Produsen Minyak Teluk Aktifkan Jalur Lintas Darat Guna Hindari Selat Hormuz

Minggu, 5 April 2026 - 13:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mencari jalan keluar. Kelumpuhan Selat Hormuz selama satu bulan memaksa raksasa energi seperti Arab Saudi, UEA, dan Irak memobilisasi jaringan pipa darat dan jalur truk guna menjaga napas ekspor energi dunia. Dok: Istimewa.

Mencari jalan keluar. Kelumpuhan Selat Hormuz selama satu bulan memaksa raksasa energi seperti Arab Saudi, UEA, dan Irak memobilisasi jaringan pipa darat dan jalur truk guna menjaga napas ekspor energi dunia. Dok: Istimewa.

DUBAI, POSNEWS.CO.ID – Arteri utama energi dunia, Selat Hormuz, kini berada dalam kondisi kritis. Gangguan pelayaran akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah berlangsung selama lebih dari empat pekan.

Dalam konteks ini, para produsen minyak utama di kawasan Teluk mulai mempercepat upaya untuk mengamankan rute ekspor alternatif. Langkah strategis ini bertujuan untuk menghindari “titik sumbat” Hormuz yang kini menjadi zona tempur paling berbahaya bagi kapal tanker internasional.

Pengalihan Arus ke Laut Merah dan Teluk Oman

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kini beralih sepenuhnya ke infrastruktur pipa darat. Secara khusus, Arab Saudi mengandalkan Pipa Lintas Timur-Barat yang membentang sepanjang 1.200 kilometer menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menegaskan bahwa pipa tersebut merupakan satu-satunya jalur alternatif yang layak saat ini. Bahkan, data pasar menunjukkan pipa ini mengalirkan hingga 7 juta barel per hari guna memenuhi kontrak global. Sementara itu, UEA memanfaatkan Pipa Minyak Mentah Abu Dhabi sepanjang 420 kilometer yang terhubung langsung ke Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman. Strategi ini memungkinkan Abu Dhabi mengirimkan 1,5 juta barel per hari tanpa harus menyentuh perairan Selat Hormuz.

Baca Juga :  Erick Thohir Yakin Timnas Indonesia U-17, Generasi Emas Sepak Bola Nasional

Irak dan Koridor Utara menuju Mediterania

Irak menghadapi tantangan yang lebih berat karena sangat bergantung pada jalur laut melalui Teluk. Sebelumnya, ekspor minyak Irak mencapai 3,5 juta barel per hari sebelum konflik meletus. Akibatnya, Baghdad terpaksa memangkas produksi secara drastis akibat kemacetan logistik.

Guna memulihkan kapasitas ekspor, Irak mengaktifkan kembali koridor pipa utara dari Kirkuk menuju Pelabuhan Ceyhan di Turki. Selain itu, otoritas sedang merehabilitasi segmen pipa sepanjang 300 kilometer yang langsung menuju perbatasan Turki. Kementerian Perminyakan Irak menargetkan kapasitas rute ini dapat mencapai 650.000 barel per hari dalam waktu dekat, termasuk rencana pembangunan pipa baru menuju pesisir Suriah di Mediterania.

Dilema Logistik: Jalur Truk dan Risiko Keamanan

Meskipun demikian, ketergantungan pada pipa darat memiliki batasan fisik yang nyata. Total kapasitas seluruh rute alternatif saat ini hanya sekitar 9 juta barel per hari. Angka tersebut masih sangat jauh dibandingkan volume normal Selat Hormuz yang mencapai 20 juta barel per hari.

Sebagai langkah darurat tambahan, Irak mempertimbangkan pengangkutan minyak menggunakan truk menuju pelabuhan Baniyas di Suriah dan Aqaba di Yordania. Namun, metode ini dianggap tidak efisien dan mahal. Satu unit truk hanya mampu membawa maksimal 700 barel per hari. Oleh karena itu, diperlukan ribuan armada truk yang justru sangat rentan terhadap serangan drone atau rudal di tengah medan perang yang tidak menentu.

Turki dan Rencana Diversifikasi Multi-Jalur

Melihat volatilnya situasi, Turki mulai mengembangkan berbagai opsi transit darurat. Laporan media menyebutkan Ankara sedang mengkaji lima koridor alternatif yang menggabungkan jalur darat dan laut. Dalam hal ini, rute tersebut mencakup jalur melalui Irak, Suriah, hingga koridor Terusan Suez-Laut Merah.

Para analis memperingatkan bahwa seluruh jalur alternatif ini tetap berada dalam jangkauan serangan militer selama perang Iran belum usai. Pada akhirnya, keamanan energi global sangat bergantung pada kemampuan negara-negara Teluk dalam membangun jaringan transportasi yang fleksibel dan tahan banting. Krisis tahun 2026 ini membuktikan bahwa ketergantungan pada satu jalur maritim adalah bentuk kerentanan kedaulatan yang sangat berbahaya bagi ekonomi dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi, Lebih 10.000 Liter Disita dari Darat dan Laut
JK Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Siap Laporkan ke Bareskrim
Polisi Bongkar Kedok Konter HP di Kabupaten Bogor, Jual Tramadol Ilegal
Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi
Pemotor Tewas Terlindas Truk Dinas TNI AD di Kalideres, Sopir Diperiksa
Petani di Bone Tewas Ditikam, Pelaku Ngaku Sakit Hati soal Perselingkuhan
UNESCO Tunjuk Profesor Tiongkok Chen Qun sebagai Asisten Direktur Jenderal
Iran Serang Tanker Minyak Prima Menggunakan Drone di Selat Hormuz

Berita Terkait

Minggu, 5 April 2026 - 20:59 WIB

Polda Riau Bongkar Mafia Solar Subsidi, Lebih 10.000 Liter Disita dari Darat dan Laut

Minggu, 5 April 2026 - 20:40 WIB

JK Bantah Tuduhan Danai Isu Ijazah Jokowi Rp5 Miliar, Siap Laporkan ke Bareskrim

Minggu, 5 April 2026 - 18:44 WIB

Polisi Bongkar Kedok Konter HP di Kabupaten Bogor, Jual Tramadol Ilegal

Minggu, 5 April 2026 - 18:39 WIB

Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Minggu, 5 April 2026 - 18:28 WIB

Pemotor Tewas Terlindas Truk Dinas TNI AD di Kalideres, Sopir Diperiksa

Berita Terbaru

Imigrasi sebagai alat tawar. Washington menjajaki kerja sama dengan Republik Demokratik Kongo untuk memproses deportasi migran ilegal, menyatukan isu perbatasan dengan kepentingan strategis mineral kritis di Afrika. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Diplomasi Transnasional: AS Dekati DR Kongo untuk Skema Deportasi

Minggu, 5 Apr 2026 - 18:39 WIB