Misi Damai di Urumqi: China Mediasi Pakistan dan Afghanistan guna Akhiri Konflik Perbatasan

Kamis, 2 April 2026 - 18:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sinergi diplomatik di Asia. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Pakistan untuk meningkatkan upaya mediasi guna membuka kembali Selat Hormuz, mempertegas aliansi strategis kedua negara di tengah peringatan 75 tahun hubungan bilateral. Dok: Istimewa.

Sinergi diplomatik di Asia. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Pakistan untuk meningkatkan upaya mediasi guna membuka kembali Selat Hormuz, mempertegas aliansi strategis kedua negara di tengah peringatan 75 tahun hubungan bilateral. Dok: Istimewa.

URUMQI, POSNEWS.CO.ID – Kota Urumqi di barat laut Tiongkok menjadi saksi upaya diplomatik terbaru untuk meredakan ketegangan di Asia Tengah. Pejabat dari Pakistan dan Afghanistan mulai mengadakan pembicaraan intensif guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Dalam konteks ini, pertemuan tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengunjungi Beijing pada hari Selasa. Dar melakukan koordinasi strategis dengan Menlu China Wang Yi guna menyusun rencana lima poin untuk mengakhiri konflik di kawasan, termasuk upaya menarik Amerika Serikat dan Iran ke meja perundingan.

Pertemuan Urumqi: Menuju Dialog Skala Penuh

Pertemuan di Urumqi berlangsung atas inisiatif langsung dari pemerintah Tiongkok. Seorang pejabat keamanan senior Pakistan mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin oleh pejabat Kementerian Luar Negeri kini sedang berdialog dengan pihak Taliban.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pertemuan ini bertujuan untuk menetapkan dasar bagi dialog skala penuh di masa depan,” ujar seorang pejabat pemerintah Pakistan kepada AFP. Oleh karena itu, China memposisikan dirinya sebagai jangkar stabilitas bagi kedua mitra regionalnya tersebut. Beijing secara konsisten menyerukan agar kedua belah pihak mengedepankan ketenangan dan menahan diri dari tindakan militer lebih lanjut.

Baca Juga :  Putin: Serahkan Donbas atau Kami Rebut Paksa! Uni Eropa Balas dengan Pinjaman Reparasi €90 Miliar

Tuntutan Pakistan dan Penyangkalan Kabul

Meskipun dialog sedang berjalan, posisi tawar Pakistan tetap tidak berubah. Islamabad mendesak Kabul untuk mengambil tindakan yang dapat diverifikasi terhadap kelompok ekstremis yang melakukan serangan lintas batas. Selain itu, Pakistan menuntut penghentian total segala bentuk dukungan terhadap kelompok bersenjata tersebut.

“Kami harus memastikan bahwa wilayah Afghanistan tidak menjadi basis peluncuran serangan terhadap Pakistan,” tegas pejabat tersebut. Sebaliknya, otoritas di Kabul secara konsisten membantah tuduhan bahwa mereka melindungi militan asing. Perbedaan persepsi keamanan ini menjadi hambatan utama yang harus China selesaikan melalui jalur mediasi di tahun 2026 ini.

Latar Belakang Konflik: Dari Serangan Udara ke Tragedi Kabul

Eskalasi pertempuran mencapai puncaknya pada 26 Februari lalu. Konflik memanas setelah Pakistan meluncurkan serangan udara jauh ke dalam wilayah Afghanistan, yang segera dibalas dengan serangan darat oleh pasukan Taliban. Meskipun demikian, kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama hari raya Idulfitri.

Baca Juga :  Perang Terbuka Gedung Putih vs The Fed: Trump Bidik Jerome

Namun, situasi kemanusiaan sempat terguncang hebat dua hari sebelum gencatan senjata berlangsung. Serangan udara Pakistan dilaporkan menghantam sebuah pusat rehabilitasi narkoba di Kabul yang menewaskan lebih dari 400 orang. Meskipun pemerintah Afghanistan mengecam serangan terhadap warga sipil tersebut, Islamabad bersikeras bahwa target pengeboman adalah instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris.

Menanti Terobosan Diplomasi Beijing

Masa depan perdamaian di perbatasan sepanjang 2.600 kilometer ini kini bergantung pada efektivitas mediasi China. Pada akhirnya, keberhasilan pertemuan Urumqi akan diukur dari kemampuan kedua negara untuk mengimplementasikan mekanisme pengawasan keamanan bersama.

Dengan demikian, masyarakat internasional berharap dukungan Tiongkok dapat memberikan jaminan politik yang cukup kuat bagi Pakistan dan Afghanistan untuk menghentikan pertumpahan darah secara permanen. Tanpa adanya kesepakatan konkret mengenai penanganan terorisme lintas batas, stabilitas Asia Tengah akan tetap berada dalam bayang-bayang ancaman perang terbuka di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun
Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan
Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan
Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal
Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO
Afrika Selatan Hentikan Sementara Pemakzulan Presiden
Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina
Pakistan Minta Bantuan Finansial 10 Miliar Dolar AS

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 16:24 WIB

Vietnam Siapkan Aturan Ketat Larang Anak di Bawah 16 Tahun

Sabtu, 25 Juli 2026 - 15:18 WIB

Warga al-Obeid Hadapi Serangan Drone dan Pemerkosaan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:04 WIB

Kanada Batal Gelar Acara Bersama Peresmian Jembatan

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:27 WIB

Houthi Blokade Selat Bab el-Mandeb dan Serang Kapal

Sabtu, 25 Juli 2026 - 10:19 WIB

Mandat B50 Indonesia dan Tensi Geopolitik Tahan Harga CPO

Berita Terbaru