Zelenskyy Peringatkan Sekutu Rusia Saat Moskow Ancam Bom Kyiv

Sabtu, 9 Mei 2026 - 06:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diplomasi di bawah bayang-bayang rudal. Presiden Zelenskyy mendesak sekutu Rusia untuk membatalkan kehadiran dalam parade 9 Mei di Moskow, sementara militer Rusia memerintahkan warga Kyiv segera mengungsi di bawah ancaman serangan balasan masif. Dok: Istimewa.

Diplomasi di bawah bayang-bayang rudal. Presiden Zelenskyy mendesak sekutu Rusia untuk membatalkan kehadiran dalam parade 9 Mei di Moskow, sementara militer Rusia memerintahkan warga Kyiv segera mengungsi di bawah ancaman serangan balasan masif. Dok: Istimewa.

KYIV, POSNEWS.CO.ID – Atmosfer peperangan di Eropa Timur semakin memanas menjelang peringatan Hari Kemenangan Rusia pada 9 Mei. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, secara resmi memperingatkan negara-negara sahabat Rusia agar menjauh dari Lapangan Merah di Moskow.

Zelenskyy menyampaikan pesan tersebut melalui pidato video rutin dari pusat kota Kyiv pada Kamis sore. Ia menilai kehadiran perwakilan asing dalam acara patriotik Vladimir Putin tersebut sebagai sebuah “keinginan yang aneh” di tengah situasi konflik yang masih berkecamuk.

Ancaman Serangan Masif ke Ibu Kota Kyiv

Beberapa menit sebelum pidato Zelenskyy, Kementerian Pertahanan Rusia merilis pernyataan yang sangat mengkhawatirkan. Otoritas militer Moskow mendesak warga sipil dan staf misi diplomatik asing untuk segera mengevakuasi diri dari Kyiv.

Moskow mengeklaim serangan balasan tersebut merupakan opsi nyata jika Ukraina mengganggu periode gencatan senjata sepihak yang Rusia tetapkan pada 8 hingga 10 Mei. “Kami mengingatkan penduduk sipil dan staf diplomatik akan kebutuhan untuk meninggalkan kota pada waktu yang tepat,” tulis pernyataan resmi tersebut. Inggris segera mengecam ancaman itu sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dibenarkan.

Baca Juga :  Jepang Perkuat Intelijen: PM Takaichi Dorong Ekspor Senjata

Parade Tanpa Tank dan Pemadaman Internet

Parade tahun 2026 ini akan terlihat sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Rusia secara mengejutkan memutuskan untuk tidak menyertakan perangkat keras militer, seperti tank dan sistem rudal, dalam prosesi kali ini. Ini merupakan pertama kalinya dalam hampir 20 tahun parade berlangsung tanpa alat tempur berat.

Keputusan tersebut muncul setelah Kyiv meningkatkan intensitas serangan drone yang mampu menjangkau ratusan mil hingga ke jantung wilayah Rusia. Selain itu, otoritas Moskow mulai memberlakukan pemadaman internet kota secara berkala hingga hari Sabtu. Langkah ini bertujuan untuk mengganggu navigasi drone dan komunikasi koordinasi serangan jarak jauh dari pihak Ukraina.

Loyalitas Sekutu dan Posisi Diplomat

Laporan terbaru menunjukkan penyusutan drastis pada daftar tamu asing Rusia. Berdasarkan data Kremlin, hanya pemimpin dari Belarus, Malaysia, dan Laos yang telah mengonfirmasi kehadiran mereka. Tokoh-tokoh dari wilayah pecahan Georgia yang tidak mendapatkan pengakuan PBB juga akan mengisi kursi kehormatan sesuai jadwal acara.

Baca Juga :  Kapolda Metro Jaya Buka Pendidikan Bintara Polri 2025, Irjen Karyoto: Polisi itu Jalan Hidup

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sisi lain, perlawanan diplomatik tetap terlihat di Kyiv. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan bahwa Berlin tidak akan menarik staf kedutaan mereka keluar dari ibu kota Ukraina meskipun terdapat ancaman rudal. Sumber kepresidenan menyebut Zelenskyy tetap bertahan di posisinya di Kyiv selama akhir pekan perayaan tersebut berlangsung.

Kebuntuan Politik dan Prioritas Global

Dunia masih belum menemukan titik temu untuk mengakhiri konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II ini. Konflik di Iran yang saat ini menyerap perhatian dunia meminggirkan proses negosiasi antara Rusia dan Ukraina.

Rusia tetap pada tuntutan kaku agar Ukraina menarik diri dari empat wilayah yang Moskow klaim secara sepihak. Maka dari itu, Kyiv menolak syarat tersebut karena menganggapnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima. Singkatnya, peringatan 9 Mei mendatang bukan lagi sekadar seremoni kemenangan masa lalu, melainkan barometer ketegangan militer paling berbahaya di tahun 2026.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Amankan Puluhan WNA di Jakarta Barat
Polisi Gagalkan Tawuran di Jakarta Timur, 10 Remaja Ditangkap Bawa Sajam
Pengadilan Batalkan Kebijakan Tarif Global Donald Trump
WHO Konfirmasi Virus Andes pada MV Hondius: Alarm Krisis Iklim
Ayah Tiri Aniaya Bocah 4 Tahun di Langkat, Istri Diikat hingga Pagi
Premier Li Qiang Tegaskan Garis Merah Taiwan kepada Senat AS
Kapolri Mutasi 9 Kapolda, Ini Daftar Lengkap Pejabat Baru
Prediksi Cuaca Jabodetabek Hari Ini, Jakarta Berawan dan Bogor Diguyur Hujan

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:40 WIB

Polisi Bongkar Jaringan Judi Online Internasional, Amankan Puluhan WNA di Jakarta Barat

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:19 WIB

Polisi Gagalkan Tawuran di Jakarta Timur, 10 Remaja Ditangkap Bawa Sajam

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:15 WIB

Pengadilan Batalkan Kebijakan Tarif Global Donald Trump

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:10 WIB

WHO Konfirmasi Virus Andes pada MV Hondius: Alarm Krisis Iklim

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:14 WIB

Ayah Tiri Aniaya Bocah 4 Tahun di Langkat, Istri Diikat hingga Pagi

Berita Terbaru

Ilustrasi, Pengadilan Perdagangan Internasional AS menyatakan tarif global 10% yang ditetapkan Presiden Donald Trump ilegal. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Pengadilan Batalkan Kebijakan Tarif Global Donald Trump

Sabtu, 9 Mei 2026 - 10:15 WIB

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengonfirmasi kasus hantavirus pada warga negaranya di pulau terpencil Tristan da Cunha. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

WHO Konfirmasi Virus Andes pada MV Hondius: Alarm Krisis Iklim

Sabtu, 9 Mei 2026 - 09:10 WIB