KUALA LUMPUR, POSNEWS.CO.ID – Bursa komoditas minyak sawit mentah (CPO) mengalami koreksi harga pada awal pekan ini.
Penurunan Kontrak Berjangka Bursa Malaysia
Kontrak utama minyak sawit untuk pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange mencatatkan penurunan.
Harga minyak sawit merosot 49 ringgit atau 1,04 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesi perdagangan resmi menutup posisi harga pada level 4.673 ringgit per ton.
Nilai tersebut setara dengan 1.144,50 dolar AS per ton.
Kondisi ini menarik mundur posisi harga dari rekor tertinggi 15 pekan terakhir.
Pengaruh Harga Minyak Mentah dan Rival Nabati
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group Anilkumar Bagani memberikan penjelasan resmi.
Bagani menyebut penurunan harga energi global memicu tekanan kuat pada pasar CPO.
Selain itu, penurunan harga minyak nabati pesaing turut memperberat pergerakan pasar.
Harga minyak kedelai di bursa Dalian melandai 1,42 persen.
Kontrak minyak sawit Dalian juga merosot 1,66 persen.
Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade melemah 2,17 persen.
Minyak mentah dunia sendiri anjlok lebih dari 5 persen pada hari Senin.
Penghentian serangan militer AS dan Iran membuka peluang diplomasi kawasan Selat Hormuz.
Pelemahan minyak mentah mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Faktor Penahan Kejatuhan Harga CPO
Meskipun demikian, beberapa sentimen positif berhasil menahan kejatuhan harga lebih dalam.
China terus meningkatkan volume permintaan minyak sawit secara konsisten.
Selain itu, pasar menyambut positif potensi lonjakan konsumsi dari mandat B50 Indonesia.
Pengetatan volume ekspor dari Indonesia turut menjaga keseimbangan pasokan global.
Ancaman fenomena iklim El Nino juga membayangi potensi produksi sawit mendatang.
Oleh karena itu, harga CPO terhindar dari penurunan yang lebih drastis.
Penguatan Ringgit dan Kinerja Ekspor Juli
Lembaga survei kargo mencatat kenaikan volume ekspor produk sawit Malaysia.
Pengiriman barang periode 1 hingga 25 Juli melonjak antara 8,1 hingga 15,9 persen.
Pencapaian ekspor ini meningkat pesat ketimbang periode yang sama bulan lalu.
Di sisi lain, nilai mata uang ringgit menguat 0,12 persen terhadap dolar AS.
Penguatan mata uang lokal ini membuat harga CPO terasa lebih mahal bagi pembeli asing.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













