Masyarakat Tontonan: Bagaimana Media Sosial Mengubah Realitas Menjadi Citra

Minggu, 5 April 2026 - 08:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilusi di balik layar. Guy Debord membedah cara masyarakat modern lebih memprioritaskan

Ilusi di balik layar. Guy Debord membedah cara masyarakat modern lebih memprioritaskan "terlihat" daripada "menjadi", mengubah setiap momen kehidupan menjadi tontonan yang terjual di pasar digital tahun 2026. Dok: Istimewa.

PARIS, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa sebuah momen belum benar-benar terjadi sebelum Anda mengunggahnya ke media sosial? Di tahun 2026, perasaan ini merupakan gejala dari apa yang Guy Debord sebut sebagai “Masyarakat Tontonan”. Dalam konteks ini, realitas fisik kita kini telah terjajah oleh representasi visual yang tak kunjung usai.

Langkah filsafat Debord bertujuan untuk menyadarkan kita bahwa kita bukan lagi penonton kehidupan kita sendiri. Oleh karena itu, memahami Situasionisme adalah kunci untuk melihat bagaimana algoritma telah mengubah identitas manusia menjadi sekadar piksel yang indah namun hampa.

Konsep The Society of the Spectacle: Penjajahan Citra

Guy Debord merumuskan tesis bahwa tontonan bukanlah sekadar kumpulan gambar. Sebaliknya, tontonan adalah hubungan sosial antarmanusia yang pemerintah dan korporasi mediasi melalui citra. Bahkan, ia memetakan evolusi degradasi manusia dalam tiga tahap:

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  1. Tahap Menjadi (Being): Fokus pada kualitas hidup dan karakter.
  2. Tahap Memiliki (Having): Fokus pada akumulasi barang materi.
  3. Tahap Terlihat (Appearing): Puncak masyarakat tontonan, di mana nilai seseorang ditentukan oleh penampilannya.
Baca Juga :  Demi Kontrol Perbatasan, Keir Starmer Desak Eropa Kebiri Aturan HAM

Sebagai hasilnya, di tahun 2026, kebenaran sebuah peristiwa sering kali kalah oleh seberapa viral foto peristiwa tersebut. Kita tidak lagi menjalani hidup, melainkan sibuk mengkurasi “wajah” hidup kita agar layak masyarakat tonton.

Komodifikasi Pengalaman melalui Layar Digital

Media sosial telah berhasil mengubah setiap hembusan napas manusia menjadi produk ekonomi. Dalam hal ini, pengalaman otentik seperti liburan, makan malam, atau kesedihan kini memiliki nilai tukar berupa likes dan engagement. Lebih lanjut, layar digital bertindak sebagai filter yang menyaring kerumitan realitas menjadi klip-klip singkat yang menghibur.

Oleh sebab itu, manusia modern mengalami alienasi yang sangat dalam. Kita merasa terhubung secara digital, namun kehilangan sentuhan nyata dengan diri sendiri. Korporasi teknologi besar di tahun 2026 memanfaatkan data emosi kita untuk menciptakan tontonan yang membuat kita tetap menatap layar. Akibatnya, batas antara kehidupan pribadi dan iklan telah runtuh sepenuhnya, menjadikan kita aktor sekaligus produk dalam pasar citra global.

Merebut Kembali Otentisitas: Strategi Situasionis

Meskipun demikian, Debord dan gerakan Situasionis menawarkan senjata untuk melawan. Mereka memperkenalkan konsep Détournement, yaitu upaya untuk mengambil elemen dari tontonan (seperti iklan atau logo) dan mengubah maknanya guna meluncurkan kritik balik. Selain itu, terdapat metode Dérive atau “hanyut”.

Baca Juga :  Vince Zampella, Sang Bapak Call of Duty, Tewas Tragis di Usia 55

Secara khusus, Dérive mengajak kita untuk berjalan di kota tanpa tujuan, mengabaikan petunjuk navigasi algoritma atau rute belanja yang lazim. Langkah ini bertujuan untuk merasakan ruang secara murni tanpa campur tangan kepentingan ekonomi. Di tahun 2026, merebut kembali otentisitas berarti berani mematikan kamera dan menjalani momen tanpa keinginan untuk membagikannya. Kejujuran terhadap pengalaman saat ini adalah bentuk perlawanan paling radikal terhadap tirani pencitraan.

Menjadi Manusia di Balik Tampilan

Masa depan kedaulatan berpikir kita bergantung pada kemampuan untuk membedakan antara realitas dan tontonan. Pada akhirnya, Guy Debord mengingatkan bahwa tontonan hanya ingin kita tetap diam dan patuh sebagai penonton yang konsumtif.

Dengan demikian, dunia memerlukan lebih banyak individu yang memilih untuk “menjadi” daripada sekadar “terlihat”. Di tahun 2026, kebijaksanaan sejati adalah kemampuan untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal yang tidak bisa algoritma rekam atau kapitalisasi. Kita harus memastikan bahwa hidup kita tetap menjadi milik kita sendiri, bukan sekadar konten bagi mata orang lain di luar sana.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru

Presiden Xi Jinping menyerukan blok BRICS menjadi juru damai konflik Timur Tengah pada KTT New Delhi serta mempererat hubungan diplomatik dengan India. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:57 WIB

2.713 penari dari 12 negara membawakan Tari Semarak Jali-Jali Betawi di Ancol. (Posnews/Ancol)

JABODETABEK

Budaya Betawi Mendunia, 2.713 Penari Pecahkan Rekor MURI di Ancol

Minggu, 13 Sep 2026 - 20:41 WIB

Hakim federal AS membatalkan rencana pemangkasan 50% staf FEMA era pemerintahan Trump. Keputusan ini dinilai menegakkan undang-undang perlindungan FEMA. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:56 WIB