Jerman dan EU Tekan Belgia Soal Aset Beku Rusia demi Ukraina

Jumat, 5 Desember 2025 - 15:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nampak kantor European Commission. Dok: Istimewa.

Nampak kantor European Commission. Dok: Istimewa.

BRUSSELS, POSNEWS.CO.ID – Suasana makan malam di Brussels pada Jumat (05/12/2025) pasti tidak akan berjalan santai. Tiga pemimpin kunci Eropa berkumpul dalam pertemuan darurat. Mereka mempertaruhkan nasib Ukraina dan kredibilitas benua itu sendiri di atas meja makan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen duduk satu meja dengan Perdana Menteri Belgia, Bart De Wever. Tujuannya satu, mereka ingin menyelamatkan rencana pendanaan vital bagi Kyiv yang sedang sekarat.

Uni Eropa (EU) berencana menggalang dana sebesar €90 miliar (sekitar Rp1.500 triliun). Dana ini akan menopang Ukraina hingga 2027. Rencananya, mereka akan menggunakan aset negara Rusia yang membeku sebagai jaminan pinjaman tersebut.

Masalahnya, Euroclear menyimpan sebagian besar aset senilai €290 miliar tersebut di Belgia. Akibatnya, persetujuan Belgia menjadi kunci mutlak bagi keberhasilan rencana ini.

Belgia Takut “Dendam Abadi” Rusia

Perdana Menteri Bart De Wever mengambil posisi yang sangat jelas dan keras. Ia menolak mentah-mentah skema tersebut. Baginya, menggunakan aset beku milik negara lain sama saja dengan mencuri.

“Mencuri dari orang jahat untuk diberikan kepada orang baik adalah ide yang bagus. Namun, mencuri aset beku negara lain belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar De Wever dalam sebuah acara di Brussels.

Baca Juga :  Ke Mana Perginya Kanguru 3 Meter dan Kadal Sebesar Gajah?

Brussel sangat takut akan pembalasan Rusia. De Wever mengklaim Moskow telah mengirim pesan ancaman. Konon, Belgia akan merasakan dampaknya “selamanya” jika mereka menyita aset tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami tidak bisa menerima jika harus menanggung risiko operasi semacam itu sendirian,” tambah Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime PrĂ©vot.

Jerman: Ini Soal Kemerdekaan Eropa

Di sisi lain meja, Kanselir Jerman Friedrich Merz datang membawa argumen geopolitik yang tajam. Merz menulis opini di harian Frankfurter Allgemeine Zeitung. Di sana, ia memperingatkan bahwa keputusan hari ini akan menentukan masa depan Eropa.

Merz melabeli Rusia sebagai kekuatan imperialis. Menurutnya, Moskow sedang mempersiapkan konflik militer dengan Barat. Oleh karena itu, Eropa harus mengirimkan sinyal tegas. Caranya adalah dengan menggunakan sumber daya finansial agresor.

“Kita tidak boleh membiarkan negara non-Eropa memutuskan nasib sumber daya keuangan agresor. Padahal, kita telah membekukannya secara sah di wilayah hukum kita,” tegas Merz.

Baca Juga :  Penjajahan Gaya Baru: Teori Sistem Dunia dan Kesenjangan

Ia mencoba menenangkan Belgia dengan jaminan solidaritas. Menurutnya, seluruh anggota EU harus menanggung risiko hukum bersama secara adil. Pembagian beban akan bergantung pada kinerja ekonomi masing-masing negara.

Berpacu dengan Waktu dan Washington

Faktor eksternal semakin memperberat tekanan terhadap Eropa. Pasalnya, Rusia mengintensifkan serangan di medan perang. Sementara itu, Washington di bawah Presiden Trump terus mendorong kesepakatan damai. Sayangnya, kesepakatan itu cenderung menguntungkan Moskow.

Jika Eropa gagal menyepakati pendanaan ini, Ukraina akan segera kehabisan uang. Imbasnya, posisi tawar Kyiv di meja perundingan akan hancur lebur.

Ursula von der Leyen sebenarnya menawarkan opsi alternatif. Ia mengusulkan pinjaman bersama (joint borrowing) menggunakan anggaran EU. Sayangnya, opsi ini juga sulit. Sebab, langkah ini membutuhkan kesepakatan bulat, dan Hungaria sering kali menjegal upaya semacam itu.

Kini, nasib bantuan Ukraina bergantung pada lobi meja makan ini. Apakah Belgia akan luluh demi solidaritas Eropa? Atau, ketakutan akan hukum dan balas dendam Rusia justru akan memenangkan perdebatan?

Penulis : Ahmad Haris Kurnia

Editor : Ahmad Haris Kurnia

Sumber Berita: The Guardian

Follow WhatsApp Channel www.posnews.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam
Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?
Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer
Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global
Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21
Mengapa Isu Perubahan Iklim Menjadi Alat Tawar Politik Baru?
Kematian Dunia Menurun, Namun Nigeria dan Kongo Catat Rekor Kelam
ICE Tahan Ibu dan Anak Autis Kanada Meski Dokumen Legal

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 15:11 WIB

Mendorong Ecocide ke Dalam Statuta Roma dan Memburu Korporasi Perusak Alam

Senin, 23 Maret 2026 - 14:22 WIB

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Maret 2026 - 13:23 WIB

Sekuritisasi Perubahan Iklim: Ketika Kerusakan Alam Menjadi Ancaman Militer

Senin, 23 Maret 2026 - 12:20 WIB

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Maret 2026 - 11:12 WIB

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Berita Terbaru

Lebih dari sekadar emisi. Perspektif Teori Kritis memandang krisis iklim sebagai manifestasi ketidakadilan sejarah, di mana negara berkembang menanggung beban bencana atas kemakmuran yang dinikmati negara maju. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Mengapa Keadilan Iklim Adalah Isu Etika Paling Krusial Tahun 2026?

Senin, 23 Mar 2026 - 14:22 WIB

Ilustrasi, Wajah baru kolonialisme? Perspektif Marxisme memandang agenda lingkungan global sebagai alat tawar negara maju (Utara) untuk menghambat industrialisasi dan memperpanjang ketergantungan negara berkembang (Selatan). Dok: Istimerwa.

INTERNASIONAL

Menakar Kritik Negara Selatan terhadap Standar Lingkungan Global

Senin, 23 Mar 2026 - 12:20 WIB

Perebutan urat nadi kehidupan. Geopolitik air kini menjadi medan tempur baru bagi negara-negara yang bersaing memperebutkan kedaulatan sumber daya di tengah ancaman kekeringan global 2026. Dok: Istimewa.

INTERNASIONAL

Membedah Geopolitik Sungai Lintas Batas di Abad ke-21

Senin, 23 Mar 2026 - 11:12 WIB