JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemerintah Indonesia mencatatkan hasil positif dalam uji coba jalan bahan bakar biodiesel dengan campuran minyak sawit lebih tinggi. Langkah taktis ini menjadi bagian dari persiapan akhir menjelang peluncuran program secara resmi.
Pemerintah bersiap menerapkan kebijakan mandatori B50 yang mencampur 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar konvensional. Saat ini, Indonesia masih menerapkan bauran bahan bakar nabati sebesar 40 persen atau B40.
Optimisme Keberhasilan Uji Coba B50
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan laporan perkembangan uji coba tersebut kepada publik di Jakarta. Bahlil menjelaskan bahwa petugas telah menguji B50 pada berbagai jenis kendaraan berat, kapal laut, hingga kereta api.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengujian tersebut juga menyasar berbagai peralatan berat pada sektor pertambangan dan mesin pertanian secara luas. Oleh karena itu, Bahlil menyatakan rasa sangat optimistis mengenai peluncuran resmi kebijakan B50 pada tanggal 1 Juli mendatang.
Penerapan kebijakan baru ini akan memotong atau bahkan menghentikan total impor solar konvensional dari luar negeri. Pemerintah terutama mengincar penghentian impor untuk solar dengan kualitas Cetane 48 atau C48.
Penghematan Anggaran Subsidi dan Devisa Negara
Staf Khusus Menteri ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan keuntungan finansial lain dari penerapan program B50 tersebut. Kebijakan B50 justru akan meringankan beban keuangan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS.
BPDPKS mengelola dana pungutan ekspor sawit untuk membiayai program bahan bakar nabati dan peremajaan kebun rakyat. Program B40 saat ini membutuhkan alokasi dana sebesar 47 triliun rupiah setiap tahun. Nilai tersebut setara dengan 2,6 miliar dolar AS.
Eniya meyakini kebijakan B50 akan memangkas kebutuhan dana kelolaan tersebut menjadi hanya 32 triliun rupiah. Angka baru ini setara dengan 1,8 miliar dolar AS.
Pemerintah memproyeksikan kebijakan mandatori B50 ini mampu menyelamatkan devisa negara hingga 157,28 triliun rupiah tahun ini. Nilai penghematan devisa tersebut setara dengan 8,8 miliar dolar AS. Angka penyelamatan devisa ini melesat tajam dari pencapaian tahun lalu sebesar 133,3 triliun rupiah.
Nilai Tambah Sawit di Tengah Krisis Global
Bersama Malaysia, Indonesia menguasai sebagian besar pasokan minyak kelapa sawit di pasar komoditas global. Kebijakan B50 juga akan memberikan nilai tambah sebesar 24,68 triliun rupiah bagi minyak sawit mentah domestik. Nilai tambah ini setara dengan 1,4 miliar dolar AS.
Pemerintah gencar mempercepat program ini setelah perang Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia melampaui 100 dolar AS per barel. Pada akhirnya, kedaulatan bahan bakar nabati akan melindungi ketahanan ekonomi nasional dari fluktuasi harga energi global.
Penulis : Alifa Latifa
Editor : Alifa Latifa












