SEMARANG, POSNEWS.CO.ID – Misteri hilangnya Mozza Axillia Gunarsa akhirnya terbongkar. Setelah lebih dari setahun tanpa kabar, gadis asal Kabupaten Semarang itu ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka di lereng Tol Jangli, Kota Semarang.
Lebih mengejutkan, polisi menduga Mozza dibunuh oleh teman dekatnya sendiri.
Pria berinisial MPDA alias V (22) ditangkap tim Satreskrim Polres Semarang di rumahnya di Kabupaten Blora. Penangkapan dilakukan setelah penyidik menelusuri sejumlah petunjuk yang mengarah kepadanya. MPDA disebut menyerah tanpa perlawanan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dibunuh Tiga Hari Sebelum Dilaporkan Hilang
Di hadapan penyidik, MPDA mengakui telah membunuh Mozza pada 25 Juni 2025.
Ironisnya, tiga hari kemudian, tepatnya 28 Juni 2025, keluarga baru melaporkan Mozza hilang kepada polisi.
Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana mengatakan, pelaku juga menunjukkan lokasi pembuangan jasad.
Polisi kemudian bergerak ke lereng Tol Jangli. Di lokasi itu, petugas menemukan karung berisi kerangka manusia bersama sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan korban.
Kerangka tersebut langsung dievakuasi ke RS Bhayangkara Semarang untuk pemeriksaan forensik.
Jejak Digital Bongkar Kejahatan
Tabir kasus ini mulai terbuka dari sebuah petunjuk tak terduga.
Orang tua Mozza memberikan informasi mengenai perangkat elektronik yang masih terhubung dengan akun media sosial korban.
Penyidik kemudian menelusuri aktivitas digital tersebut. Dari sana, polisi memperoleh petunjuk mengenai orang yang terakhir berhubungan dengan Mozza sebelum menghilang.
Jejak itu membawa penyidik ke sebuah indekos di kawasan Sriwijaya, Kelurahan Tegalsari, Kota Semarang.
MPDA ternyata sudah meninggalkan tempat tersebut. Namun, polisi tidak berhenti. Penyidik menggali keterangan dari rekan-rekannya hingga akhirnya mendapatkan petunjuk keberadaan MPDA di Blora.
Kerangka Dikenali dari Gigi dan Jepit Rambut
Kondisi kerangka membuat proses identifikasi menjadi tantangan.
Namun, keluarga Mozza mengenali sejumlah ciri khusus. Di antaranya tambalan gigi, struktur gigi, gigi gingsul, serta jepit rambut yang ditemukan di lokasi.
Meski begitu, polisi tidak mau gegabah.
Penyidik tetap mengambil sampel DNA untuk dicocokkan dengan keluarga. Langkah tersebut diperlukan agar identitas korban memiliki kepastian berdasarkan pemeriksaan ilmiah, bukan sekadar pengenalan visual.
Motif Pembunuhan Masih Didalami
Kasus ini menyisakan pertanyaan besar: mengapa seorang teman dekat tega menghabisi Mozza?
Polisi masih mendalami motif pembunuhan tersebut. Sejumlah laporan menyebut penyidik tengah menggali hubungan korban dengan pelaku sebelum tragedi terjadi.
Yang pasti, pengakuan pelaku telah membawa polisi menemukan lokasi pembuangan jasad.
Sementara itu, hasil pemeriksaan forensik dan DNA masih ditunggu untuk memperkuat seluruh rangkaian pembuktian.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa jejak digital dapat menjadi petunjuk penting dalam mengungkap orang hilang, bahkan ketika kasus tersebut telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.
Kini, pencarian panjang keluarga Mozza memasuki babak baru: bukan lagi mencari keberadaan sang anak, melainkan menuntut jawaban atas kematian tragisnya. **
Editor : Hadwan














