JAKARTA, POSNEWS.CO.ID – Pernahkah Anda merasa mulas saat gugup sebelum presentasi? Atau mungkin Anda merasakan “kupu-kupu di perut” saat jatuh cinta? Sensasi fisik ini bukan sekadar kiasan puitis.
Sains modern membuktikan bahwa perut dan otak kita terhubung lewat jalur komunikasi super cepat. Faktanya, para ilmuwan kini menyebut usus sebagai “otak kedua” manusia.
Hubungan biologis ini memiliki nama resmi: Gut-Brain Axis atau poros usus-otak. Ternyata, kondisi pencernaan Anda memegang kendali penuh atas suasana hati dan kesehatan mental Anda sehari-hari.
Pabrik Hormon Bahagia
Bagaimana usus bisa mengatur perasaan kita? Jawabannya terletak pada triliunan bakteri mikroskopis yang hidup di dalam perut kita.
Bakteri-bakteri ini bekerja keras memproduksi zat kimia penting bernama neurotransmitter. Salah satunya adalah serotonin, hormon yang mengatur rasa bahagia dan tenang.
Kita sering mengira serotonin berasal dari otak. Padahal, penelitian menunjukkan fakta mengejutkan. Sekitar 95 persen pasokan serotonin tubuh justru berasal dari sel-sel di saluran pencernaan. Oleh karena itu, usus yang sehat akan mengirimkan sinyal bahagia ke otak melalui saraf vagus.
Disbiosis: Sumber Kecemasan
Sebaliknya, apa yang terjadi jika ekosistem bakteri usus rusak? Kondisi ini bernama disbiosis, yakni ketidakseimbangan antara bakteri baik dan jahat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pola makan buruk, stres, atau penggunaan antibiotik berlebihan sering menjadi pemicu utamanya. Akibatnya, produksi hormon bahagia terganggu.
Usus yang meradang akan mengirim sinyal bahaya ke otak. Lantas, seseorang bisa mengalami gangguan kecemasan (anxiety) atau bahkan depresi tanpa alasan yang jelas. Singkatnya, perut yang “sedih” akan menciptakan otak yang “murung”.
Makanan Fermentasi sebagai Obat
Kabar baiknya, kita bisa memperbaiki kondisi ini lewat piring makan kita. Solusi utamanya adalah mengonsumsi probiotik dan prebiotik.
Probiotik adalah bakteri hidup yang menguntungkan. Kita bisa menemukannya dalam makanan fermentasi seperti yogurt, kimchi, tempe, atau kombucha. Sementara itu, prebiotik adalah serat makanan yang berfungsi sebagai “bahan bakar” bagi bakteri baik tersebut.
Mengonsumsi sayuran berserat tinggi, bawang putih, dan pisang akan membuat bakteri baik berkembang biak dengan subur. Dengan begitu, pabrik serotonin akan kembali beroperasi normal.
Jaga Perut, Jaga Kewarasan
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental tidak melulu soal terapi psikologis atau meditasi. Kita sering melupakan aspek biologis yang paling dasar.
Mulailah memperhatikan apa yang masuk ke dalam mulut Anda. Ingatlah, menjaga perut tetap bahagia adalah langkah pertama dan termudah untuk mendapatkan pikiran yang tenang.
Penulis : Ahmad Haris Kurnia
Editor : Ahmad Haris Kurnia


















