Demam Blind Box: Mengapa Kita Rela Antre dan Habiskan Jutaan Demi Boneka Labubu?

Jumat, 21 November 2025 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antrean mengular demi boneka Labubu atau Sonny Angel bukan pemandangan aneh lagi. Mengapa kita kecanduan membeli

Antrean mengular demi boneka Labubu atau Sonny Angel bukan pemandangan aneh lagi. Mengapa kita kecanduan membeli "kucing dalam karung"? Simak psikologi di baliknya. Dok: Istimewa.

JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemandangan ganjil kini sering menghiasi pusat perbelanjaan mewah di ibu kota. Ratusan anak muda rela berdiri berjam-jam dalam antrean panjang yang mengular.

Mereka bukan sedang menunggu pembagian sembako gratis. Sebaliknya, mereka justru hendak menghamburkan uang jutaan rupiah. Tujuan mereka satu: mendapatkan kotak misterius berisi boneka Labubu, Sonny Angel, atau karakter Pop Mart lainnya.

Fenomena ini telah menciptakan pasar sekunder yang gila-gilaan. Bayangkan saja, harga satu gantungan kunci Labubu bisa melonjak hingga lima kali lipat di tangan para reseller. Lantas, apa yang sebenarnya membuat kita begitu terobsesi membeli “kucing dalam karung”?

Sensasi Judi Lewat “Variable Rewards”

Jawabannya ternyata bersembunyi di dalam otak kita. Mekanisme blind box bekerja persis seperti mesin slot di kasino. Psikologi menyebutnya sebagai konsep Variable Rewards atau imbalan yang tidak pasti.

Kita membeli kotak tanpa tahu isinya. Saat tangan kita mulai merobek bungkus kemasan, otak seketika melepaskan zat kimia bernama dopamin.

Baca Juga :  Trump Beri Ultimatum 48 Jam, Iran Ancam Balas Infrastruktur Regional

Zat ini memicu sensasi kenikmatan dan rasa penasaran yang intens. Akibatnya, kita menjadi ketagihan mengejar sensasi kejutan tersebut. Kita tidak hanya membeli bonekanya, tetapi kita membeli rasa berdebar saat membuka kotaknya.

Jebakan “Secret Item” dan Efek Kelangkaan

Produsen mainan sangat paham cara memanipulasi perilaku konsumen. Oleh sebab itu, mereka menyisipkan “Secret Item” atau varian langka dalam setiap seri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rasio untuk mendapatkan boneka rahasia ini sangat kecil, mungkin hanya satu berbanding seratus. Nahasnya, hal ini justru memicu efek kelangkaan yang kuat. Kolektor merasa “gatal” jika serinya belum lengkap.

Alhasil, mereka terus membeli kotak demi kotak secara impulsif. Rasa takut ketinggalan atau FOMO (Fear of Missing Out) memaksa mereka untuk terus berburu hingga dompet menipis.

Boneka Plastik sebagai Simbol Status Baru

Di sisi lain, fenomena ini bukan sekadar hobi mengoleksi mainan lucu. Gen Z telah mengubah boneka-boneka ini menjadi simbol status sosial baru.

Baca Juga :  Ruko di Ancol Digerebek, Diduga Edarkan Nampan MBG Palsu Bertanda SNI

Menggantung Labubu di tas bermerek atau memajang deretan Sonny Angel di meja kerja adalah sebuah pernyataan. Secara tidak langsung, mereka ingin menunjukkan kemampuan finansial dan selera tren mereka kepada dunia.

Media sosial memperparah kondisi ini. Pasalnya, konten unboxing di TikTok atau pamer koleksi di Instagram memicu validasi sosial yang masif. Kita membeli boneka tersebut agar bisa ikut serta dalam percakapan viral di dunia maya.

Paradoks Ekonomi di Tengah Ketidakpastian

Pada akhirnya, demam blind box menyajikan sebuah paradoks ekonomi yang menarik. Kita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk boneka plastik di tengah isu resesi dan ketidakpastian ekonomi.

Mainan ini mungkin memberikan pelarian sesaat dari tekanan hidup yang berat. Namun, kita perlu waspada. Jangan sampai sensasi sesaat membuka kotak misteri justru menciptakan kotak masalah baru bagi kondisi finansial kita di masa depan.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung
Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total
Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya
PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa
Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran
Hery Susanto Resmi Ditahan Kejagung, Terseret Kasus Korupsi Nikel Rp1,5 Miliar
Bagaimana Perang Iran Memperkokoh Hegemoni Energi Hijau Tiongkok
Bareskrim Bongkar Jaringan Narkoba via Ojol, Lab Vape Etomidate di Jaktim Digerebek

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 18:20 WIB

Pemerintah AS Siap Kembalikan Dana Tarif $166 Miliar Pasca-Putusan Mahkamah Agung

Kamis, 16 April 2026 - 17:13 WIB

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 April 2026 - 16:31 WIB

Operasi Ikan Sapu-Sapu DKI Jakarta Digelar Serentak Jumat Pagi, Ini 5 Lokasinya

Kamis, 16 April 2026 - 16:04 WIB

PBB Kucurkan Dana Darurat Saat Korban Perang Iran Tembus 2.360 Jiwa

Kamis, 16 April 2026 - 15:21 WIB

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Berita Terbaru

Runtuhnya era Orban. Partai oposisi Tisza pimpinan Peter Magyar meraih kemenangan telak dalam pemilu Hungaria 2026, mengakhiri kekuasaan panjang Viktor Orban dan menjanjikan kembalinya aliansi kuat dengan Uni Eropa serta NATO. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Peter Magyar Tuntut Presiden Sulyok Mundur guna Reset Total

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:13 WIB

Mencari kesatuan ekonomi. Para pemimpin keuangan G7 berkumpul di Washington guna menghadapi lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global akibat blokade Selat Hormuz yang masih berlanjut di tahun 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Menteri Keuangan G7 Cari Solusi atas Dampak Perang Iran

Kamis, 16 Apr 2026 - 15:21 WIB