AS dan Iran Bersitegang dalam Pembukaan Konferensi NPT di PBB

Selasa, 28 April 2026 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Jepang menegaskan dukungan kepada ICC dan prihatin atas sanksi Amerika Serikat demi menjaga supremasi hukum internasional. Dok: Istimewa.

Ilustrasi, Jepang menegaskan dukungan kepada ICC dan prihatin atas sanksi Amerika Serikat demi menjaga supremasi hukum internasional. Dok: Istimewa.

NEW YORK, POSNEWS.CO.ID – Markas Besar PBB menyaksikan bentrokan diplomatik sengit antara Amerika Serikat dan Iran pada pembukaan konferensi peninjauan nuklir selama sebulan penuh. Sebanyak 191 negara anggota berkumpul untuk mengevaluasi implementasi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), namun perselisihan tajam kedua negara langsung mengalihkan fokus pertemuan tersebut.

Perselisihan memuncak saat Gerakan Non-Blok memilih Iran sebagai salah satu dari 34 wakil presiden konferensi. Langkah ini memicu reaksi keras dari delegasi Amerika Serikat yang memandang Teheran melanggar komitmen nuklir mereka secara sistematis.

Kontroversi Kursi Wakil Presiden: “Sangat Memalukan”

Asisten Sekretaris Negara AS untuk Pengendalian Senjata, Christopher Yeaw, melontarkan kritik pedas atas hasil pemilihan tersebut. Ia menilai posisi Iran sebagai pemimpin konferensi menodai integritas NPT. “Daripada membela integritas NPT dan menuntut pertanggungjawaban Iran, konferensi ini justru memilih Iran sebagai Wakil Presiden. Ini sangat memalukan dan merusak kredibilitas pertemuan ini,” tegas Yeaw.

Amerika Serikat mendapat dukungan dari Australia dan Uni Emirat Arab dalam menyikapi hal tersebut. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman juga menyatakan kekhawatiran mendalam atas pengayaan uranium Iran yang telah mencapai tingkat senjata militer.

Tuntutan Timbal Balik: Nuklir vs Blokade Maritim

Iran mengajukan proposal kompromi yang kontroversial di tengah hiruk-pikuk diplomasi tersebut. Teheran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional jika Amerika Serikat mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran dan mengakhiri perang. Namun, Teheran meminta penangguhan diskusi mengenai program nuklir mereka hingga seluruh sengketa pelayaran dan konflik berakhir.

Sikap ini kemungkinan besar tidak akan memuaskan Washington. AS bersikeras bahwa kedua pihak harus menyelesaikan isu nuklir sejak awal perundingan. Terlebih lagi, Iran hingga saat ini masih membatasi akses inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke situs-situs nuklir yang menjadi sasaran serangan udara AS pada Juni lalu.

Ancaman Global: Peringatan Keras Sekjen PBB

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, memberikan peringatan keras dalam sesi pembukaan. Ia mendesak negara-negara anggota agar bersatu menyelamatkan kemanusiaan dari ancaman pemusnahan nuklir. Guterres menyoroti fakta mengkhawatirkan bahwa jumlah hulu ledak nuklir di dunia kembali meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Baca Juga :  Viral Tawuran Kembang Api 2 Kelompok Pemuda di Cilincing, Ini Penjelasan Polisi

Ia juga menekankan bahaya baru di era kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kuantum. Guterres mendesak umat manusia agar tidak pernah menyerahkan kendali penggunaan senjata nuklir kepada teknologi. “Selama dunia belum memusnahkan senjata nuklir, manusia tidak boleh kehilangan kendali atas penggunaannya,” tegasnya di hadapan para delegasi.

Posisi Rusia dan Eskalasi Geopolitik

Dukungan terhadap Iran datang dari Rusia. Duta Besar Rusia, Andrey Belousov, menyatakan keberatan terhadap tindakan yang menyudutkan Iran sejak hari pertama konferensi. Rusia berharap politisasi ini tidak akan merusak hasil akhir pertemuan yang krusial bagi keamanan global tersebut.

Pada hari yang sama, media melaporkan pertemuan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperkuat aliansi. Banyak pihak memandang Rusia sebagai pihak yang bersedia menampung cadangan uranium yang diperkaya milik Iran sebagai bagian dari solusi potensial, meskipun konflik yang sedang berlangsung terus menyulitkan langkah-langkah diplomasi tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar
Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati
Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali
Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan
Pembangunan Kota Vietnam Mengancam Keberadaan Hutan
Tiongkok Tampil Sebagai Pemasok Utama Teknologi Air Global
Ancaman Ruyung dan Tabrakan Mobil Memicu Kekhawatiran

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 07:32 WIB

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 09:19 WIB

Perayaan Meriah Festival Sembilan Dewa Kaisar

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Fenomena Fesyen Gothic Lolita Jepang Kembali Memikat Hati

Selasa, 27 Oktober 2026 - 07:14 WIB

Lonceng Perdamaian Cenderamata Jepang Ditemukan Kembali

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Hiu Viral Bukang-i Kembali Menerobos Masuk ke Kanal Kota Busan

Berita Terbaru

PM Jepang Sanae Takaichi dan Kanselir Jerman Friedrich Merz sepakat bekerja sama amankan pasokan mineral kritis. Simak detail strategi de-risking kedua negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Jumat, 30 Okt 2026 - 07:32 WIB