POSNEWS.CO.ID, TEHERAN — Iran dan Oman masih menyelesaikan detail kesepakatan soal Selat Hormuz, menurut sumber senior Iran pada Rabu. Pernyataan ini muncul setelah Garda Revolusi Iran mengklaim kedua negara telah sepakat soal pembagian jalur pelayaran dan pendapatannya.
Klaim Kesepakatan dari IRGC
Juru bicara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, menyatakan Selat Hormuz milik Iran dan Oman. Ia menegaskan negosiasi selama sekitar sebulan menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak.
Mohebbi menjelaskan kesepakatan tersebut mencakup pembagian wilayah perairan selat serta pendapatan bagi Iran dan Oman. Namun, belum jelas pada tahap negosiasi mana kesepakatan tersebut sebenarnya tercapai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sumber senior Iran menegaskan kepada Reuters bahwa kesepakatan dengan Oman belum final. Pembicaraan masih berlanjut untuk menyelesaikan detail perjanjian tersebut.
Syarat Iran untuk Membuka Kembali Selat
IRGC menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kecuali AS memenuhi syarat Iran sesuai kesepakatan sementara Juni yang kemudian runtuh. Syarat tersebut mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, kompensasi, dan pencabutan sanksi.
Iran dan Oman telah menggelar perundingan intensif selama berminggu-minggu soal pengendalian lalu lintas di selat tersebut. Jalur ini sebelumnya menangani seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia sebelum perang dimulai Februari lalu.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan optimismenya usai pertemuan Selasa bahwa kedua negara akan segera mengumumkan koridor sementara untuk selat tersebut.
Ancaman Trump terhadap Oman
Presiden Donald Trump memperingatkan Oman agar tidak bekerja sama dengan Iran. Ia menyampaikan kepada Fox News pada 17 Agustus bahwa AS akan mengebom Oman jika negara tersebut menghalangi kepentingannya.
IRGC menuduh Amerika Serikat sengaja menghambat negosiasi Iran dengan Oman. Mohebbi menegaskan penghambatan ini menyebabkan tertundanya kesepakatan yang seharusnya sudah tercapai.
Mohebbi menambahkan bahwa jika AS berhenti menghambat dan kembali ke kesepakatan sebelumnya, Iran dapat membuka Selat Hormuz sesuai kerangka perjanjian tersebut. Namun, ia menegaskan selat tidak akan dibuka sama sekali jika AS menolak memenuhi syarat Iran.
Eskalasi Serangan dan Tekanan Ekonomi
Meski permusuhan aktif AS-Iran sebagian besar mereda beberapa pekan terakhir, upaya diplomatik mencapai kesepakatan damai justru mandek. Serangan berkelanjutan terhadap kapal membuat pelayaran lewat Selat Hormuz tetap berbahaya.
Iran mengumumkan daftar hitam 45 kapal pada Minggu, berupaya menghentikan transfer kapal ke kapal yang produsen energi Teluk gunakan untuk mengakali blokade Iran. Amerika Serikat sendiri mengancam akan menghukum negara yang tetap berbisnis dengan Iran, meski belum memberlakukan sanksi segera.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam sanksi baru AS lewat surat kepada PBB pada Kamis. Ia menyebut sanksi tersebut sebagai hukuman kolektif yang menghalangi akses warga Iran terhadap makanan dan obat-obatan.
Harga minyak turun untuk hari ketiga berturut-turut, mencerminkan tanda-tanda upaya mediasi baru mengakhiri perang. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan kepada sekutunya bahwa AS untuk saat ini tidak berencana melancarkan serangan baru terhadap Iran, menurut laporan Axios.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia














