Riset Korona Dan Sejarah Sains Gerhana Di Spanyol
MADRID, POSNEWS.CO.ID – Para astronom siap mengamati gerhana matahari total di Spanyol utara. Bulan akan menutupi seluruh piringan matahari pada 12 Agustus 2026. Selanjutnya, peristiwa alam ini berlangsung selama 100 detik. Para ahli memanfaatkan momen langka ini untuk meneliti lapisan korona. Selain itu, astrofisikawan Allan Sacha Brun fokus menganalisis lonjakan suhu korona. Suhu lapisan luar tersebut mencapai dua juta derajat Celsius.
Sejarah mencatat peran penting gerhana matahari dalam memicu lompatan ilmu pengetahuan. Astronom Arthur Eddington membuktikan teori relativitas Albert Einstein pada gerhana tahun 1919. Momen tersebut membuktikan efek pembelokan cahaya akibat gravitasi benda langit. Oleh karena itu, tim peneliti modern ingin mengulang keberhasilan riset masa lalu. Sementara itu, para ahli mengamati atmosfer matahari tanpa gangguan silau fotosfer.
Misi ESA Dan Prediksi Cuaca Ekstrem Matahari
Badan Antariksa Eropa (ESA) mengerahkan satelit Solar Orbiter untuk merekam data angin matahari. Direktur Sains ESA Carole Mundell mengkaji mekanisme perambatan badai matahari. Selain itu, badai matahari dapat merusak satelit dan mengganggu sinyal komunikasi Bumi. Peneliti Miho Janvier menguji validitas model prediksi cuaca antariksa milik timnya. Oleh karena itu, ESA merancang simulasi gerhana buatan melalui misi Proba-3.
Selanjutnya, para ilmuwan mengembangkan misi MESOM untuk mengejar bayangan bulan. Fisikawan Lucie Green menegaskan keindahan gerhana total terus menginspirasi dunia sains. Akibatnya, riset antariksa terus menghasilkan inovasi teknologi baru bagi manusia. Puncak siklus matahari ke-25 sendiri telah berlangsung sejak tahun 2024. Namun, ancaman lontaran plasma matahari tetap mengintai pertahanan magnetik Bumi.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














