Influencer Tone Deaf: Pamer Kemewahan di Tengah Jeritan Kelas Menengah

Minggu, 23 November 2025 - 14:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Flexing jet pribadi saat rakyat antre sembako? Influencer

Flexing jet pribadi saat rakyat antre sembako? Influencer "tone deaf" kini jadi musuh bersama. Simak bahaya hilangnya empati elit di tengah krisis. Dok: Istimewa.

JAKARTA – Lini masa media sosial belakangan ini terasa sangat panas. Kemarahan publik meledak bak gunung berapi. Penyebabnya, perilaku segelintir figur publik yang memamerkan gaya hidup hedonis tanpa sedikit pun rasa empati.

Mereka mengunggah foto duduk manis di dalam jet pribadi mewah. Atau, mereka memamerkan bon pembelian roti seharga gaji bulanan buruh. Padahal, di saat yang sama, mayoritas rakyat sedang menjerit tercekik kenaikan harga bahan pokok dan ancaman PHK.

Ketidakmampuan membaca situasi ini kita kenal sebagai perilaku tone deaf atau tuna nada sosial. Seketika, para pemuja gaya hidup mewah ini berubah menjadi sasaran tembak kritik netizen.

Dari Kekaguman Menjadi “Eat the Rich”

Psikologi massa telah mengalami pergeseran drastis. Dulu, konten pamer kekayaan atau flexing sering mendapat tepuk tangan kekaguman. Netizen menganggapnya sebagai “motivasi sukses”.

Baca Juga :  Kapolri Cek Kesiapan Arus Mudik di Tol Kalikangkung, Siapkan Rekayasa Lalu Lintas Nasional

Namun, angin kini berembus ke arah sebaliknya. Kekaguman itu berubah menjadi kebencian yang mendalam. Pasalnya, publik merasa muak melihat parade kemewahan di atas penderitaan orang lain.

Akibatnya, sentimen eat the rich atau perlawanan terhadap kaum elit menggema keras di kolom komentar. Masyarakat tidak lagi melihat kekayaan mereka sebagai inspirasi, melainkan sebagai bentuk ketidakadilan sistemik.

Cermin Retak Kesenjangan Sosial

Fenomena ini sebenarnya adalah cermin retak dari realitas bangsa kita. Faktanya, jurang kesenjangan ekonomi semakin melebar tak terkendali.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Satu pihak bingung memikirkan cara menghabiskan uang yang tak berseri. Sebaliknya, pihak lain justru bingung mencari uang hanya untuk makan hari ini.

Ketimpangan yang mencolok ini melukai rasa keadilan masyarakat. Pameran kemewahan influencer seolah menampar wajah kelas menengah yang sedang berjuang mati-matian untuk bertahan hidup.

Baca Juga :  Demo Ojol di Kedubes AS Dijaga Polisi, Polda Metro Jaya Bagi Logistik ke Massa

Tuntutan Empati dan Sensitivitas Sosial

Oleh karena itu, standar etika digital kini berubah. Menjadi kaya raya bukanlah sebuah dosa. Akan tetapi, memamerkannya tanpa sensitivitas sosial (social sensitivity) adalah tindakan yang tuna etika.

Publik menuntut empati nyata dari para pembuat konten. Influencer wajib membaca situasi atau read the room sebelum menekan tombol unggah. Jangan sampai konten mereka justru menambah beban mental pengikutnya.

Bahaya Elit yang Menutup Mata

Pada akhirnya, ketulian sosial ini menyimpan bahaya besar. Jika kaum elit terus menutup mata dan telinga terhadap realitas mayoritas, gejolak sosial hanya tinggal menunggu waktu.

Kita tidak bisa membiarkan empati mati demi algoritma. Hentikan pameran kemewahan yang menyakitkan hati. Mulailah membangun jembatan kepedulian sebelum jurang pemisah ini menelan kita semua.

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Polisi Terapkan Pengamanan Humanis saat May Day 2026 di Jakarta – Kerahkan 24 Ribu Personel
Operasi Senyap! 16 WNA Pelaku Love Scamming Diciduk Imigrasi di Resort Sukabumi
Pemerintah Bentuk Tim Asesor, Natalius Pigai Pastikan Aktivis HAM Tak Mudah Dipidana
Teror Senjata Api di Dekai Yahukimo, Polisi Sisir Kota Buru Pelaku
Sindikat Haji Ilegal Diburu, Satgas Haji 2026 Ungkap Fakta Mengejutkan
Tragis! Mobil Dinas Pejabat Pandeglang Tabrak Siswa SD, 1 Tewas dan 8 Luka
Diplomasi Telepon Trump-Putin: Usulan Gencatan Senjata
Bareskrim Bongkar Modus Haji Instan, Jamaah Dikirim Pakai Visa Tenaga Kerja

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 20:57 WIB

Polisi Terapkan Pengamanan Humanis saat May Day 2026 di Jakarta – Kerahkan 24 Ribu Personel

Kamis, 30 April 2026 - 20:33 WIB

Operasi Senyap! 16 WNA Pelaku Love Scamming Diciduk Imigrasi di Resort Sukabumi

Kamis, 30 April 2026 - 20:06 WIB

Pemerintah Bentuk Tim Asesor, Natalius Pigai Pastikan Aktivis HAM Tak Mudah Dipidana

Kamis, 30 April 2026 - 19:53 WIB

Teror Senjata Api di Dekai Yahukimo, Polisi Sisir Kota Buru Pelaku

Kamis, 30 April 2026 - 18:53 WIB

Sindikat Haji Ilegal Diburu, Satgas Haji 2026 Ungkap Fakta Mengejutkan

Berita Terbaru