Xi Jinping dan Keir Starmer Bertemu di Beijing: Akhiri 8 Tahun Kebekuan

Jumat, 30 Januari 2026 - 07:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Koalisi Eropa bersatu. Pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina membahas langkah darurat untuk memproduksi sistem penangkis rudal hipersonik Rusia. Dok: Istimewa.

Koalisi Eropa bersatu. Pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Ukraina membahas langkah darurat untuk memproduksi sistem penangkis rudal hipersonik Rusia. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Kebekuan diplomatik selama hampir satu dekade akhirnya mencair di Beijing. Pada hari Kamis (29/1), Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

Pertemuan ini menandai kunjungan pertama seorang Perdana Menteri Inggris ke China dalam delapan tahun terakhir.

Kedua pemimpin langsung menyepakati poin krusial: perlunya membangun kemitraan strategis komprehensif yang stabil dan berjangka panjang. Xi menekankan pentingnya melihat sejarah dari perspektif yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“China dan Inggris harus melampaui perbedaan dan menjaga rasa saling menghormati,” ujar Xi. Menurutnya, potensi kerja sama yang menjanjikan harus diterjemahkan menjadi pencapaian nyata yang menguntungkan kedua bangsa dan dunia.

Pragmatisme Starmer: “Demi Kepentingan Nasional”

Starmer membuka pertemuan dengan mengakui kesenjangan panjang dalam pertukaran tingkat tinggi. “Sudah terlalu lama sejak perdana menteri Inggris terakhir mengunjungi China,” katanya.

Baca Juga :  Matinya Museum, Kebangkitan Seni Imersif dan Instagrammable

Setibanya di Beijing, Starmer membingkai perjalanan ini dengan istilah yang sangat pragmatis. Ia menepis keraguan politik domestik dengan alasan ekonomi yang kuat.

“Terlibat dengan China adalah kepentingan nasional kita,” tegas Starmer kepada wartawan. “Ada peluang besar yang bisa didapat.”

Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan ekonomi global utama, kedua negara berbagi kepentingan vital dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas global.

Efek Trump: Eropa Cari Stabilitas di Timur

Analis melihat kunjungan Starmer bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ini mencerminkan tren Eropa yang lebih luas. Negara-negara Benua Biru semakin mencari keterlibatan pragmatis dengan China di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Vince Cable, mantan Menteri Bisnis dan Perdagangan Inggris, memberikan perspektif menarik kepada CGTN.

“Perilaku pemerintahan Trump yang tidak menentu menyebabkan banyak negara Barat, bukan hanya Inggris, menyeimbangkan hubungan mereka dengan cara yang berbeda,” jelas Cable.

Wang Zhanpeng dari Beijing Foreign Studies University menambahkan bahwa kebijakan unilateralisme Trump telah menimbulkan tantangan bagi Eropa. Kunjungan pemimpin Prancis, Irlandia, dan Finlandia ke China baru-baru ini menunjukkan pengakuan bahwa pembangunan China bukanlah ancaman, melainkan peluang.

Baca Juga :  Polda Metro Sikat 141 Curanmor, 317 Ditangkap - Muncul Pertanyaan Efektivitas Pencegahan

Diplomasi Dagang $100 Miliar

Dalam pertemuan tersebut, Xi menggambarkan esensi kerja sama ekonomi China-Inggris sebagai “saling menguntungkan” (win-win).

Hubungan ekonomi tetap menjadi pilar utama. China telah lama menjadi salah satu dari lima mitra dagang teratas Inggris. Perdagangan tahunan konsisten berada di level ratusan miliar dolar.

Data Kementerian Perdagangan China menunjukkan perdagangan barang mencapai $103,7 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, perdagangan jasa diproyeksikan melampaui $30 miliar.

Starmer membuktikan keseriusannya dengan membawa delegasi lebih dari 60 perwakilan dari sektor bisnis dan budaya Inggris.

“Inggris siap mempertahankan pertukaran tingkat tinggi dan memperdalam kerja sama dalam perdagangan, investasi, keuangan, dan perlindungan lingkungan,” janji Starmer.

Kedua pihak sepakat memperluas kolaborasi di sektor masa depan: pendidikan, layanan kesehatan, kecerdasan buatan (AI), biosains, energi terbarukan, dan teknologi rendah karbon.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: Xinhua News Agency

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Berita Terbaru

Solusi komputasi harian yang ringkas. COLORFUL merilis laptop Rimbook L1 Plus berlayar 16 inci 2.5K dan prosesor AMD Ryzen 7 7735HS. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

COLORFUL Resmi Meluncurkan Rimbook L1 Plus Ryzen 7

Jumat, 31 Jul 2026 - 07:10 WIB

Langkah baru pengembangan game Soulslike. Sutradara Xia Siyuan mendirikan studio Chengdu Indolphinity guna menggarap sekuel Wuchang: Fallen Feathers bersama 505 Games. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Penerbit 505 Games Resmi Mengumumkan Sekuel Wuchang

Jumat, 31 Jul 2026 - 06:03 WIB