JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Perjalanan Aris Sanda sebagai sopir di Papua berakhir tragis.
Pria yang disebut telah melayani perjalanan warga sejak 2013 itu dilaporkan ditembak kelompok bersenjata di jalur Trans Wamena-Nduga, Papua Pegunungan.
Sebelum tewas, Aris diduga lebih dulu disandera. Ia bahkan dipaksa membuat video sambil mengangkat bendera bergambar bintang kejora dan menyampaikan pernyataan dukungan terhadap Papua merdeka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa (15/9/2026) di kawasan Gunung Boy, Kabupaten Jayawijaya.
Saat itu Aris disebut sedang membawa penumpang dari Wamena menuju Mbua. Kelompok bersenjata menghadang kendaraan yang dikemudikannya dan memerintahkan para penumpang turun.
Sejumlah penumpang kemudian dilepaskan. Namun, Aris tetap ditahan. Kendaraan lajuran yang digunakannya juga dilaporkan dibakar di lokasi kejadian.
Aris Dipaksa Bicara di Bawah Todongan Senjata
Video penyanderaan Aris kemudian beredar di media sosial. Dalam rekaman sekitar 1 menit 48 detik, Aris terlihat berdiri bersama sejumlah orang bersenjata.
Ia mengenakan jaket hitam dan celana pendek. Salah satu bagian video memperlihatkan Aris mengangkat bendera bergambar bintang kejora.
Situasi semakin mencekam karena sejumlah orang di sekitarnya terlihat membawa senjata laras panjang dan parang. Bahkan, dalam rekaman tersebut terdapat senjata yang diarahkan ke kepala Aris.
Dalam tekanan tersebut, Aris menyampaikan pernyataan mengenai Papua merdeka. Ia juga mengungkapkan dirinya telah bekerja sebagai sopir di Papua sejak 2013.
“Saya sebagai pendatang, sopir dari dulu sudah melayani dari 2013 sampai sekarang sampai 2026 saya masih jalan di sini karena saya percaya Papua itu bisa merdeka.”
Pernyataan tersebut perlu dilihat dalam konteks video penyanderaan. Karena itu, isi pernyataan Aris tidak dapat serta-merta dipahami sebagai sikap yang disampaikan secara bebas.
TPNPB Klaim Bertanggung Jawab
Perkembangan berikutnya, kelompok yang menyebut dirinya TPNPB Kodap III Ndugama Darakma mengklaim bertanggung jawab atas penembakan Aris.
Juru bicara TPNPB Sebby Sambom menyebut penembakan terjadi sekitar pukul 09.25 WIT pada Selasa (15/9/2026). Kelompok tersebut juga mengklaim Aris sebagai anggota intelijen militer yang menyamar sebagai sopir.
Namun, tudingan tersebut merupakan klaim sepihak yang belum terverifikasi secara independen.
Hingga perkembangan terakhir yang ditemukan pada Rabu (16/9/2026), belum ada keterangan resmi TNI-Polri yang mengonfirmasi identitas pelaku, motif penembakan maupun tuduhan bahwa korban merupakan anggota intelijen.
Karena itu, kronologi lengkap kasus tersebut masih menunggu hasil penyelidikan aparat.
Jalur Wamena-Nduga Kembali Disorot
Kasus Aris menambah perhatian terhadap keamanan jalur Trans Wamena-Nduga. Jalur tersebut menjadi akses penting bagi mobilitas masyarakat di kawasan pegunungan Papua.
Di sisi lain, kelompok TPNPB juga mengeluarkan peringatan kepada warga pendatang yang bekerja sebagai sopir dan pengemudi ojek agar tidak melintasi sejumlah ruas yang mereka klaim sebagai wilayah konflik.
Situasi itu menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi warga sipil yang tetap harus beraktivitas di kawasan rawan. **
Editor : Hadwan













