Sportswashing: Alat Diplomasi Pembersih Citra

Minggu, 16 November 2025 - 18:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi, Dari Piala Dunia Qatar hingga Liga Arab Saudi yang bertabur bintang, negara-negara kaya menggunakan olahraga untuk

Ilustrasi, Dari Piala Dunia Qatar hingga Liga Arab Saudi yang bertabur bintang, negara-negara kaya menggunakan olahraga untuk "mencuci" citra buruk mereka di panggung global. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Dalam satu dekade terakhir, kita menyaksikan pergeseran besar dalam dunia olahraga. Tiba-tiba, negara-negara yang jarang terdengar di peta olahraga muncul sebagai kekuatan finansial dominan. Akan tetapi, kritikus menyebut fenomena ini dengan istilah yang sinis: “Sportswashing”.

Pada dasarnya, sportswashing adalah sebuah praktik. Dalam praktik ini, sebuah negara, rezim, atau korporasi menggunakan kemewahan dan popularitas olahraga tingkat tinggi untuk mengalihkan perhatian publik. Tujuannya, agar publik melupakan isu-isu negatif seperti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), korupsi, atau kerusakan lingkungan yang mereka lakukan.

Sebaliknya, mereka ingin membangun citra baru yang positif, modern, dan terbuka.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Membeli Klub dan Menjadi Tuan Rumah

Secara umum, ada dua mekanisme utama yang para pelaku sportswashing gunakan untuk mencapai tujuan mereka:

  1. Membeli Prestise (Akuisisi Klub): Cara paling “murah” adalah membeli tim olahraga yang sudah memiliki sejarah dan basis penggemar global. Contoh paling jelas adalah akuisisi Manchester City oleh Uni Emirat Arab, Paris Saint-Germain (PSG) oleh Qatar, atau Newcastle United oleh Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi. Akibatnya, ketika tim-tim ini sukses, nama negara pemilik ikut terangkat dalam citra positif kesuksesan olahraga.
  2. Menjadi Tuan Rumah (Event Global): Ini adalah langkah yang lebih mahal namun lebih efektif. Dengan menjadi tuan rumah event olahraga terbesar di planet ini—seperti Piala Dunia FIFA atau Olimpiade—sebuah negara secara harfiah mengundang mata seluruh dunia untuk datang. Oleh karena itu, mereka bisa mempamerkan stadion-stadion megah, infrastruktur modern, dan keramahtamahan, sambil mengontrol narasi media selama event berlangsung.
Baca Juga :  Gelembung Transfer Pemain: Sampai Kapan Industri Sepak Bola Bertahan?

Qatar, Saudi, dan Rusia

Beberapa negara telah menjalankan strategi ini dengan sangat agresif:

  • Qatar (Piala Dunia 2022): Meskipun menghadapi kritik keras selama satu dekade terkait isu kematian pekerja migran dan hak-hak LGBTQ+, pada akhirnya, dunia lebih banyak mengingat final dramatis Messi vs. Mbappe daripada catatan HAM Qatar. Ini adalah contoh kesuksesan sportswashing.
  • Arab Saudi (LIV Golf & Liga Pro): Contoh terbaru adalah Arab Saudi. Negara ini secara agresif menggunakan dana kekayaan negaranya (PIF) untuk mengguncang dunia golf (dengan menciptakan LIV Golf) dan membajak bintang-bintang sepak bola (seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, dan Benzema) agar mau bermain di Liga Pro Saudi. Tentu saja, langkah ini dilihat sebagai upaya mengalihkan perhatian global dari citra negatif, termasuk kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
  • Rusia (Olimpiade Sochi 2014): Demikian pula, Presiden Vladimir Putin menggunakan Olimpiade Musim Dingin Sochi 2014 sebagai panggung untuk mempresentasikan citra Rusia yang “kuat” dan “modern”, tepat sebelum ia menganeksasi Krimea.
Baca Juga :  Raja Charles III Dukung Sikap Keras Terhadap Nuklir Iran

Atlet dan Penggemar yang Terjepit

Fenomena ini, tentu saja, menciptakan dilema etis yang pelik bagi para pemangku kepentingan utama olahraga: atlet dan penggemar.

  • Bagi Atlet: Mereka menghadapi pilihan sulit. Apakah mereka harus menolak kontrak bernilai triliunan rupiah (seperti yang beberapa pegolf lakukan pada LIV Golf) atas nama prinsip moral? Atau, apakah mereka harus menerimanya dengan alasan “ini hanya olahraga” atau “karier atlet itu singkat”?
  • Bagi Penggemar: Penggemar juga merasa terjepit. Di satu sisi, mereka hanya ingin menikmati pertandingan dan mendukung tim kesayangan mereka (yang kini memiliki dana tak terbatas). Namun di sisi lain, banyak yang sadar bahwa kegembiraan dan uang yang mereka habiskan secara tidak langsung ikut membersihkan citra rezim yang bermasalah.

Efektivitas Diplomasi Olahraga

Pada akhirnya, sportswashing menunjukkan betapa efektifnya olahraga sebagai alat soft power dan geopolitik di era modern. Ia jauh lebih efektif daripada lobi politik tradisional.

Sebab, olahraga berbicara bahasa yang universal: gairah, drama, heroisme, dan hiburan. Meskipun para aktivis dan jurnalis terus berteriak tentang isu-isu HAM, namun faktanya adalah: ketika gol indah tercipta atau rekor terpecahkan, mayoritas penonton global cenderung melupakan isu-isu gelap yang seharusnya menjadi sorotan utama.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar
Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit
Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15
Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai
Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India
Polisi Tembak Mati Pelaku Penabrakan Minivan Pride
Pelaku Lepaskan Tembakan ke Gedung Konsulat AS
Gelombang Fitur AI Interaktif Ubah Pengalaman Membaca

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 14:00 WIB

El Nino Kuat dan Mandat B50 Indonesia Dorong Penguatan Pasar

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:17 WIB

Pemerintah Minta AS Bebaskan Tarif Impor Minyak Sawit

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:13 WIB

Malaysia Siapkan Peningkatan Campuran Biodiesel B12 dan B15

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:08 WIB

Puncak 15 Pekan: Harga Minyak Sawit Malaysia Melandai

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:04 WIB

Lonjakan Harga Global Tekan Impor Minyak Nabati India

Berita Terbaru

Inovasi tablet ringkas Apple. Bocoran Bloomberg mengungkap kehadiran IP rating tahan air serta layar OLED pada iPad mini mendatang. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

iPad Mini Generasi Baru Bawa Sertifikasi Tahan Air

Kamis, 30 Jul 2026 - 10:31 WIB

Sengkarut rilis game paling dinanti. Rockstar Games mengonfirmasi penukaran kode digital GTA 6 di PS5 terikat aturan region lock ketat, memicu risiko pemblokiran akun. Dok: Istimewa.

TEKNOLOGI

Rockstar Terapkan Region Lock GTA 6 PS5 dan Ancam Gamer

Kamis, 30 Jul 2026 - 10:15 WIB