JAKARTA, POSNEWS.CO.ID — Selama berabad-abad, ekonomi klasik berdiri di atas satu asumsi dasar: manusia adalah Homo Economicus. Ini adalah gambaran manusia sebagai makhluk yang murni rasional, selalu logis, memiliki informasi sempurna, dan bertindak hanya untuk memaksimalkan keuntungan pribadinya.
Namun, jika Anda pernah membeli barang saat diskon padahal tidak butuh, menabung di rekening yang salah, atau enggan menjual saham yang merugi, Anda tahu bahwa asumsi itu salah.
Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics) hadir untuk menjembatani kesenjangan ini. Disiplin ilmu ini menggabungkan wawasan dari psikologi dan ekonomi untuk menjelaskan mengapa kita sering membuat keputusan yang tampaknya “irasional”.
Perangkap Pikiran Kita
Ekonomi Perilaku menunjukkan bahwa kita tidak selalu logis karena otak kita menggunakan jalan pintas mental (heuristik) yang dapat mengarah pada kesalahan sistematis atau bias kognitif.
Tiga bias yang paling umum adalah:
- Loss Aversion (Keengganan Rugi): Secara psikologis, rasa sakit akibat kehilangan (misalnya, kehilangan Rp 100.000) terasa jauh lebih kuat daripada kesenangan dari keuntungan yang setara (misalnya, menemukan Rp 100.000). Ini menjelaskan mengapa kita rela memegang saham yang merugi terlalu lama, berharap harganya kembali naik, alih-alih segera menjualnya (cut loss).
- Anchoring (Jangkar Psikologis): Kita sangat bergantung pada informasi pertama yang kita terima. Dalam pemasaran, ini adalah “harga coret”. Sebuah baju yang diberi harga Rp 500.000 lalu didiskon 50% menjadi Rp 250.000 terasa lebih “murah” daripada baju yang sama yang dari awal diberi harga Rp 250.000. Harga Rp 500.000 bertindak sebagai “jangkar” yang memengaruhi persepsi nilai kita.
- Confirmation Bias (Bias Konfirmasi): Kita cenderung mencari informasi yang hanya mendukung keyakinan kita yang sudah ada dan mengabaikan data yang menentangnya. Seorang investor mungkin hanya akan membaca berita baik tentang saham yang ia miliki dan mengabaikan semua peringatan tentang risiko.
Pemasaran, Kebijakan, dan Keuangan
Memahami irasionalitas ini memiliki dampak besar di dunia nyata:
- Pemasaran: Perusahaan menggunakan anchoring (harga diskon), scarcity (stok terbatas!), dan social proof (orang lain juga membeli ini) untuk mendorong penjualan.
- Kebijakan Publik (Nudging): Pemerintah menggunakan “dorongan” (Nudge) untuk memengaruhi perilaku warga secara positif tanpa paksaan. Contohnya, membuat keikutsertaan program dana pensiun menjadi otomatis (opt-out) alih-alih manual (opt-in). Tingkat partisipasi melonjak karena memanfaatkan bias default (pilihan standar).
- Keuangan Pribadi: Mengetahui bias ini dapat membantu kita. Misalnya, dengan mengotomatiskan tabungan atau investasi setiap bulan, kita menghindari bias present bias (lebih menghargai kesenangan saat ini daripada masa depan).
Kahneman dan Thaler
Dua nama paling dominan di bidang ini adalah Daniel Kahneman dan Richard Thaler.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Daniel Kahneman, seorang psikolog, memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi pada tahun 2002 atas karyanya (bersama Amos Tversky) tentang “Teori Prospek”, yang menjelaskan konsep loss aversion. Bukunya, Thinking, Fast and Slow, merangkum temuan-temuan utamanya.
Richard Thaler, yang memenangkan Nobel Ekonomi pada 2017, adalah bapak dari konsep “Nudge”. Ia menunjukkan bagaimana perusahaan dan pemerintah dapat merancang pilihan untuk membantu orang membuat keputusan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.
Menuju Keputusan yang Lebih Baik
Ekonomi Perilaku tidak mengatakan bahwa manusia itu bodoh. Ia hanya mengatakan bahwa kita adalah manusia—yang bisa diprediksi irasionalitasnya.
Dengan memahami faktor-faktor psikologis yang memengaruhi keputusan kita—bahwa kita lebih takut rugi, mudah terjebak pada informasi pertama, dan sulit berubah pikiran—kita bisa mulai merancang sistem yang lebih baik. Baik itu untuk diri kita sendiri (keuangan pribadi yang lebih cerdas) maupun untuk masyarakat (kebijakan publik yang lebih efektif).
Pada akhirnya, Ekonomi Perilaku membantu kita beralih dari bertanya, “Bagaimana seharusnya orang bertindak?” menjadi bertanya, “Bagaimana orang sebenarnya bertindak?”
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia

















