Misi Damai di Urumqi: China Mediasi Pakistan dan Afghanistan guna Akhiri Konflik Perbatasan

Kamis, 2 April 2026 - 18:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di jalur sutra. China memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi antara Pakistan dan Afghanistan di Urumqi untuk merumuskan landasan dialog skala penuh pasca-eskalasi serangan udara mematikan. Dok: Istimewa.

Diplomasi di jalur sutra. China memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi antara Pakistan dan Afghanistan di Urumqi untuk merumuskan landasan dialog skala penuh pasca-eskalasi serangan udara mematikan. Dok: Istimewa.

URUMQI, POSNEWS.CO.ID – Kota Urumqi di barat laut Tiongkok menjadi saksi upaya diplomatik terbaru untuk meredakan ketegangan di Asia Tengah. Pejabat dari Pakistan dan Afghanistan mulai mengadakan pembicaraan intensif guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

Dalam konteks ini, pertemuan tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengunjungi Beijing pada hari Selasa. Dar melakukan koordinasi strategis dengan Menlu China Wang Yi guna menyusun rencana lima poin untuk mengakhiri konflik di kawasan, termasuk upaya menarik Amerika Serikat dan Iran ke meja perundingan.

Pertemuan Urumqi: Menuju Dialog Skala Penuh

Pertemuan di Urumqi berlangsung atas inisiatif langsung dari pemerintah Tiongkok. Seorang pejabat keamanan senior Pakistan mengonfirmasi bahwa delegasi yang dipimpin oleh pejabat Kementerian Luar Negeri kini sedang berdialog dengan pihak Taliban.

“Pertemuan ini bertujuan untuk menetapkan dasar bagi dialog skala penuh di masa depan,” ujar seorang pejabat pemerintah Pakistan kepada AFP. Oleh karena itu, China memposisikan dirinya sebagai jangkar stabilitas bagi kedua mitra regionalnya tersebut. Beijing secara konsisten menyerukan agar kedua belah pihak mengedepankan ketenangan dan menahan diri dari tindakan militer lebih lanjut.

Baca Juga :  Pemerintahan Trump Luncurkan Dua Investigasi Baru Terhadap Harvard

Tuntutan Pakistan dan Penyangkalan Kabul

Meskipun dialog sedang berjalan, posisi tawar Pakistan tetap tidak berubah. Islamabad mendesak Kabul untuk mengambil tindakan yang dapat diverifikasi terhadap kelompok ekstremis yang melakukan serangan lintas batas. Selain itu, Pakistan menuntut penghentian total segala bentuk dukungan terhadap kelompok bersenjata tersebut.

“Kami harus memastikan bahwa wilayah Afghanistan tidak menjadi basis peluncuran serangan terhadap Pakistan,” tegas pejabat tersebut. Sebaliknya, otoritas di Kabul secara konsisten membantah tuduhan bahwa mereka melindungi militan asing. Perbedaan persepsi keamanan ini menjadi hambatan utama yang harus China selesaikan melalui jalur mediasi di tahun 2026 ini.

Latar Belakang Konflik: Dari Serangan Udara ke Tragedi Kabul

Eskalasi pertempuran mencapai puncaknya pada 26 Februari lalu. Konflik memanas setelah Pakistan meluncurkan serangan udara jauh ke dalam wilayah Afghanistan, yang segera dibalas dengan serangan darat oleh pasukan Taliban. Meskipun demikian, kedua belah pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama hari raya Idulfitri.

Baca Juga :  Heboh di Bekasi! Ritual ‘Masuk Surga Rp1 Juta’ Bikin PP Muhammadiyah & MUI Turun Tangan

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, situasi kemanusiaan sempat terguncang hebat dua hari sebelum gencatan senjata berlangsung. Serangan udara Pakistan dilaporkan menghantam sebuah pusat rehabilitasi narkoba di Kabul yang menewaskan lebih dari 400 orang. Meskipun pemerintah Afghanistan mengecam serangan terhadap warga sipil tersebut, Islamabad bersikeras bahwa target pengeboman adalah instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris.

Menanti Terobosan Diplomasi Beijing

Masa depan perdamaian di perbatasan sepanjang 2.600 kilometer ini kini bergantung pada efektivitas mediasi China. Pada akhirnya, keberhasilan pertemuan Urumqi akan diukur dari kemampuan kedua negara untuk mengimplementasikan mekanisme pengawasan keamanan bersama.

Dengan demikian, masyarakat internasional berharap dukungan Tiongkok dapat memberikan jaminan politik yang cukup kuat bagi Pakistan dan Afghanistan untuk menghentikan pertumpahan darah secara permanen. Tanpa adanya kesepakatan konkret mengenai penanganan terorisme lintas batas, stabilitas Asia Tengah akan tetap berada dalam bayang-bayang ancaman perang terbuka di sisa tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kasus Amsal Sitepu Memanas, DPR Minta Kajari Karo Dicopot – Kontroversi Brownies Terungkap
15 Ribu Korban, Dana Rp2,4 T Raib – Dude Herlino Terseret Kasus DSI Angkat Bicara
Eks Karyawan Bobol Depot Air di Pademangan, Gondol Uang dan Motor
Gempa M7,6 Bitung Tewaskan 1 Orang, BNPB Minta Daerah Tetapkan Status Darurat
Korban Kebakaran SPBE Cimuning Bekasi Bertambah Jadi 17 Orang, Satu Kritis
Sindikat Bobol Dana BOS Rp942 Juta Dibongkar, Polda Sumsel Tangkap 4 Pelaku
Afrika Selatan Kerahkan Pasukan ke Cape Town Lawan Teror Geng Kriminal
Ledakan SPBE Cimuning Bekasi, 12 Korban Luka Bakar, Polisi Libatkan Labfor Selidiki Penyebab

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 20:28 WIB

Kasus Amsal Sitepu Memanas, DPR Minta Kajari Karo Dicopot – Kontroversi Brownies Terungkap

Kamis, 2 April 2026 - 20:13 WIB

15 Ribu Korban, Dana Rp2,4 T Raib – Dude Herlino Terseret Kasus DSI Angkat Bicara

Kamis, 2 April 2026 - 19:53 WIB

Eks Karyawan Bobol Depot Air di Pademangan, Gondol Uang dan Motor

Kamis, 2 April 2026 - 18:40 WIB

Misi Damai di Urumqi: China Mediasi Pakistan dan Afghanistan guna Akhiri Konflik Perbatasan

Kamis, 2 April 2026 - 18:26 WIB

Gempa M7,6 Bitung Tewaskan 1 Orang, BNPB Minta Daerah Tetapkan Status Darurat

Berita Terbaru