JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pemandangan ganjil kini sering menghiasi pusat perbelanjaan mewah di ibu kota. Ratusan anak muda rela berdiri berjam-jam dalam antrean panjang yang mengular.
Mereka bukan sedang menunggu pembagian sembako gratis. Sebaliknya, mereka justru hendak menghamburkan uang jutaan rupiah. Tujuan mereka satu: mendapatkan kotak misterius berisi boneka Labubu, Sonny Angel, atau karakter Pop Mart lainnya.
Fenomena ini telah menciptakan pasar sekunder yang gila-gilaan. Bayangkan saja, harga satu gantungan kunci Labubu bisa melonjak hingga lima kali lipat di tangan para reseller. Lantas, apa yang sebenarnya membuat kita begitu terobsesi membeli “kucing dalam karung”?
Sensasi Judi Lewat “Variable Rewards”
Jawabannya ternyata bersembunyi di dalam otak kita. Mekanisme blind box bekerja persis seperti mesin slot di kasino. Psikologi menyebutnya sebagai konsep Variable Rewards atau imbalan yang tidak pasti.
Kita membeli kotak tanpa tahu isinya. Saat tangan kita mulai merobek bungkus kemasan, otak seketika melepaskan zat kimia bernama dopamin.
Zat ini memicu sensasi kenikmatan dan rasa penasaran yang intens. Akibatnya, kita menjadi ketagihan mengejar sensasi kejutan tersebut. Kita tidak hanya membeli bonekanya, tetapi kita membeli rasa berdebar saat membuka kotaknya.
Jebakan “Secret Item” dan Efek Kelangkaan
Produsen mainan sangat paham cara memanipulasi perilaku konsumen. Oleh sebab itu, mereka menyisipkan “Secret Item” atau varian langka dalam setiap seri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rasio untuk mendapatkan boneka rahasia ini sangat kecil, mungkin hanya satu berbanding seratus. Nahasnya, hal ini justru memicu efek kelangkaan yang kuat. Kolektor merasa “gatal” jika serinya belum lengkap.
Alhasil, mereka terus membeli kotak demi kotak secara impulsif. Rasa takut ketinggalan atau FOMO (Fear of Missing Out) memaksa mereka untuk terus berburu hingga dompet menipis.
Boneka Plastik sebagai Simbol Status Baru
Di sisi lain, fenomena ini bukan sekadar hobi mengoleksi mainan lucu. Gen Z telah mengubah boneka-boneka ini menjadi simbol status sosial baru.
Menggantung Labubu di tas bermerek atau memajang deretan Sonny Angel di meja kerja adalah sebuah pernyataan. Secara tidak langsung, mereka ingin menunjukkan kemampuan finansial dan selera tren mereka kepada dunia.
Media sosial memperparah kondisi ini. Pasalnya, konten unboxing di TikTok atau pamer koleksi di Instagram memicu validasi sosial yang masif. Kita membeli boneka tersebut agar bisa ikut serta dalam percakapan viral di dunia maya.
Paradoks Ekonomi di Tengah Ketidakpastian
Pada akhirnya, demam blind box menyajikan sebuah paradoks ekonomi yang menarik. Kita rela menghabiskan jutaan rupiah untuk boneka plastik di tengah isu resesi dan ketidakpastian ekonomi.
Mainan ini mungkin memberikan pelarian sesaat dari tekanan hidup yang berat. Namun, kita perlu waspada. Jangan sampai sensasi sesaat membuka kotak misteri justru menciptakan kotak masalah baru bagi kondisi finansial kita di masa depan.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia





















