LAMPUNG TENGAH, POSNEWS.CO.ID – Suasana kebersamaan warga Dusun Bluro, Kampung Terbanggi Mulya, Kecamatan Bandar Mataram, Lampung Tengah, berubah menjadi kepanikan.
Hidangan yang disantap dalam acara yasinan dan tahlilan diduga membuat puluhan warga jatuh sakit.
Sedikitnya 50 warga kini tercatat mendapat perawatan setelah mengalami keluhan kesehatan. Tragisnya, seorang warga bernama Nanik (42) meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa tersebut bermula pada Sabtu malam, 12 September 2026. Saat itu, warga berkumpul di rumah warga untuk mengikuti kegiatan yasinan dan tahlilan.
Setelah acara selesai, jamaah menyantap hidangan yang disediakan tuan rumah. Tidak ada yang menyangka makanan tersebut kemudian diduga menjadi awal petaka bagi puluhan warga.
Sehari Kemudian Warga Mulai Berguguran
Pada malam hingga Minggu, 13 September, sejumlah warga mulai merasakan gejala yang hampir sama. Mereka mengeluhkan mual, muntah, diare, pusing, tubuh lemas hingga perut terasa melilit.
Warga yang kondisinya memburuk langsung mencari pertolongan medis. Mereka tersebar di sejumlah balai pengobatan, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.
Sementara itu, Nanik menjadi salah satu warga yang harus menjalani perawatan di Klinik Mandala Medical Center.
Namun, kondisi perempuan berusia 42 tahun itu terus memburuk. Nanik akhirnya meninggal dunia pada Senin, 14 September 2026, saat masih menjalani perawatan.
Kematian Nanik membuat suasana warga semakin berduka. Sebab, kejadian yang semula hanya dianggap sebagai gangguan kesehatan biasa ternyata menelan korban jiwa.
Sampel Makanan Diperiksa
Polisi bergerak setelah menerima laporan kejadian tersebut. Petugas mendatangi lokasi, meminta keterangan warga dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab puluhan warga mengalami keluhan secara bersamaan.
Selain itu, sampel makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut telah diamankan untuk pemeriksaan laboratorium.
Sampel yang diperiksa antara lain nasi, daging ayam, daging kambing, urap-urap, mi dan jengkol. Hasil pemeriksaan laboratorium masih ditunggu.
Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah makanan yang disantap warga memang mengandung zat atau mikroorganisme yang menyebabkan keracunan.
Polisi juga belum menyimpulkan penyebab pasti kematian Nanik maupun sakit yang dialami puluhan warga.
Karena itu, masyarakat diminta tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum hasil pemeriksaan medis dan laboratorium keluar.
Jumlah Korban Masih Bisa Bertambah
Kepala Puskesmas Jatidatar Mataram, M. Prihatiningsih, mengatakan pendataan terhadap warga yang mengalami keluhan masih berlangsung.
Berdasarkan data sementara, sekitar 50 orang telah tercatat mendapat penanganan. Jumlah itu masih berpotensi bertambah karena tidak semua warga memilih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.
Kondisi tersebut membuat petugas kesehatan terus memantau warga yang hadir dalam acara tersebut, terutama mereka yang mulai mengalami gejala setelah menyantap makanan.
Di sisi lain, polisi memastikan penyelidikan terus berjalan. Petugas akan mencocokkan keterangan warga, hasil pemeriksaan medis dan hasil laboratorium untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar lebih memperhatikan keamanan makanan yang disajikan dalam kegiatan bersama.
Makanan yang dimasak dalam jumlah besar membutuhkan pengolahan, penyimpanan dan penyajian yang higienis agar tidak berubah menjadi sumber penyakit.
Hingga kini, penyebab pasti kejadian tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan. Polisi juga mengimbau warga tetap tenang dan tidak menyebarkan dugaan yang belum terbukti. **
Editor : Hadwan













