KUALA LUMPUR, POSNEWS.CO.ID – Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan pergerakan positif harga minyak sawit global. Lembaga tersebut memprediksi harga CPO berkisar antara MYR 4.400 hingga MYR 4.650 per ton sepanjang Juli 2026.
Dampak Nyata El Nino Terhadap Perkebunan
Pengetatan pasokan ekspor Indonesia menyokong penguatan harga komoditas ini. Kekhawatiran terhadap ancaman fenomena cuaca El Nino turut mendongkrak pasar.
El Nino ekstrem berpotensi memangkas curah hujan di Asia Tenggara. Kondisi kering ini juga mengancam wilayah Australia dan India.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pejabat Malaysia memproyeksikan penurunan hasil panen sebesar 8 hingga 10 persen. Curah hujan di beberapa wilayah perkebunan bahkan merosot hingga 60 persen.
Pasar memperkirakan dampak penurunan produksi muncul dalam sembilan bulan ke depan.
Rekor Stok Nabati India dan China
Namun, peningkatan stok minyak nabati negara importir menahan laju harga. Stok minyak nabati India menyentuh angka 2,2 juta ton pada Mei.
Angka ini menandai level cadangan tertinggi dalam 17 bulan terakhir. Sementara itu, persediaan minyak nabati China mendekati 2 juta ton.
Tingginya stok tersebut berpotensi memperlambat permintaan impor jangka pendek.
Penurunan Produksi Malaysia dan Efek B50 Indonesia
Produksi minyak sawit Malaysia merosot 6,9 persen sepanjang Mei kemarin. Pohon sawit kini memasuki fase istirahat pasca-panen raya sebelumnya.
Banyaknya hari libur nasional juga mengurangi waktu kerja para pemetik. Meski begitu, ekspor sawit Malaysia tumbuh 13,8 persen sejak Januari.
Negara tujuan utama mencakup wilayah India, Kenya, dan Vietnam.
Di sisi lain, Indonesia resmi memberlakukan mandat biodiesel B50 mulai Juli. Kebijakan ini meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan.
Analisis Oil World memproyeksikan pengetatan pasokan ekspor Indonesia akhir tahun.
Pelemahan Daya Saing Minyak Kedelai Amerika Serikat
Minyak sawit juga memperoleh keuntungan dari lonjakan harga pesaing. Harga minyak kedelai Amerika Serikat melonjak 59 persen tahun ini.
Kebijakan biofuel lokal memicu kenaikan harga minyak kedelai tersebut. Kondisi ini merusak daya saing ekspor komoditas asal Amerika.
Ekspor kedelai AS merosot ke titik terendah sebesar 11.000 ton. Para pembeli global kini beralih ke pasar Amerika Selatan.
Sebagian importir juga meningkatkan pembelian minyak sawit dari Malaysia.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia












