JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Harga pemain sepak bola telah meledak gila-gilaan. Dalam satu dekade terakhir, terutama sejak rekor transfer Neymar ke PSG (222 juta Euro) pada 2017, harga pemain seolah kehilangan akal sehat.
Dahulu, harga 100 juta Euro adalah angka khusus untuk pemain terbaik dunia di puncak kariernya. Namun, kini, klub-klub rela membayar angka yang sama (bahkan lebih) untuk pemain bertahan atau gelandang muda yang baru menunjukkan potensi (seperti Enzo Fernandez atau Moises Caicedo ke Chelsea).
Akibatnya, banyak pihak bertanya: apakah ini gelembung ekonomi yang tidak berkelanjutan dan siap meledak?
Uang TV, Investor Negara, dan Agen
Tentu saja, inflasi liar ini tidak terjadi tanpa sebab. Secara umum, ada tiga pendorong utama yang menyuntikkan dana secara masif ke dalam industri:
- Hak Siar TV yang Fantastis: Pertama, kontrak hak siar televisi domestik dan global terus memecahkan rekor, terutama untuk liga seperti Liga Premier Inggris. Uang ini mengalir langsung ke kas 20 klub pesertanya. Hal ini memberi mereka daya beli yang luar biasa besar dibandingkan liga lain.
- Masuknya Investor Negara (Sportswashing): Kedua, dan yang paling merusak pasar, adalah masuknya investor yang negara dukung. Seperti yang kita bahas dalam sportswashing, negara (seperti Qatar di PSG, UEA di Man City, dan Arab Saudi di Newcastle) tidak melihat sepak bola sebagai bisnis untuk mencari untung. Sebaliknya, mereka menggunakannya sebagai alat soft power. Oleh karena itu, mereka bersedia membayar harga berapa pun untuk mengamankan talenta (seperti transfer Neymar atau Mbappe). Tindakan ini pada gilirannya merusak standar harga bagi semua pemain lain.
- Peran Agen Super: Terakhir, ada peran “Agen Super”. Agen memiliki insentif finansial langsung untuk memicu perang penawaran. Semakin tinggi harga transfer dan gaji klien mereka, semakin besar potongan komisi yang mereka terima. Maka, mereka secara aktif mendorong perpindahan pemain demi mendapatkan cuan.
Financial Fair Play (FFP) dan Celahnya
Sebenarnya, otoritas sepak bola (UEFA) telah mencoba mengendalikan pengeluaran ini. Mereka memperkenalkan aturan Financial Fair Play (FFP). Secara teori, FFP mengharuskan klub untuk hanya membelanjakan uang sesuai pendapatan operasional mereka.
Akan tetapi, dalam praktiknya, aturan ini penuh celah. Klub-klub yang negara miliki dapat mengakali FFP. Caranya, mereka menggunakan “kesepakatan sponsor” yang telah mereka gembungkan (inflated sponsorship). Kesepakatan ini berasal dari perusahaan-perusahaan yang juga memiliki kaitan dengan negara pemilik (misalnya, maskapai penerbangan nasional).
Meskipun UEFA telah memperketat aturan (menjadi Profit and Sustainability Rules), namun klub-klub kaya selalu menemukan cara baru. Contohnya, mereka menawarkan kontrak amortisasi jangka panjang (misalnya, 8 tahun) untuk menyebar biaya transfer agar terlihat kecil di pembukuan tahunan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kesenjangan Klub Kaya dan Miskin
Dampak paling nyata dari gelembung ini adalah kesenjangan yang semakin melebar. Kini, hanya ada sekelompok kecil “klub super” (sekitar 10-15 tim) yang secara finansial mampu bersaing memperebutkan talenta terbaik.
Sementara itu, klub-klub menengah dan miskin, termasuk klub-klub bersejarah (seperti Ajax), tidak bisa lagi bersaing. Mereka terpaksa menerima nasib sebagai “klub penjual” (feeder clubs). Tugas mereka hanya mengembangkan pemain muda untuk kemudian dijual kepada klub kaya dengan harga tinggi demi bertahan hidup.
Akibatnya, tim yang itu-itu saja semakin mendominasi liga-liga top dan membuatnya tidak kompetitif.
Apakah Gelembung Ini Akan Pecah?
Lalu, apakah gelembung ini akan pecah? Jawabannya mungkin tidak dalam waktu dekat, terutama selama dua faktor utama masih ada.
Selama kontrak hak siar TV terus meningkat, dan selama negara-negara kaya masih melihat sepak bola sebagai alat soft power yang efektif (seperti yang sedang Arab Saudi lakukan dengan Liga Pro-nya), uang akan terus mengalir masuk.
Maka, yang kita saksikan mungkin bukan “pecahnya gelembung” yang kolaps seperti dot-com bubble. Sebaliknya, kita akan menyaksikan inflasi yang terus meroket hingga sepak bola benar-benar menjadi olahraga eksklusif milik para miliarder dan negara. Sementara itu, klub-klub bersejarah lainnya akan jauh tertinggal di belakang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















