Perusahaan Pelayaran Hentikan Operasi ke Ukraina

Sabtu, 25 Juli 2026 - 09:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Krisis pasokan pangan dunia. Raksasa pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd menghentikan operasional ke pelabuhan Ukraina akibat gempuran rudal Rusia. Dok: Istimewa.

Krisis pasokan pangan dunia. Raksasa pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd menghentikan operasional ke pelabuhan Ukraina akibat gempuran rudal Rusia. Dok: Istimewa.

ODESA, POSNEWS.CO.ID – Perusahaan pelayaran internasional menghentikan layanan menuju pelabuhan Laut Hitam Ukraina.

Penghentian Operasi Raksasa Pelayaran

Keputusan ini merespons lonjakan serangan militer Rusia di kawasan pesisir.

Raksasa pelayaran Maersk dan Hapag-Lloyd mengonfirmasi penghentian operasi di terminal Chornomorsk.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Serangan rudal dan drone Rusia meningkatkan risiko keselamatan pelayaran secara signifikan.

Eskalasi konflik ini mendongkrak harga gandum di pasar internasional secara instan.

Lembaga intelijen maritim Lloyd’s List Intelligence membeberkan laporan lonjakan harga tersebut.

Ukraina menyokong pasokan jagung, gandum, kanola, dan minyak nabati dunia.

Kawasan Odesa menyalurkan sekitar 90 persen total ekspor komoditas Ukraina.

Gabungan produksi Rusia dan Ukraina menguasai 30 persen pasokan gandum global.

Baca Juga :  Suhu Samudra Dekati Rekor Tertinggi Jelang Super El Niño

Data MarineTraffic menunjukkan ketiadaan kapal komersial yang memasuki pelabuhan Ukraina.

Ancaman Krisis Pangan dan Sidang PBB

Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyoroti kelumpuhan koridor maritim ini.

Kondisi darurat ini terjadi tepat pada puncak musim panen raya.

Sybiha menilai gempuran Rusia mengancam ketahanan pangan masyarakat dunia secara langsung.

Oleh karena itu Ukraina mendesak penyelenggaraan Sidang Dewan Keamanan PBB.

PBB menjadwalkan pertemuan darurat tersebut pada tanggal 27 Juli mendatang.

Pasokan pertanian menjadi sumber utama penerimaan devisa bagi pemerintah Kyiv.

Militer Rusia terus mengincar terminal gandum dan kapal komersial di pelabuhan.

Broker pelayaran Odesa Anton Shapran menggambarkan keparahan situasi saat ini.

Shapran menilai kondisi pekan ini merupakan yang terburuk sejak 2022.

Serangan Maut Kapal Cargo Golden Leo

Serangan maut Rusia menghantam kapal kargo Golden Leo pada hari Minggu.

Baca Juga :  Perundingan AS-Iran Berakhir dengan Awal yang Baik

Ledakan rudal merenggut nyawa 10 awak kapal di lepas pantai Odesa.

Korban tewas mencakup empat warga negara India yang bekerja di kapal.

Pemerintah India segera memanggil Duta Besar Rusia guna melayangkan protes keras.

Sebaliknya Ukraina meningkatkan gempuran terhadap kapal tanker armada bayangan Rusia.

Pasukan Ukraina menargetkan jalur pelayaran Rusia di Laut Azov.

Lembaga pemantau Kpler mencatat ketiadaan pengiriman hasil bumi dari Odesa.

Pelabuhan Chornomorsk menghentikan aktivitas ekspor jagung sejak 19 Juli lalu.

Pelabuhan Pivdennyi juga tidak mencatatkan aktivitas ekspor sepanjang pekan ini.

Jalur Alternatif Darat dan Sungai Danube

Perusahaan Hapag-Lloyd mengalihkan jalur pengiriman melalui rute darat dan kereta.

Jalur logistik darat melintasi wilayah Polandia dan Rumania menuju pasar Eropa.

Pihak pengelola juga memanfaatkan jaringan pelabuhan sungai di sepanjang Sungai Danube.

Kapal-kapal kecil tetap membawa komoditas pangan melewati rute sungai tersebut.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik
Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%
Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda
Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya
Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa
Shinjuku Larang Separuh Sewa Liburan, Termasuk Properti
Tim Nepal Kian Bersemangat Cari Korban Banjir
PM Yunani Janjikan Pemangkasan Pajak dan Kenaikan Gaji

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 20:57 WIB

Presiden Xi Jinping Dorong Blok BRICS Jadi Juru Damai Konflik

Minggu, 13 September 2026 - 19:56 WIB

Hakim Federal Batalkan Rencana Pemangkasan Staf FEMA 50%

Minggu, 13 September 2026 - 13:30 WIB

Peluncuran Konsol Retro NEOGEO AES+ Ditunda

Rabu, 9 September 2026 - 08:03 WIB

Iran Ancam Balas Setiap Serangan Baru AS terhadap Asetnya

Rabu, 9 September 2026 - 07:00 WIB

Ekstremisme Nihilistik Online Ancam Keamanan Eropa

Berita Terbaru