SEMARANG, POSNEWS.CO.ID – Misteri hilangnya Mozza Axillia Gunarsa, perempuan asal Bergas, Kabupaten Semarang, akhirnya menemukan titik terang.
Setelah lebih dari setahun tanpa kabar, Mozza ditemukan dalam kondisi tinggal kerangka di lereng Jalan Tol Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jumat (4/9/2026).
Yang lebih mengejutkan, polisi mengungkap Mozza diduga menjadi korban pembunuhan. Seorang pria berinisial MDVA (22) yang disebut sebagai teman dekat korban telah ditangkap di wilayah Kabupaten Blora.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus tersebut sekaligus membuka kembali luka keluarga yang selama lebih dari satu tahun menunggu kepastian nasib Mozza.
Hilang Setelah Berpamitan
Mozza dilaporkan hilang setelah meninggalkan rumah pada 25 Juni 2025. Orang tuanya kemudian membuat laporan kehilangan ke polisi pada 28 Juni 2025.
Selama berbulan-bulan, keluarga terus mencari keberadaan perempuan tersebut. Namun, petunjuk yang benar-benar membuka kasus baru muncul beberapa pekan terakhir.
Orang tua Mozza memberikan informasi kepada polisi mengenai perangkat elektronik yang masih terhubung dengan akun media sosial korban.
Petunjuk digital itu menjadi pintu masuk penyidik untuk menelusuri komunikasi terakhir Mozza.
Polisi kemudian menemukan adanya percakapan korban dengan MDVA melalui Instagram. Dari penelusuran tersebut, penyidik mengetahui korban sempat bertemu dengan pria yang kemudian menjadi tersangka.
Teman Dekat Berubah Jadi Tersangka
Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana mengatakan MDVA merupakan teman dekat korban.
Penyidik kemudian melacak keberadaannya. Polisi sebelumnya mendapatkan informasi bahwa MDVA pernah tinggal di sebuah tempat kos di kawasan Sriwijaya, Kota Semarang.
Setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut, polisi mengetahui pria tersebut berada di Blora.
Tim akhirnya bergerak dan menangkap MDVA di rumahnya di Kabupaten Blora. Polisi menyebut tersangka tidak melakukan perlawanan saat diamankan.
Dibunuh di Kamar Kos
Di hadapan penyidik, MDVA mengakui telah membunuh Mozza. Menurut pengakuan tersangka, pembunuhan terjadi pada 25 Juni 2025, tepat pada hari ketika korban meninggalkan rumah.
Polisi menyebut pembunuhan terjadi di kamar kos pelaku di Jalan Sriwijaya, Kota Semarang setelah keduanya terlibat cekcok.
MDVA mengaku menghabisi korban dengan cara mencekik lehernya. Setelah korban meninggal, jasadnya dimasukkan ke dalam karung.
Jasad Dibuang di Lereng Tol
Usai membunuh korban, MDVA membawa jasad Mozza ke kawasan Tol Jangli, Tembalang. Tersangka kemudian menunjukkan lokasi tempat dirinya membuang jasad korban kepada polisi.
Penyidik sempat mendatangi lokasi pada malam hari. Namun, kondisi medan yang curam dan minim penerangan membuat proses evakuasi tidak memungkinkan dilakukan saat itu.
Polisi bersama tim Inafis Polrestabes Semarang dan SAR kemudian kembali ke lokasi pada Jumat siang (4/9).
Di lereng tersebut, petugas menemukan karung berisi kerangka manusia, lengkap dengan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan korban.
Identitas Korban Menguat
Kerangka yang ditemukan berjenis kelamin perempuan. Polisi kemudian mencocokkan sejumlah ciri dengan data Mozza.
Ciri pakaian dan tinggi badan disebut sesuai. Selain itu, keluarga mengenali tambalan gigi, struktur gigi, gigi gingsul, serta jepit rambut yang ditemukan di lokasi.
Meski demikian, polisi tetap melakukan pemeriksaan DNA sebagai bagian dari scientific crime investigation untuk memastikan identitas korban secara ilmiah.
Kerangka tersebut kemudian dievakuasi ke RS Bhayangkara Semarang untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Warga Kenang Mozza sebagai Sosok Pendiam
Di tengah terungkapnya kasus tragis tersebut, warga Desa Gebugan mengenang Mozza sebagai sosok yang baik dan pendiam.
Ketua RT setempat, Suryanto, mengatakan Mozza juga aktif mengikuti kegiatan di lingkungan dan musala.
Gambaran itu membuat kasus ini semakin menyayat hati.
Seorang perempuan muda yang dikenal baik oleh lingkungannya harus kehilangan nyawa secara tragis dan keluarganya menunggu lebih dari setahun untuk mendapatkan kepastian.
Polisi Dalami Motif Pembunuhan
Meski tersangka telah ditangkap dan lokasi pembuangan jasad ditemukan, polisi masih mendalami motif pembunuhan.
Penyidik juga terus mengumpulkan bukti untuk mengungkap rangkaian kejadian secara utuh, termasuk hubungan korban dan tersangka sebelum pembunuhan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa laporan orang hilang tidak boleh dianggap sepele.
Petunjuk kecil, termasuk jejak digital yang masih tertinggal, dapat menjadi bagian penting dalam mengungkap perkara yang telah lama menemui jalan buntu.
Bagi keluarga Mozza, penemuan ini memang membawa kepastian pahit. Namun setidaknya, pencarian panjang mereka kini memiliki jawaban.
Mozza akhirnya ditemukan. Bukan dalam keadaan yang diharapkan keluarga, melainkan sebagai korban kejahatan yang diduga dilakukan orang dekatnya sendiri.
Polisi kini bertugas memastikan seluruh fakta terungkap dan proses hukum terhadap tersangka berjalan tuntas. **
Editor : Hadwan














