TEHRAN, POSNEWS.CO.ID – Militer Iran resmi mengumumkan berakhirnya gelombang pertama serangan udara ke wilayah Israel sejak kesepakatan gencatan senjata April lalu. Namun, mereka mengancam akan segera meluncurkan serangan balasan baru jika Israel tetap menggempur wilayah Lebanon.
Saling Serang Target Vital dan Desakan Trump
Israel meluncurkan serangan balasan setelah pihak Tehran menembakkan rentetan rudal pada hari Minggu malam. Sebab, Iran berdalih serangan tersebut merupakan balasan atas aksi pengeboman udara Israel di pinggiran Beirut.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan baku tembak secara total. Sebab, konflik bersenjata ini langsung mengerek harga minyak mentah dunia naik sebesar 4 persen. Akibatnya, ketegangan ini mengancam kelancaran proses perundingan damai global yang sedang berjalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Militer Israel menggempur pabrik petrokimia di wilayah barat daya Iran yang dituding memproduksi rudal balistik. Sebaliknya, Garda Revolusi Iran (IRGC) membalas dengan menyerang fasilitas serupa milik Israel di kota Haifa. Dengan demikian, aksi ini menandai kontak senjata langsung pertama antara kedua negara sejak bulan April kemarin.
Syarat Gencatan Senjata dan Blokade Pelabuhan
Komando militer Iran menegaskan bahwa mereka telah memberikan respons menyakitkan atas agresi Israel di Lebanon hulu. “Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menghentikan sementara operasi militer saat ini,” tulis pernyataan resmi tersebut. Namun, mereka memperingatkan akan meluncurkan serangan yang jauh lebih menghancurkan jika Israel tidak menghentikan agresi di Lebanon selatan.
Trump menyatakan melalui media sosial bahwa kedua belah pihak sebenarnya menginginkan gencatan senjata segera. Meskipun begitu, ia menegaskan blokade pelabuhan Iran oleh militer AS akan tetap berjalan hingga tercapainya kesepakatan damai.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengaku sedang bertukar pesan dengan Washington. Namun, ia menyebut proses komunikasi tersebut berlangsung di tengah atmosfer kecurigaan yang sangat tinggi.
Keterlibatan Milisi Houthi Yaman
Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman berjanji akan menghentikan pelayaran kapal-kapal Israel di Laut Merah. Selain itu, mereka juga mengeklaim telah meluncurkan dua rudal balistik ke wilayah Israel secara langsung.
Langkah taktis Houthi ini berpotensi mengacaukan jalur pelayaran alternatif minyak mentah dunia. Sebab, blokade Iran atas Selat Hormuz memaksa kapal tangki mencari rute alternatif yang lebih aman. Pada akhirnya, dunia kini menanti apakah jalur diplomasi tertutup ini mampu meredakan badai perang energi global tahun 2026.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












