Selatan. Terlebih lagi, pemerintah telah berulang kali beralih ke angkatan darat saat menghadapi krisis nasional. Sejarah mencatat keterlibatan militer dalam penegakan lockdown COVID-19 tahun 2020 dan penanganan kerusuhan mematikan pasca-pemenjaraan Jacob Zuma pada 2021.

Baca Juga :  Medan Perang Siber: Masa Depan Konflik di Domain Kelima

Selain itu, militer juga turun tangan pada tahun 2023 setelah gelombang pembakaran truk memicu ketakutan akan kerusuhan massal. Pada tahun 2019, sebanyak 1.300 tentara juga pernah ditempatkan di Cape Flats guna memberikan bantuan serupa bagi kepolisian setempat. Pengulangan pola ini menunjukkan bahwa ketergantungan pemerintah terhadap militer semakin kuat akibat kegagalan reformasi kepolisian sipil yang berkelanjutan.

Mengharap Kedamaian Permanen

Masa depan keamanan di Cape Town kini bergantung pada seberapa efektif koordinasi antara SANDF dan polisi dalam membongkar struktur kepemimpinan geng. Pada akhirnya, kehadiran tentara dipandang sebagai solusi sementara untuk menghentikan pertumpahan darah secara cepat.

Dengan demikian, masyarakat internasional memantau apakah Operasi Prosper mampu menurunkan angka pembunuhan yang mencapai 60 jiwa per hari tersebut di tahun 2026. Tanpa adanya perbaikan ekonomi dan penghapusan kemiskinan sistemik di wilayah Cape Flats, kehadiran senjata api di jalanan akan tetap menjadi ancaman permanen bagi generasi mendatang Afrika Selatan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX
Elon Musk Ancam Politisi Demokrat Terkait Rencana Penyelidikan
Rusia Bebaskan Guru Asal AS Stephen Hubbard
Macron Kecam Narasi Pemimpin Asing Atas Kerusuhan Prancis
Tahun Kedua Kepemimpinan Takaichi Hadapi Tantangan Internal
Serangan Rudal Balistik Houthi Menewaskan Puluhan Prajurit
Donald Trump Manfaatkan Kerusuhan Prancis Demi Senat
Parlemen Australia Helen Haines Kehilangan Kaki Mobil

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:28 WIB

Marco Rubio Tegaskan Akses Starlink Ukraina Keputusan SpaceX

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:23 WIB

Elon Musk Ancam Politisi Demokrat Terkait Rencana Penyelidikan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Rusia Bebaskan Guru Asal AS Stephen Hubbard

Jumat, 23 Oktober 2026 - 07:18 WIB

Macron Kecam Narasi Pemimpin Asing Atas Kerusuhan Prancis

Jumat, 23 Oktober 2026 - 06:16 WIB

Tahun Kedua Kepemimpinan Takaichi Hadapi Tantangan Internal

Berita Terbaru

Attack Shark resmi merilis mouse gaming R5 Turbo dari bahan carbon fiber berbobot 43 gram dengan sensor PixArt 60.000 DPI dan polling rate 8.000 Hz. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Attack Shark Rilis Mouse Gaming Carbon Fiber R5 Turbo

Jumat, 23 Okt 2026 - 15:58 WIB

Nintendo meluncurkan revisi Switch 2 di Eropa dengan baterai mudah lepas. Simak pembongkaran komponen layar LCD, motherboard, dan RAM. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Nintendo Rilis Switch 2 di Eropa dengan Baterai Mudah Lepas

Jumat, 23 Okt 2026 - 14:56 WIB