POSNEWS.CO.ID, WASHINGTON — Laporan Kantor Anggaran Kongres (CBO) mengungkap rincian biaya perang Amerika Serikat melawan Iran. Total pengeluaran Departemen Pertahanan AS telah melampaui $38$ miliar Dolar AS hingga awal Agustus lalu.
Pembengkakan Anggaran dan Proyeksi Inflasi
Perang ini berpotensi menambah beban anggaran hingga $3$ miliar Dolar AS setiap bulan. CBO memproyeksikan konflik ini mendongkrak tingkat inflasi sebesar 0,5 poin persentase hingga awal 2027.
Lonjakan inflasi ini dipicu gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz dan Laut Merah. Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya memprediksi biaya perang mencapai angka $37,5$ miliar Dolar AS. Oleh karena itu, estimasi CBO sejalan dengan perhitungan internal Pentagon.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pembelian Amunisi dan Kritik Politisi
Biaya besar tersebut terutama dialokasikan untuk mengganti amunisi serta peralatan tempur yang rusak. Namun, laporan CBO belum memperhitungkan biaya perawatan medis veteran atau kompensasi korban cedera.
Anggota Kongres Brendan Boyle mengkritik keras lonjakan anggaran perang pemerintahan Donald Trump tersebut. Boyle menilai pemerintah memprioritaskan perang mahal ketimbang alokasi bantuan ekonomi keluarga di dalam negeri. Dengan demikian, isu biaya perang berpotensi memengaruhi pilihan pemilih pada Pemilu Paruh Waktu mendatang.
Permintaan Dana Tambahan dan Defisit Pasokan
Gedung Putih telah mengajukan dana tambahan sebesar $87,6$ miliar Dolar AS pada Juni lalu. Namun, Kongres AS hingga kini belum menyetujui pengajuan alokasi anggaran khusus perang tersebut.
Departemen Pertahanan AS menolak memberikan tanggapan resmi atas laporan analisis data CBO tersebut. Sementara itu, Inspektur Jenderal Pentagon mencatat terjadi kelangkaan pasokan amunisi strategis militer AS. Oleh sebab itu, militer Amerika Serikat menghadapi ancaman keterbatasan cadangan logistik pertahanan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia













