AS dan Iran Bersitegang dalam Pembukaan Konferensi NPT di PBB

Selasa, 28 April 2026 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Pukulan diplomasi bagi Berlin. Jerman gagal mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB akibat aksi lobi Rusia serta komitmen kuat Jerman terhadap pertahanan Ukraina dan Israel. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Pukulan diplomasi bagi Berlin. Jerman gagal mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB akibat aksi lobi Rusia serta komitmen kuat Jerman terhadap pertahanan Ukraina dan Israel. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Markas Besar PBB menyaksikan bentrokan diplomatik sengit antara Amerika Serikat dan Iran pada pembukaan konferensi peninjauan nuklir selama sebulan penuh. Sebanyak 191 negara anggota berkumpul untuk mengevaluasi implementasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun perselisihan tajam kedua negara langsung mengalihkan fokus pertemuan tersebut.

Perselisihan memuncak saat Gerakan Non-Blok memilih Iran sebagai salah satu dari 34 wakil presiden konferensi. Langkah ini memicu reaksi keras dari delegasi Amerika Serikat yang memandang Teheran melanggar komitmen nuklir mereka secara sistematis.

Kontroversi Kursi Wakil Presiden: “Sangat Memalukan”

Asisten Sekretaris Negara AS untuk Pengendalian Senjata, Christopher Yeaw, melontarkan kritik pedas atas hasil pemilihan tersebut. Ia menilai posisi Iran sebagai pemimpin konferensi menodai integritas NPT. “Daripada membela integritas NPT dan menuntut pertanggungjawaban Iran, konferensi ini justru memilih Iran sebagai Wakil Presiden. Ini sangat memalukan dan merusak kredibilitas pertemuan ini,” tegas Yeaw.

Amerika Serikat mendapat dukungan dari Australia dan Uni Emirat Arab dalam menyikapi hal tersebut. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman juga menyatakan kekhawatiran mendalam atas pengayaan uranium Iran yang telah mencapai tingkat senjata militer.

Tuntutan Timbal Balik: Nuklir vs Blokade Maritim

Iran mengajukan proposal kompromi yang kontroversial di tengah hiruk-pikuk diplomasi tersebut. Teheran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional jika Amerika Serikat mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran dan mengakhiri perang. Namun, Teheran meminta penangguhan diskusi mengenai program nuklir mereka hingga seluruh sengketa pelayaran dan konflik berakhir.

Sikap ini kemungkinan besar tidak akan memuaskan Washington. AS bersikeras bahwa kedua pihak harus menyelesaikan isu nuklir sejak awal perundingan. Terlebih lagi, Iran hingga saat ini masih membatasi akses inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke situs-situs nuklir yang menjadi sasaran serangan udara AS pada Juni lalu.

Ancaman Global: Peringatan Keras Sekjen PBB

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memberikan peringatan keras dalam sesi pembukaan. Ia mendesak negara-negara anggota agar bersatu menyelamatkan kemanusiaan dari ancaman pemusnahan nuklir. Guterres menyoroti fakta mengkhawatirkan bahwa jumlah hulu ledak nuklir di dunia kembali meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Baca Juga :  Pramono Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 27 Januari, Jakarta Siaga Hujan Ekstrem

Ia juga menekankan bahaya baru di era kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum. Guterres mendesak umat manusia agar tidak pernah menyerahkan kendali penggunaan senjata nuklir kepada teknologi. “Selama dunia belum memusnahkan senjata nuklir, manusia tidak boleh kehilangan kendali atas penggunaannya,” tegasnya di hadapan para delegasi.

Posisi Rusia dan Eskalasi Geopolitik

Dukungan terhadap Iran datang dari Rusia. Duta Besar Rusia, Andrey Belousov, menyatakan keberatan terhadap tindakan yang menyudutkan Iran sejak hari pertama konferensi. Rusia berharap politisasi ini tidak akan merusak hasil akhir pertemuan yang krusial bagi keamanan global tersebut.

Pada hari yang sama, media melaporkan pertemuan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperkuat aliansi. Banyak pihak memandang Rusia sebagai pihak yang bersedia menampung cadangan uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari solusi potensial, meskipun konflik yang sedang berlangsung terus menyulitkan langkah-langkah diplomasi tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih
Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China
El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 16:12 WIB

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:09 WIB

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Berita Terbaru

Langkah taktis amankan benteng udara. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menemui Donald Trump di Washington guna membahas produksi mandiri rudal Patriot. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Zelenskyy dan Trump Gelar Pertemuan Penting di Gedung Putih

Kamis, 30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Langkah taktis Teheran amankan wilayah udara. Iran membeli 400 peluncur rudal panggul buatan China bernilai 70 juta dolar AS guna memperkuat pertahanan. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Iran Borong 400 Peluncur Rudal Panggul Buatan China

Kamis, 30 Jul 2026 - 14:09 WIB