KLB Campak di Sumenep Tewaskan 17 Anak, Komisi IX DPR Soroti Sistem Imunisasi Nasional

Jumat, 29 Agustus 2025 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Komisi IX DPR RI menyoroti lemahnya sistem imunisasi nasional menyusul KLB campak di Sumenep yang menewaskan 17 anak. (Dok-Ilustrasi)

Komisi IX DPR RI menyoroti lemahnya sistem imunisasi nasional menyusul KLB campak di Sumenep yang menewaskan 17 anak. (Dok-Ilustrasi)

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, prihatin atas KLB campak di Sumenep, Jawa Timur, yang menewaskan 17 anak, mayoritas belum divaksin.

Yahya menilai insiden ini menunjukkan lemahnya tata kelola sistem imunisasi nasional. Strategi pencegahan belum optimal sehingga vaksinasi massal baru dilakukan setelah ribuan kasus muncul dan korban berjatuhan.

“Kejadian ini menegaskan imunisasi seharusnya menjadi garda terdepan. Langkah reaktif baru terjadi setelah korban jatuh,” kata Yahya, Jumat (29/8/2025).

Ia menekankan evaluasi menyeluruh sistem imunisasi, termasuk pendataan digital real-time untuk melacak anak yang belum divaksin. Peran Posyandu dan kader desa juga harus diperkuat agar deteksi dini tidak terlewat.

Baca Juga :  BMKG Ramal Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Hujan Guyur Jakarta hingga Bogor

“Strategi komunikasi publik dan pendekatan berbasis budaya lokal penting, terutama di daerah dengan resistensi masyarakat akibat mitos atau ketakutan vaksin,” tambah Yahya.

Yahya mengingatkan capaian imunisasi dasar harus sesuai target RPJMN 2020–2024, yakni 95 persen. Kegagalan mencapai target harus diaudit secara nasional. “Campak memiliki angka reproduksi tinggi, keterlambatan vaksinasi berisiko memicu ledakan kasus di wilayah lain,” ujarnya.

Yahya mendorong Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah melakukan audit imunisasi terbuka, memperkuat jejaring data kesehatan, dan memastikan vaksinasi berkelanjutan, tidak hanya program darurat.

“Setiap anak Indonesia berhak atas perlindungan kesehatan setara. KLB campak di Sumenep menjadi peringatan agar sistem pencegahan menjadi prioritas. Negara tidak boleh menunggu wabah meluas baru bertindak,” tegas Yahya.

Dinas Kesehatan Sumenep melaporkan hingga Agustus 2025, 17 anak meninggal akibat campak, sehingga kejadian ini ditetapkan sebagai KLB. Data Dinas Kesehatan Jawa Timur mencatat 2.035 kasus terkonfirmasi, termasuk ratusan balita di Bangkalan, satu di antaranya meninggal.

Kasus di Bangkalan didominasi anak usia 2–3 tahun, dengan gejala demam, bintik merah di belakang telinga menyebar ke seluruh tubuh, batuk, dan pilek. (red)

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut
Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional
Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz
Gubernur Jakarta Minta Warga Tak Iming-imingi Kerabat Datang ke Ibu Kota
Napi Kabur Lapas Wamena Ditangkap di Yahukimo, Terafiliasi KKB dan Pembunuh Polisi
Terobosan Ekonomi Paris: AS dan China Sepakati Mekanisme Kerja Sama Baru
Update RSCM: Andrie Yunus Alami Luka Bakar 20 Persen, Mata Kanan Terancam

Berita Terkait

Selasa, 17 Maret 2026 - 15:40 WIB

Tragedi Hanukkah Sydney: Keluarga Terdakwa Naveed Akram Mohon Gag Order Akibat Ancaman Maut

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:35 WIB

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:37 WIB

Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi 18 Maret, Korlantas Siapkan One Way Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:31 WIB

Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz

Selasa, 17 Maret 2026 - 13:22 WIB

Gubernur Jakarta Minta Warga Tak Iming-imingi Kerabat Datang ke Ibu Kota

Berita Terbaru

Menyeimbangkan energi dan konstitusi. Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat serta negara-negara Teluk guna menjamin keselamatan navigasi tanpa melanggar prinsip pasifisme Jepang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang Gandeng AS dan Timur Tengah Amankan Selat Hormuz

Selasa, 17 Mar 2026 - 14:35 WIB

Diplomasi buntu di Teluk. Presiden Donald Trump mengeklaim perang akan berakhir

INTERNASIONAL

Trump vs Eropa: Keretakan Sekutu dalam Misi Maritim Selat Hormuz

Selasa, 17 Mar 2026 - 13:31 WIB