DEPOK, POSNEWS.CO.ID – Menghadapi potensi banjir dan tanah longsor pada akhir 2026, Polri menyiagakan 305 personel gabungan, kendaraan taktis, peralatan penyelamatan, hingga anjing pelacak K-9.
Kesiapan ini ditujukan untuk mempercepat pencarian korban, evakuasi warga, dan penyaluran bantuan ketika bencana terjadi.
Kakorsabhara Baharkam Polri Irjen Jossy Kusumo mengatakan, ratusan personel tersebut terdiri atas 260 anggota Korsabhara Baharkam Polri, 15 personel Basarnas, 15 petugas pemadam kebakaran, serta 15 personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebanyak 305 personel gabungan disiagakan. Terdiri atas 260 personel Korsabhara Baharkam Polri, 15 personel Basarnas, 15 personel Pemadam Kebakaran, dan 15 personel BPBD,” kata Jossy, Kamis (5/11/2026).
Kesiapan tersebut ditunjukkan melalui Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Antisipasi Bencana Alam 2026 di Mako Korsabhara Baharkam Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (4/11/2026).
Anjing K-9 Disiapkan Cari Korban Tertimbun
Selain personel, Polri menyiapkan sejumlah peralatan khusus untuk menghadapi berbagai kondisi di lokasi bencana.
Salah satunya anjing pelacak K-9 yang memiliki tugas membantu pencarian dan pertolongan (SAR), terutama menemukan korban yang tertimbun material longsor atau reruntuhan.
Polri juga menyiagakan Kuda Turangga untuk mendukung patroli dan distribusi logistik di medan berat maupun wilayah yang sulit dijangkau kendaraan.
Untuk penanganan banjir dan bencana lainnya, petugas menyiapkan kendaraan taktis (Rantis) Karhutla, Rantis SAR, serta Rescue Carrier. Perahu karet juga disediakan untuk membantu evakuasi warga dari kawasan yang terendam banjir.
Sementara itu, Rantis Randurlap dan Watergen disiapkan untuk mendukung kebutuhan logistik serta penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.
BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Desember 2026–Februari 2027
Kesiapsiagaan tersebut sejalan dengan prediksi BMKG mengenai musim hujan 2026/2027. Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.
BMKG memprediksi puncak musim hujan berlangsung secara bertahap pada Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027. Fenomena El Niño sangat kuat turut memengaruhi mundurnya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Berdasarkan prediksi BMKG, sebanyak 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami awal musim hujan lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu mewaspadai potensi hujan lebat yang dapat memicu banjir dan tanah longsor.
Sementara itu, BNPB mencatat 2.285 kejadian bencana di Indonesia hingga 3 November 2026. Penambahan kejadian antara lain banjir di sejumlah daerah, kebakaran hutan dan lahan, serta cuaca ekstrem.
Polri Perkuat Patroli dan Edukasi Mitigasi
Jossy menekankan pentingnya meningkatkan patroli di kawasan rawan bencana. Ia juga meminta jajarannya aktif memberikan edukasi mitigasi kepada masyarakat agar warga memahami langkah penyelamatan ketika terjadi keadaan darurat.
Menurutnya, kecepatan respons harus diimbangi ketepatan tindakan dan koordinasi antarlembaga. Karena itu, setiap proses penanganan maupun evakuasi wajib mengutamakan keselamatan petugas dan masyarakat.
“Dengan tetap mengutamakan keselamatan serta berpedoman pada standar operasional prosedur (SOP),” ujarnya.
Melalui kesiapan personel, satwa pelacak, dan peralatan khusus tersebut, Polri berharap dapat memperkuat respons penanganan bencana.
Namun, kesiapsiagaan juga membutuhkan peran masyarakat, terutama dengan mengenali risiko di lingkungan sekitar, memantau informasi resmi, dan segera mengikuti arahan petugas saat keadaan darurat. **
Editor : Hadwan













