JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Indonesia dan Malaysia kembali memperkuat hubungan ekonomi. Kedua negara sepakat mempercepat kerja sama perdagangan dan investasi, terutama di kawasan perbatasan Entikong–Tebedu.
Komitmen itu mengemuka dalam Pertemuan Tingkat Menteri ke-4 Joint Trade and Investment Committee (JTIC) Indonesia–Malaysia di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso bersama Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani menegaskan pentingnya implementasi nyata berbagai kesepakatan bilateral.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah satu fokus utama ialah Border Trade Agreement (BTA) 2023. Perjanjian tersebut mulai berlaku pada 29 Mei 2026 setelah Indonesia dan Malaysia menyelesaikan prosedur internal serta pertukaran notifikasi diplomatik.
Bagi masyarakat perbatasan, BTA bukan sekadar dokumen kerja sama. Perjanjian ini diharapkan membuat aktivitas perdagangan lintas batas menjadi lebih mudah, legal, tertib, dan efisien.
“Kami berkomitmen terus memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi Indonesia-Malaysia melalui berbagai mekanisme bilateral,” kata Budi Santoso.
Entikong-Tebedu Jadi Perhatian
Karena itu, kedua negara meminta otoritas terkait memperkuat koordinasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menghambat perdagangan di Entikong–Tebedu.
Langkah tersebut penting agar pelaku usaha, terutama masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi perbatasan, memperoleh kepastian dan kemudahan dalam menjalankan usahanya.
Budi menegaskan, pemerintah Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Malaysia agar perdagangan lintas batas yang sah dapat berjalan lancar.
Sementara itu, Johari Abdul Ghani menilai BTA dapat membuka ruang lebih besar bagi aktivitas ekonomi masyarakat kedua negara.
Menurutnya, kesepakatan yang telah ditandatangani pada 2023 itu harus memberikan manfaat nyata bagi perdagangan dan perekonomian di kawasan perbatasan.
BCA 2023 Ikut Dorong Mobilitas
Selain BTA, Indonesia dan Malaysia juga menyambut berlakunya Border Crossing Agreement (BCA) 2023 pada 17 Juli 2026.
BCA diharapkan memperlancar pergerakan masyarakat melintasi perbatasan. Dengan demikian, konektivitas tidak hanya menyangkut barang, tetapi juga mobilitas orang dan aktivitas ekonomi.
Selanjutnya, kedua negara membahas akses pasar serta fasilitasi perdagangan sejumlah komoditas, termasuk produk pertanian dan pangan.
Indonesia dan Malaysia juga mendorong penyelesaian berbagai hambatan perdagangan melalui koordinasi antarlembaga.
Pelaku Usaha Didorong Makin Agresif
Kerja sama bilateral juga diperluas melalui hubungan antarpelaku usaha.
Indonesia mendorong penguatan kerja sama antara KADIN Indonesia dan Malaysia External Trade Development Corporation (MATRADE).
Sinergi tersebut diharapkan membuka lebih banyak peluang bisnis dan memperluas jaringan perusahaan kedua negara.
Di sektor investasi, kedua negara juga membahas peran Malaysia-Indonesia Investment Committee Working Group (MIIC-WG).
Koordinasi otoritas investasi dinilai penting untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif sekaligus menarik lebih banyak investasi berkualitas.
Kerja sama tidak berhenti pada perdagangan konvensional. Indonesia dan Malaysia juga membahas e-commerce, pertanian, industri halal, serta standardisasi.
Perdagangan Tembus USD16,83 Miliar
Penguatan hubungan ekonomi tersebut berlangsung ketika perdagangan kedua negara terus tumbuh.
Pada Januari–Juli 2026, nilai perdagangan Indonesia-Malaysia mencapai USD16,83 miliar, naik 21,01 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar USD13,91 miliar.
Dalam periode tersebut, ekspor Indonesia ke Malaysia mencapai USD8,26 miliar, sedangkan impor tercatat USD8,57 miliar.
Bahkan, Malaysia menjadi salah satu negara penyumbang surplus perdagangan nonmigas Indonesia. Pada Januari–Juli 2026, surplus nonmigas Indonesia dengan Malaysia mencapai USD3,39 miliar.
Sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD24,18 miliar. Ekspor Indonesia tercatat USD13,06 miliar, sedangkan impor dari Malaysia mencapai USD11,12 miliar.
Komoditas utama ekspor nonmigas Indonesia ke Malaysia antara lain bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani maupun nabati, produk kimia, tembaga, serta besi dan baja.
Sebaliknya, Indonesia banyak mengimpor mesin dan peralatan mekanik, plastik, mesin dan peralatan listrik, bahan kimia organik, serta kakao dan cokelat dari Malaysia.
Kerja Sama Harus Berbuah Nyata
Kedua menteri sepakat agar hasil pertemuan JTIC tidak berhenti sebagai kesepakatan di atas kertas.
Otoritas terkait di kedua negara didorong segera mengambil langkah konkret untuk memperlancar perdagangan dan investasi.
Dengan begitu, kawasan perbatasan Entikong–Tebedu dapat berkembang menjadi jalur ekonomi yang semakin hidup.
Bagi Indonesia dan Malaysia, perdagangan lintas batas bukan hanya soal nilai transaksi.
Lebih dari itu, kelancaran arus barang, manusia, dan investasi dapat membuka peluang usaha serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kedua sisi perbatasan.
Pertemuan JTIC ke-5 selanjutnya akan digelar di Malaysia pada waktu yang akan disepakati kedua negara. **
Editor : Hadwan














