Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 160 Orang

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banjir bandang masif melanda wilayah perbatasan Nepal dan China pada Rabu, menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan turis serta pekerja hilang. Dok: Istimewa.

Banjir bandang masif melanda wilayah perbatasan Nepal dan China pada Rabu, menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan turis serta pekerja hilang. Dok: Istimewa.

POSNEWS.CO.ID, KATHMANDU — Banjir bandang masif melanda wilayah perbatasan Nepal dan China pada Rabu. Bencana ini menewaskan sedikitnya 160 orang dan meninggalkan ratusan turis, pekerja, serta warga lainnya hilang setelah menyapu berbagai permukiman.

Korban Jiwa di Nepal dan China

Polisi Nepal melaporkan sedikitnya 157 orang tewas akibat bencana ini. Sementara itu, media pemerintah China, CCTV, melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang hilang di Kabupaten Gyirong, wilayah Tibet dekat perbatasan.

Rekaman drone menunjukkan jalan hancur dan bangunan terkubur air berwarna semen basah. Kantor berita negara Xinhua turut melaporkan korban jiwa yang signifikan akibat bencana tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lembah curam di wilayah ini menjadi jalur ekonomi sekaligus koridor perjalanan penting, namun rentan saat bencana melanda. Foto memperlihatkan lantai dua bangunan di Distrik Nuwakot, Nepal, terlumuri lumpur setelah banjir bandang melintas.

Ratusan Orang Hilang Termasuk Turis Asing

Pejabat Nepal melaporkan 403 orang hilang, termasuk 341 warga negara asing. Juru bicara badan pariwisata, Sunil Sharma, menyebut 133 orang berasal dari India yang sedang berziarah ke Gunung Kailash di Tibet.

Baca Juga :  Krisis Chokepoints: Betapa Rapuhnya Urat Nadi Perdagangan Laut Dunia

Sharma menambahkan 47 warga hilang berasal dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, 24 dari Kanada, dan lima dari Jepang. Kementerian Luar Negeri AS menyatakan pihaknya mengetahui warganya turut terdampak bencana ini.

Sedikitnya 62 warga Nepal yang hilang termasuk di antara ratusan warga lokal yang trekking di area Danau Gosaikunda. Kejadian ini bertepatan dengan festival lokal Janai Purnima pada Jumat. Juru bicara polisi Nepal, Abi Narayan Kafle, menyatakan sedikitnya 28 petugas polisi turut hilang.

Kerusakan Infrastruktur dan Peringatan Otoritas

Otoritas memperingatkan warga di beberapa distrik untuk menjauhi tepi sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer jalan hancur tersapu banjir.

Sungai Bhotekoshi meluap sekitar pukul 09.00 pada Rabu, menghancurkan beberapa desa dan proyek pembangkit listrik tenaga air. Juru bicara pemerintah, Sasmit Pokharel, menyatakan Nepal meminta bantuan India dan China untuk upaya penyelamatan.

Penyebab Ilmiah dan Peringatan Iklim

Badan Survei Geologi AS awalnya melaporkan gempa magnitudo 4,4 pada Rabu dini hari, sekitar 66 kilometer utara Kathmandu dekat perbatasan. Lembaga tersebut kemudian memperbarui laporan menjadi longsor bermagnitudo 5,2.

Baca Juga :  PM Sanae Takaichi Janjikan Pertumbuhan Agresif

Ahli iklim dari International Centre for Integrated Mountain Development yang berbasis di Kathmandu menyebut longsoran es dari gletser kemungkinan menjadi penyebab banjir bandang tersebut. Mereka mencatat permukaan air Sungai Trishuli naik hingga sembilan meter dalam setengah jam.

Saswata Sanyal, spesialis pengurangan risiko bencana di lembaga tersebut, menjelaskan Sungai Lhende Khola telah banjir dua kali dalam 14 bulan terakhir. Ia menegaskan pentingnya peringatan dini di tengah pemanasan wilayah Himalaya.

Solidaritas Internasional dan Konteks Perubahan Iklim

Perdana Menteri India Narendra Modi berbicara dengan Perdana Menteri Nepal Balendra Shah dan menawarkan bantuan kemanusiaan penuh. Beberapa badan PBB mulai mengerahkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar.

Australia, Inggris, Uni Eropa, dan sejumlah negara Eropa lain menyatakan solidaritas mereka lewat pernyataan bersama. Wilayah Himalaya sendiri semakin rentan terhadap hujan lebat, banjir, dan longsor akibat pemanasan global yang manusia sebabkan.

Peneliti di Kathmandu awal tahun ini menemukan gletser di kawasan Hindu Kush Himalaya mencair dengan laju semakin cepat. Laju kehilangan es telah berlipat ganda sejak 2000, terutama akibat kenaikan suhu global.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Direktur CIA Kunjungi Moskow di Tengah Eskalasi Konflik Global
Trump Usulkan Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America
Kebakaran Ruang Bersalin Rumah Sakit di Islamabad
Kapal Induk USS Abraham Lincoln Berlabuh di Thailand
Jepang Perluas Penggunaan Tanah Dekontaminasi Fukushima
AS Batalkan Latihan Militer Amfibi Ssangyong dengan Korsel
Selandia Baru Rancang Undang-Undang Larangan Media Sosial
Jepang Janjikan Dukungan untuk Presiden ICC Tomoko

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 06:16 WIB

Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 160 Orang

Kamis, 27 Agustus 2026 - 10:00 WIB

Direktur CIA Kunjungi Moskow di Tengah Eskalasi Konflik Global

Kamis, 27 Agustus 2026 - 09:00 WIB

Trump Usulkan Ubah Nama Danau Ontario Jadi Lake America

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Kebakaran Ruang Bersalin Rumah Sakit di Islamabad

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Kapal Induk USS Abraham Lincoln Berlabuh di Thailand

Berita Terbaru

Banjir bandang masif melanda wilayah perbatasan Nepal dan China pada Rabu, menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan ratusan turis serta pekerja hilang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Banjir Bandang Nepal-China Tewaskan 160 Orang

Jumat, 28 Agu 2026 - 06:16 WIB

Ilustrasi, kondisi langit berawan di kawasan Jabodetabek pada Jumat 28 Agustus 2026. (Posnews/Ist)

JABODETABEK

Langit Jabodetabek Berawan, Warga Tetap Waspada Perubahan Cuaca

Jumat, 28 Agu 2026 - 06:01 WIB