LONDON, POSNEWS.CO.ID – Laporan terbaru dari badan cuaca PBB dan Met Office Inggris memprediksi lonjakan suhu rata-rata global ke tingkat rekor baru. Secara spesifik, fenomena pemanasan ini akan berlangsung sepanjang periode lima tahun ke depan.
Para ilmuwan memperkirakan suhu permukaan rata-rata tahunan global akan berada di antara 1,3°C hingga 1,9°C. Angka ini mengacu pada tingkat rata-rata masa pra-industri tahun 1850-1900. Sementara itu, peneliti menyajikan data ini sebagai bukti kuat percepatan pemanasan global.
Melampaui Batas Perjanjian Paris
Dalam Perjanjian Paris 2015, pemerintah dunia berkomitmen menahan kenaikan suhu global di bawah angka 1,5°C. Namun, laporan terbaru ini menunjukkan proyeksi yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan ekosistem bumi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para peneliti memproyeksikan suhu bumi akan melampaui batas 1,5°C tersebut setidaknya selama satu tahun. Langkah ekstrem ini sangat berpeluang besar terjadi antara tahun 2026 hingga 2030 mendatang. Bahkan, salah satu tahun dalam periode tersebut berisiko menjadi tahun terpanas, mengalahkan rekor tahun 2024.
Ilmuwan Met Office, Melissa Seabrook, menjelaskan bahwa lonjakan sementara ini belum berarti kegagalan total Perjanjian Paris. Sebab, perjanjian tersebut mengacu pada rata-rata jangka panjang selama 20 tahun. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa jendela kesempatan untuk menyelamatkan bumi kini tengah menyempit dengan sangat cepat.
Pemanasan Ekstrem di Kawasan Arktik
Suhu musim dingin di wilayah Arktik berpeluang melonjak lebih dari 3,5 kali lipat rata-rata global. Akibatnya, suhu di kutub utara akan menyentuh angka 2°C di atas garis basis periode 1991–2020.
Kenaikan suhu ekstrem ini tentu akan memicu pencairan es laut Arktik secara masif pada bulan Maret. Sebagai contoh, wilayah Laut Barents dan Laut Okhotsk akan kehilangan sebagian besar tutupan esnya. Dengan demikian, kerusakan ekosistem ini akan mendisrupsi sistem cuaca global secara signifikan.
Ancaman Cuaca Ekstrem dan Dampak El Niño
Pemanasan global juga akan memicu pergeseran pola curah hujan di belahan bumi bagian utara. Oleh karena itu, wilayah Eropa utara, Alaska, dan Siberia berpotensi mengalami musim dingin yang jauh lebih basah. Sebaliknya, wilayah hutan Amazon justru akan menghadapi musim kemarau yang sangat kering dan ekstrem.
Kondisi buruk ini akan semakin parah akibat kemunculan fenomena El Niño yang kuat pada akhir tahun ini. Sebab, pemanasan suhu permukaan laut Pasifik ini berpotensi bertahan hingga tahun 2027 mendatang. Maka dari itu, dunia harus bersiap menghadapi cuaca buruk yang beruntun dalam waktu dekat.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












