Trump dan Xi Jinping Bertemu di Beijing Bahas Krisis Iran

Selasa, 12 Mei 2026 - 13:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Navigasi hubungan adidaya. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing guna melakukan pembicaraan tatap muka perdana dalam enam bulan dengan Presiden Xi Jinping, membawa agenda ekonomi besar di tengah ketegangan perang Iran. Dok: Istimewa.

Navigasi hubungan adidaya. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing guna melakukan pembicaraan tatap muka perdana dalam enam bulan dengan Presiden Xi Jinping, membawa agenda ekonomi besar di tengah ketegangan perang Iran. Dok: Istimewa.

BEIJING, POSNEWS.CO.ID – Pusat perhatian politik dunia kini beralih ke Beijing. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap melakukan pembicaraan tatap muka dengan Presiden China Xi Jinping pada hari Kamis dan Jumat mendatang. Pertemuan ini bertujuan untuk menstabilkan hubungan bilateral yang tegang akibat perselisihan dagang dan perang Iran yang berkecamuk.

Langkah diplomatik ini merupakan kunjungan perdana Trump ke China dalam sembilan tahun terakhir. Oleh karena itu, pertemuan ini dianggap sebagai upaya krusial guna menghindari eskalasi konflik antara dua kekuatan nuklir terbesar di tengah gejolak geopolitik tahun 2026.

Kesepakatan Ekonomi: Boeing dan Sektor Pertanian

Gedung Putih memberikan sinyal positif mengenai hasil nyata dari kunjungan ini. China diharapkan akan mengumumkan komitmen pembelian dalam jumlah besar yang melibatkan pesawat Boeing, komoditas pertanian, dan sumber daya energi Amerika.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, para pejabat sedang merancang pembentukan Board of Trade dan Board of Investment. Wadah ini bertujuan untuk memfasilitasi investasi timbal balik yang lebih transparan. “Kami ingin memastikan adanya forum yang stabil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara,” ujar seorang pejabat senior AS. Namun, implementasi teknis dari dewan ini kemungkinan masih membutuhkan negosiasi lanjutan pasca-KTT.

Baca Juga :  Tekanan Tiongkok Paksa Presiden Taiwan Batalkan Kunjungan ke Afrika

Mineral Kritis dan Gencatan Senjata Dagang

Topik mendesak lainnya adalah perpanjangan masa berlaku kesepakatan mineral tanah jarang (rare earths). Kesepakatan yang dicapai musim gugur lalu memungkinkan aliran mineral penting dari China ke Amerika Serikat tetap terjaga.

Meskipun belum ada kepastian mengenai durasi perpanjangan, Washington merasa optimis. Mineral tersebut sangat vital bagi industri teknologi tinggi dan pertahanan AS. Maka dari itu, keberhasilan mempertahankan arus pasok ini menjadi prioritas utama Trump guna mencegah disrupsi manufaktur di dalam negeri.

Geopolitik: Iran, Rusia, dan Jalur Merah Taiwan

Pertemuan ini diprediksi akan berlangsung alot saat memasuki isu kedaulatan dan keamanan regional. Trump berencana mendesak Xi Jinping untuk menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Teheran guna mengakhiri konflik Timur Tengah.

“Presiden telah berulang kali berdiskusi dengan Sekjen Xi mengenai pendapatan yang China berikan kepada rezim Iran dan Rusia,” tegas sumber Gedung Putih. Washington juga mengawasi ketat ekspor barang-barang berkegunaan ganda (dual-use) dari China yang berpotensi mendukung mesin perang Rusia di Eropa.

Terkait isu Taiwan, Presiden Xi menyatakan rasa frustrasinya terhadap dukungan militer AS bagi pulau tersebut. Meskipun China terus meningkatkan kehadiran militer di sekitar Selat Taiwan, pejabat AS menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Washington terhadap Taipei tidak akan berubah.

Baca Juga :  Parlemen Perempuan Tuntut Starmer Tunjuk Deputi Wanita

Teknologi Masa Depan: AI dan Senjata Nuklir

Sektor teknologi tinggi turut menjadi agenda baru dalam meja perundingan. Ajudan Trump menyatakan kekhawatiran atas pesatnya model AI canggih di China. Mereka mengusulkan adanya saluran komunikasi khusus guna menghindari konflik yang dipicu oleh penggunaan algoritma cerdas.

Mengenai senjata nuklir, posisi kedua negara masih terpaut jauh. Washington ingin membuka dialog pengendalian senjata, namun Beijing secara pribadi menyatakan tidak memiliki minat untuk mendiskusikan batasan arsenal nuklir mereka saat ini. Singkatnya, kunjungan ini akan menjadi ujian bagi kemampuan Trump dalam menyeimbangkan insentif ekonomi dengan tuntutan keamanan nasional yang kaku.

Menanti Hasil di Lapangan

Pertemuan terakhir kedua pemimpin terjadi di Korea Selatan pada Oktober 2025. Saat itu, mereka sepakat untuk menjeda perang tarif yang merusak. Di tahun 2026 ini, di tengah tantangan hukum domestik AS terkait kebijakan tarif, Trump berupaya menggunakan jalur eksekutif guna memperkuat posisi tawar Amerika.

Masyarakat internasional kini menanti apakah Beijing akan memberikan konsesi nyata ataukah pertemuan ini hanya akan menjadi ajang pertukaran retorika tanpa solusi jangka panjang bagi krisis energi dan keamanan dunia.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fakta Baru Kasus YTR, Pelaku Aniaya Korban Berulang Kali sejak 2024
Polri Rotasi 1.121 Perwira, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti
Satgas Mitigasi PHK Resmi Dibentuk, Fokus Cegah Gelombang Pemutusan Kerja
Polda Metro Jaya Ungkap Judol HOT51, Perputaran Uang Capai Rp559,8 Miliar
Bareskrim Sita Rp8,7 Miliar dan Tetapkan 287 WNA Tersangka Judi Online
Meta Resmi Rilis Kacamata Pintar Murah
Rusia Bantah Tekan Belarus: Hubungan Tetap Harmonis
Perancis Batasi Jam Kunjung Wisata dan Polandia Siaga

Berita Terkait

Jumat, 26 Juni 2026 - 17:00 WIB

Fakta Baru Kasus YTR, Pelaku Aniaya Korban Berulang Kali sejak 2024

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:42 WIB

Polri Rotasi 1.121 Perwira, Kapolda Aceh dan Papua Barat Daya Berganti

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:28 WIB

Satgas Mitigasi PHK Resmi Dibentuk, Fokus Cegah Gelombang Pemutusan Kerja

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:16 WIB

Polda Metro Jaya Ungkap Judol HOT51, Perputaran Uang Capai Rp559,8 Miliar

Jumat, 26 Juni 2026 - 15:59 WIB

Bareskrim Sita Rp8,7 Miliar dan Tetapkan 287 WNA Tersangka Judi Online

Berita Terbaru