BRUSSEL, POSNEWS.CO.ID – Kondisi iklim dunia memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan. Pemantau iklim Uni Eropa menyatakan bahwa suhu samudra saat ini terus merayap menuju level rekor tertinggi seiring dengan pergeseran pola cuaca menuju fenomena El Niño yang berpotensi sangat kuat.
Samantha Burgess dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) mengungkapkan bahwa suhu permukaan laut dalam beberapa hari terakhir hampir menyamai rekor tertinggi tahun 2024. Bahkan, Burgess memprediksi bulan Mei 2026 akan memecahkan rekor suhunya sendiri hanya dalam hitungan hari.
Gelombang Panas Laut dan Transisi El Niño
Layanan Perubahan Iklim Copernicus mencatat bahwa suhu permukaan laut pada April lalu “beringsut secara bertahap” menuju angka tertinggi. Fenomena ini merupakan refleksi nyata dari transisi menuju El Niño yang para ahli perkirakan akan tiba dalam beberapa bulan mendatang.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga telah mengeluarkan peringatan serupa. Kondisi El Niño kemungkinan besar akan berkembang antara Mei hingga Juli 2026. Oleh karena itu, siklus iklim alami di Samudra Pasifik ini diprediksi akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kekeringan, curah hujan ekstrem, dan berbagai peristiwa cuaca anomali lainnya di berbagai belahan dunia.
Prediksi 2027: Tahun Terpanas dalam Sejarah?
Sejumlah lembaga cuaca memprediksi bahwa El Niño kali ini akan menjadi fenomena “super” yang mampu menyaingi kekuatan El Niño tiga dekade silam. Zeke Hausfather, ilmuwan dari Berkeley Earth, menilai bahwa El Niño yang kuat akan meningkatkan peluang tahun 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah manusia catat.
Dalam hal ini, Samantha Burgess mendukung pandangan tersebut. “Kita kemungkinan besar akan melihat tahun 2027 melampaui rekor tahun 2024 sebagai tahun terpanas,” tegas Burgess. Ia menjelaskan bahwa dampak El Niño terhadap suhu global biasanya baru mencapai puncaknya satu tahun setelah fenomena tersebut mencapai intensitas tertinggi.
Latar Belakang: Dampak Emisi Gas Rumah Kaca
Para ilmuwan menekankan bahwa El Niño bukan satu-satunya penyebab kehangatan lautan yang luar biasa ini. Fenomena tersebut terjadi di atas latar belakang pemanasan global jangka panjang yang pemicu utamanya adalah emisi gas rumah kaca.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Samudra berperan krusial dengan menyerap sekitar 90 persen kelebihan panas hasil aktivitas manusia. Laporan bulanan Copernicus merinci fakta-fakta berikut:
- Suhu April: Menjadi April terpanas ketiga secara global.
- Ambang Batas: Suhu dunia berada 1,43°C di atas tolok ukur pra-industri (1850-1900).
- Es Arktik: Luas es laut Kutub Utara tetap berada di dekat rekor terendah.
Menghadapi Musim Panas yang Ekstrem
Kondisi lautan yang memanas ini menjadi fondasi bagi musim panas yang lebih panas dan kering di Eropa, yang meningkatkan risiko kebakaran hutan serta kekeringan parah. Masyarakat internasional kini harus bersiap menghadapi rentetan peristiwa ekstrem yang kian sering terjadi.
Singkatnya, setiap bulan memberikan data baru bahwa dampak perubahan iklim menciptakan peristiwa-peristiwa yang semakin tidak terduga. Di tahun 2026 ini, keberhasilan mitigasi emisi menjadi satu-satunya jalan untuk mengerem laju kenaikan suhu yang mengancam stabilitas biosfer Bumi di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












