Polemik Ijazah Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Belum Berakhir

Kamis, 23 Juli 2026 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dok: Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa. (Posnews/Ist)

Dok: Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa. (Posnews/Ist)

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Senyum lega terlihat dari wajah Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa setelah majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) mengabulkan eksepsinya dalam perkara dugaan pencemaran nama baik terkait polemik ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Putusan sela itu dibacakan dalam sidang di PN Jakarta Timur, Kamis (23/7/2026).

“Alhamdulillah, hari ini majelis hakim menerima eksepsi dari kami, dari saya, terdakwa Tifauzia Tyassuma,” kata Dokter Tifa seusai persidangan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dokter Tifa Siap Hadapi Sidang

Sebelum hakim membacakan putusan, Dokter Tifa mengaku sudah menyiapkan mental.

Ia menyadari putusan sela menjadi tahapan penting dalam perkara yang menjeratnya. Karena itu, Dokter Tifa mengaku siap menghadapi apa pun keputusan majelis hakim.

Namun, putusan yang dibacakan hakim akhirnya memberikan angin segar bagi dirinya dan tim hukum.

Eksepsi yang diajukan Dokter Tifa diterima majelis hakim sehingga perkara tersebut tidak berlanjut ke tahap pembuktian.

Baca Juga :  Cuaca Jabodetabek Hari Ini Cerah Berrawan, Bogor Waspada Hujan Sore

Klaim Temukan Dokumen Akademik

Setelah sidang, Dokter Tifa kembali menyinggung sejumlah dokumen yang menurutnya memperkuat pandangannya dalam polemik ijazah Jokowi.

Ia mengaku memperoleh dokumen yang berkaitan dengan riwayat akademik lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1985.

Menurut Tifa, dokumen tersebut berupa transkrip nilai lengkap dengan 161 SKS.

Dokumen itu, kata dia, juga memuat tanda tangan pejabat fakultas.

“Ada bukti yang tidak bisa ditolak bahwa sarjana Kehutanan UGM yang lulus tahun 1985 harus memiliki transkrip nilai lengkap dengan 161 SKS,” ujar Tifa.

Ia menilai dokumen tersebut menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam membahas polemik ijazah.

Soroti Materai pada Ijazah

Tak berhenti di situ, Dokter Tifa juga menyoroti materai yang tercantum pada dokumen ijazah.

Ia mengklaim ijazah Sarjana Kehutanan UGM tahun 1985 seharusnya menggunakan materai merah senilai Rp500.

Sementara itu, menurut Tifa, materai hijau senilai Rp100 digunakan pada ijazah sarjana muda.

Baca Juga :  Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

“Cukup melihat satu artefak yang tidak bisa dibantah, yaitu materai,” tegasnya.

Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan klaim dan argumen yang disampaikan Dokter Tifa dalam membela diri di tengah polemik ijazah Jokowi.

Putusan Sela Jadi Babak Baru

Putusan sela PN Jakarta Timur menjadi babak penting dalam perjalanan perkara tersebut.

Dokter Tifa pun menyambut keputusan hakim dengan rasa syukur. Ia menganggap putusan itu sebagai kesempatan untuk terus menyampaikan pandangannya mengenai polemik yang selama ini menjadi sorotan publik.

Di sisi lain, polemik mengenai ijazah Jokowi masih menjadi perdebatan luas di tengah masyarakat.

Perkara hukum yang muncul dari polemik tersebut pun terus menarik perhatian publik. Namun, setiap klaim tetap harus diuji melalui bukti dan mekanisme hukum yang berlaku.

Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan perdebatan publik, kebenaran tidak boleh lahir dari suara yang paling keras. Kebenaran harus berdiri di atas fakta dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. **

Editor : Hadwan

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Cegah Judol dan Narkoba, Polri Gandeng Muhammadiyah Masuk Sekolah
20 Korporasi Terseret Kasus Karhutla, Lahan Terbakar Capai 29 Ribu Hektare
Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis
Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan
KPK Belum Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut, Fokus Kasus Kuansing
Jual Beli Data hingga Judol Meresahkan, Kapolri dan Menkomdigi Perkuat Kolaborasi
MUI Soroti Klaim Imam Mahdi di Bangkalan, Korban Rugi Rp1,3 Miliar
Musim Hujan Mundur hingga 30 Hari, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir Akhir Tahun

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 21:39 WIB

Cegah Judol dan Narkoba, Polri Gandeng Muhammadiyah Masuk Sekolah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:08 WIB

20 Korporasi Terseret Kasus Karhutla, Lahan Terbakar Capai 29 Ribu Hektare

Selasa, 27 Oktober 2026 - 18:06 WIB

Komnas HAM Ingatkan Polisi, Pengamanan Aksi Mahasiswa Harus Humanis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:36 WIB

Ribuan Mahasiswa Siap Aksi di Bundaran HI Besok, Bawa 5 Tuntutan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:24 WIB

KPK Belum Dalami Dugaan Amplop untuk Menhut, Fokus Kasus Kuansing

Berita Terbaru

PM Jepang Sanae Takaichi dan Kanselir Jerman Friedrich Merz sepakat bekerja sama amankan pasokan mineral kritis. Simak detail strategi de-risking kedua negara. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Jepang dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis

Jumat, 30 Okt 2026 - 07:32 WIB