Tumbal Transisi Hijau: Ekonomi Politik di Balik Penutupan Tambang

Sabtu, 8 November 2025 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Melawan logika dominasi. Ekofeminisme mengungkap bahwa pemulihan bumi mustahil tercapai tanpa meruntuhkan struktur patriarki yang mengeksploitasi perempuan dan alam secara bersamaan. Dok: Istimewa.

Melawan logika dominasi. Ekofeminisme mengungkap bahwa pemulihan bumi mustahil tercapai tanpa meruntuhkan struktur patriarki yang mengeksploitasi perempuan dan alam secara bersamaan. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Di panggung global, hampir semua pemimpin dunia sepakat: kita harus segera beralih dari energi fosil (batu bara, minyak) ke energi hijau (surya, angin). Tujuannya jelas, yakni untuk menyelamatkan planet ini dari bencana iklim. Secara teknis dan moral, ini adalah agenda yang tidak bisa ditawar lagi.

Namun, di balik kesepakatan mulia ini, ada satu pertanyaan brutal yang seringkali publik abaikan: Siapa yang harus menanggung biaya sosial dari transisi ini? Siapa yang akan menjadi “tumbal”?

Dilema Pemenang dan Pecundang

Setiap revolusi industri—dan transisi hijau adalah revolusi industri baru—selalu menciptakan “pemenang” dan “pecundang”.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pemenang” baru sudah jelas. Mereka adalah para investor di teknologi panel surya, produsen baterai lithium, perusahaan mobil listrik, dan pemodal ventura yang mendanai green tech.

“Pecundang” lama juga sama jelasnya. Kelompok ini adalah jutaan buruh tambang batu bara, pekerja kilang minyak, dan seluruh komunitas di daerah yang ekonominya bergantung pada industri bahan bakar fosil. Bagi mereka, “transisi hijau” bukanlah kabar baik. Sebaliknya, itu adalah ancaman PHK massal, penutupan pabrik, dan hilangnya mata pencaharian yang telah menghidupi keluarga mereka selama beberapa generasi.

Baca Juga :  Pembunuhan Sadis di Serang, Pembuat Keripik FH Tewas di Hujani 22 Tusukan

Perlawanan ‘Vested Interest’

Inilah alasan utama mengapa reformasi energi hijau sering berjalan sangat lambat, meskipun urgensinya jelas. Pada dasarnya, ini bukan masalah teknis, melainkan masalah politik murni.

Industri bahan bakar fosil adalah salah satu industri dengan kekuatan politik paling mengakar (vested interest) dalam sejarah. Bagaimana tidak, mereka memiliki modal triliunan dolar, lobi yang sangat kuat di parlemen, dan koneksi yang dalam dengan para pembuat kebijakan.

Tentu saja, mereka tidak akan menyerahkan dominasi mereka dengan mudah. Alih-alih diam, mereka akan menggunakan kekuatan politik dan finansial mereka untuk melawan, menunda, atau melemahkan setiap regulasi iklim.

Selain itu, mereka juga sangat efektif dalam memobilisasi perlawanan sosial. Caranya, mereka memanfaatkan ketakutan para buruh yang terancam PHK, meyakinkan mereka bahwa “transisi hijau” adalah agenda “elit kota” yang akan menghancurkan pekerjaan mereka. Kemarahan para buruh tambang ini adalah perlawanan politik yang nyata.

Baca Juga :  Timnas Indonesia vs Irak, Laga Hidup-Mati Penentu Tiket Piala Dunia 2026

Kunci ‘Transisi Berkeadilan’

Pada akhirnya, agenda iklim akan selalu terbentur tembok politik yang kokoh jika gagal menjawab pertanyaan tentang nasib para pecundangnya. Kita tidak bisa menyelamatkan planet ini dengan mengorbankan jutaan pekerjanya.

Oleh karena itu, para aktivis dan ekonom kini mendorong konsep “Just Transition” (Transisi Berkeadilan).

Konsep ini adalah sebuah kerangka kerja yang memastikan bahwa biaya dan manfaat dari ekonomi hijau didistribusikan secara adil. Artinya, negara harus mengalokasikan dana besar untuk pelatihan ulang (retraining) para buruh tambang, memberikan jaminan pensiun dini, dan berinvestasi besar-besaran untuk menciptakan lapangan kerja hijau baru di daerah-daerah yang dulu bergantung pada batu bara.

Tanpa “Transisi Berkeadilan”, agenda iklim akan selamanya terlihat sebagai ancaman, bukan harapan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang
PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran
AntĂ³nio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng
Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan
Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila
Mikrofon Bocor Ungkap Obrolan Spontan Para Pemimpin Dunia
Alysa Liu dan Ilia Malinin Siap Beraksi di Skate America
Aliansi SoftBank dan OpenAI: Perangi Krisis Siber Jepang

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:24 WIB

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Juni 2026 - 15:17 WIB

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:48 WIB

AntĂ³nio Guterres Saksikan Langsung Horor Kekerasan Geng

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:31 WIB

Kapal Perang Rusia Tembakkan Tembakan Peringatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:21 WIB

Donald Trump Sebut Benjamin Netanyahu Gila

Berita Terbaru

Ilustrasi, Misi damai Vatikan di Asia Timur. Kardinal Lazzaro You Heung-sik menyebut Paus Leo XIV siap mengunjungi Korea Utara guna meredakan ketegangan politik regional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Siap Kunjungi Korea Utara jika Pyongyang Mengundang

Rabu, 17 Jun 2026 - 16:24 WIB

Sinergi Tokyo-Washington di G7. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menggelar pertemuan bilateral singkat bersama Presiden AS Donald Trump untuk membahas isu Timur Tengah dan tarif dagang. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

PM Jepang Sanae Takaichi Apresiasi Kesepakatan Damai AS-Iran

Rabu, 17 Jun 2026 - 15:17 WIB