Kereta Cepat Spanyol Bertabrakan, 39 Tewas

Selasa, 20 Januari 2026 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jeritan di tengah kegelapan. Kereta Iryo tergelincir dan dihantam kereta Alvia dari arah berlawanan hanya dalam hitungan detik. Roda yang hilang misterius jadi sorotan penyelidik. Dok: Istimewa.

Jeritan di tengah kegelapan. Kereta Iryo tergelincir dan dihantam kereta Alvia dari arah berlawanan hanya dalam hitungan detik. Roda yang hilang misterius jadi sorotan penyelidik. Dok: Istimewa.

CORDOBA/MADRID, POSNEWS.CO.ID – Minggu malam yang tenang berubah menjadi mimpi buruk di Spanyol selatan. Setidaknya 39 orang tewas setelah sebuah kereta berkecepatan tinggi tergelincir, lalu bertabrakan dengan kereta lain yang melaju dari arah berlawanan.

Insiden tragis ini berlangsung di dekat Adamuz, provinsi Cordoba, sekitar 360 km selatan ibu kota Madrid. Sejarah mencatat peristiwa ini sebagai kecelakaan kereta api terburuk di negara tersebut sejak tragedi Santiago de Compostela tahun 2013.

Menteri Transportasi Oscar Puente mengonfirmasi jumlah korban jiwa yang terus bertambah. “Korban tewas telah meningkat menjadi 39 orang dan belum definitif,” ujarnya. Selain itu, kecelakaan ini melukai 122 orang. Saat ini, rumah sakit masih merawat 48 korban, sementara 12 orang lainnya berjuang di ruang perawatan intensif.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Detik-detik Mengerikan

Kesaksian para penyintas menggambarkan suasana horor di dalam gerbong. Seorang wanita muda yang sedang dalam perjalanan kembali ke Madrid menceritakan pengalaman mengerikannya di pusat Palang Merah Adamuz.

“Awalnya, kereta miring ke satu sisi. Kemudian, semuanya menjadi gelap, dan yang saya dengar hanyalah jeritan,” kenangnya dengan trauma. “Ada orang yang baik-baik saja dan ada yang terluka sangat, sangat parah. Anda melihat mereka tepat di depan mata. Sayangnya, Anda tahu mereka akan mati, namun Anda tidak bisa berbuat apa-apa.”

Baca Juga :  Bagaimana Soft Power Budaya Mengatur Ulang Diplomasi?

Operator kereta api milik negara, Renfe, menyatakan bahwa kedua kereta tersebut membawa sekitar 400 penumpang. Operator Iryo dan Alvia mengelola perjalanan kedua kereta naas tersebut.

“Kondisi Aneh” dan Roda yang Hilang

Sementara itu, penyelidikan awal mengungkap detail teknis yang membingungkan. Presiden Renfe, Álvaro Fernandez Heredia, berbicara di radio lokal mengenai penyebab kecelakaan yang terjadi dalam “kondisi aneh”. Ia menegaskan bahwa penyelidik praktis mengesampingkan kesalahan manusia.

Kronologinya berlangsung sangat cepat. Penyelidik menduga Kereta Iryo, yang sedang melaju dari Malaga ke Madrid dengan kecepatan 110 km/jam, kehilangan sebuah roda. Hingga kini, petugas belum menemukan roda tersebut.

Akibatnya, kereta tersebut tergelincir dari rel. Hanya sekitar 20 detik kemudian—waktu yang terlalu singkat bagi masinis untuk mengaktifkan rem darurat—kereta Alvia yang datang dari arah berlawanan dengan kecepatan 200 km/jam menghantam dua gerbong terakhir Iryo atau puing-puing di jalur tersebut.

Baca Juga :  Pemerintah dan Oposisi Jepang Mulai Tarik Janji Potong Pajak Konsumsi

Medan Sulit Hambat Evakuasi

Di sisi lain, operasi penyelamatan berlangsung dramatis dan rumit. Direktur darurat nasional Palang Merah Spanyol mengungkapkan bahwa lokasi kecelakaan sangat terpencil. Lebih buruk lagi, tim penyelamat hanya bisa mengaksesnya melalui jalan satu jalur. Kondisi ini tentu menyulitkan ambulans untuk masuk dan keluar saat membawa korban.

Tragedi ini memaksa Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez membatalkan agenda pentingnya. Oleh karena itu, ia memilih tidak melakukan perjalanan ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Sebaliknya, ia langsung menuju lokasi kecelakaan pada Senin pagi untuk meninjau penanganan korban.

Selain korban jiwa, dampak kecelakaan juga melumpuhkan sistem transportasi. Operator membatalkan lebih dari 200 perjalanan kereta antara Madrid dan wilayah Andalusia selatan—termasuk kota-kota besar seperti Cordoba, Seville, dan Granada—pada hari Senin.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark
Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap
AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal
Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun
Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya
Lebih 202 Ribu Jemaah Indonesia Siap Jalani Puncak Haji Armuzna
Marinir AS Uji HIMARS untuk Tangkal Agresi China
Sopir Diduga Mengantuk, Innova Rombongan DPR RI Hantam Dump Truk

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:57 WIB

Dendam Lama Meledak di Panggung Nikahan, Lansia Tanjung Priok Ditangkap

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 06:55 WIB

Ini Tampang Kecot Rampok Wanita Bogor, Mobil Dijual Murah buat Judol dan Foya-foya

Berita Terbaru

Taylor Swift hingga Matthew McConaughey kini menggunakan hukum merek dagang untuk melindungi wajah dan suara mereka dari kloning kecerdasan buatan. Dok: Istimewa.

ENTERTAINMENT

Selebriti Lawan Deepfake AI dengan Hukum Trademark

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:57 WIB

Pemerintahan Donald Trump mewajibkan warga asing yang mencari izin tinggal tetap (green card) untuk meninggalkan Amerika Serikat dan mengajukan aplikasi dari negara asal mereka. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

AS Wajibkan Pelamar Green Card Ajukan Aplikasi dari Negara Asal

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:36 WIB

Tragedi di kedalaman bumi. Ledakan gas dahsyat di tambang batu bara Liushenyu, China, merenggut setidaknya 90 nyawa, memicu seruan Presiden Xi Jinping untuk memperketat standar keselamatan kerja nasional. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Ledakan Gas Tewaskan 90 Pekerja, Bencana Terburuk dalam 17 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026 - 07:33 WIB